Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil melangkah mulus ke babak kedua BCA Indonesia Open Superrseries Premier 2016 dengan membekuk pasangan ganda Australia di Istora Senayan, Selasa petang (31/5).

Gulalives.co, RIO – Akhirnya, pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, sukses mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia yang sempat meredup di pentas Olimpiade. Pada Olimpiade Rio De Janeiro 2016, Tontowi/Liliyana merebut medali emas usai mengalahkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/ Goh Liu Ying dengan dua set langsung 21-14 dan 21-12, Rabu (17/8).

Kesuksesan pasangan yang karib disapa Owi/Butet ini bak mata air di tengah gurun pasir tandus. Sudah cukup lama Indonesia menahan dahaga prestasi emas di Olimpiade, yakni selama 8 tahun.

Lagu Indonesia Raya berkumandang di Riocentro Pavilion 4, Rio De Janeiro, tepat pada Hari Ulang Tahun ke-71 Republik Indonesia. Bendera Merah Putih turut berkibar mengiringi keberhasilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih medali emas Olimpiade Rio 2016.

Itulah medali emas satu-satunya yang diraih Indonesia di Olimpiade Rio 2016, sekaligus yang pertama sejak ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan meraihnya pada Olimpiade Beijing 2008.

Keberhasilan pasangan yang akrab disapa Owi/Butet itu meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 sekaligus dihiasi beragam hal menarik. Namun, setidaknya ada 7 fakta unik yang patut diketahui dari sukses tersebut.

Berkat raihan medali emas Tontowi/Liliyana, lagu Indonesia Raya berkumandang di Olimpiade Rio 2016 bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebelumnya, Liliyana meraih medali perak Olimpiade Beijing 2008 bersama Nova Widianto, juga pada 17 Agustus.

Dengan demikian, rekor baru pun tercipta, bahwa Indonesia baru pertama kali menyumbang emas dari sektor ganda campuran melalui Tontowi/Liliyana. Sebelumnya, emas sudah pernah diraih satu dari tunggal putra, satu dari tunggal putri, dan 3 dari ganda putra. Tinggal sektor ganda putri yang belum pernah menyumbang medali emas olimpiade untuk Indonesia.

Owi dan Butet pun menjadi pasangan peraih emas dari latar belakang suku dan agama berbeda setelah Ricky Subagja/Rexy Mainaky (Olimpiade Atlanta 1996), Markis Kido/Hendra Setiawan (Olimpiade Beijing 2008). Owi beragama Islam dan bersuku Jawa, sedangkan Butet merupakan penganut Katolik beretnik Tionghoa.

Penantian panjang

Sebelum Olimpiade Rio De Janerio 2016, sektor tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putra telah menyumbang medali emas untuk Indonesia, tapi belum untuk ganda campuran dan ganda putri. Padahal, sektor ganda campuran merupakan salah satu yang paling bersinar di bulu tangkis Indonesia.

Berbagai gelar penting seperti Juara Dunia, All England, sudah pernah diraih para wakil ganda campuran Indonesia. Akan tetapi, deretan pencapaian ini terasa belum lengkap tanpa raihan medali emas di arena olimpiade. 

Dua wakil ganda campuran Indonesia selalu diadang lawan pada final olimpiade. Di Olimpiade Sydney 2000, pasangan Tri Kusharjanto/Minarti Timur dikalahkan oleh Zhang Jun/Gao Ling (Tiongkok). Sementara, Liliyana yang berpasangan dengan Nova Widianto di Olimpiade Beijing 2008, gagal meraih emas setelah di partai puncak takluk dari Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (Korea Selatan).

Munculnya duet Tontowi/Liliyana membuat pasangan ini menjadi harapan baru usai Nova pensiun setelah olimpiade. Prestasi cemerlang sepanjang 2011-2012 ternyata belum mengantarkan pasangan dari klub Djarum ini menuju emas olimpiade di London 2012.

Ternyata buah kerja keras Tontowi/Liliyana terbayar di Olimpiade Rio 2016. Tontowi/Liliyana sukses merebut emas dengan mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia), di final, dengan skor 21-14, 21-12.

Penampilan Tontowi/Liliyana di stadion Riocentro Pavilion 4 memang luar biasa. Sejak babak penyisihan, Tontowi/Liliyana bahkan tak pernah kehilangan satu set pun.

Padahal, sejatinya Indonesia memiliki tradisi selalu meraih medali emas sejak cabang olahraga bulu tangkis diperlombakan dalam multievent olahraga terakbar sedunia itu pada 1992.

Pada Olimpiade Barcelona 1992, Susy Susanti mengharumkan nama bangsa di pentas dunia setelah menjadi peraih medali emas pertama untuk Indonesia. Susy meraih emas setelah mengalahkan tunggal putri Korea Selatan, Bang Soo-hyun di final.

Sukses Susy diikuti kekasihnya yang kini jadi suaminya pada sektor tunggal putra, Alan Budikusuma, yang merebut medali emas kedua usai menumbangkan sesama pebulu tangkis Indonesia, Ardy B. Wiranata di partai puncak. Di Barcelona 1992, Indonesia membawa pulang 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu dari bulu tangkis. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY