Gambar via: www.theodysseyonline.com

GULALIVES.co, Depok- Indonesia telah merdeka lebih dari 70 tahun. Tidak hanya terbebas dari jajahan bangsa asing, salah satu makna kemerdekaan negara ini juga dapat dimaknai oleh para seniman yang dapat bebas berkaya. Begitu pula seniman yang menuangkan karya seninya lewat film. Tak sedikit film karya anak bangsa yang begitu dikagumi oleh masyarakat luar. Entah dalam durasi yang panjang maupun pendek tidak jadi masalah untuk para sineas Indonesia untuk menuangkan cerita yang mencerminkan kehidupan di Indonesia. Mereka tak segan menampilkan ke-khasan tanah air yang hanya ada di atas bumi pertiwi Indonesia entah itu keindahan alamnya, budaya, adat dan istiadat, hingga dinamika masyarakatnya. Berikut adalah segelintir film-film karya anak bangsa yang “Indonesia banget”!

  1. Gie

Film Indonesia Gie
Gie, merupakan film wajib tonton mahasiswa Indonesia. Gambar via: id.wikipedia.org

Tayang  : 2005

Pemain : Nicholas Saputra, Wulan Guritno, Indra Birowo, Lukman Sardi

Gie (Nicholas Saputra) merupakan mahasiswa Universitas Indonesia yang berdarah Tiongkok. Ia hidup di era 60-an dimana waktu itu Indonesia memang sudah merdeka, tetapi apa benar Indonesia telah benar-benar “merdeka”? Sepuluh tahun lebih Indonesia dinyatakan merdeka, namun di era 60-an merupakan masa-masa kelam masyarakat Indonesia. Masih saja terjebak dalam kemiskinan ditambah kisruh antara Presiden Soekarno dan PKI yang membuat penderitaan rakyat Indonesia makin tak berujung.

Gie menunjukan bahwa mahasiswa bisa menjadi front liner dalam perubahan bangsa ke kehidupan yang lebih baik. Ia tak segan-segan mengkritik Presiden Soekarno yang saat itu sedang diagung-agungkan. Baginya, pemerintahan Soekarno bersifat ditaktor sehingga membuat rakyat kecil makin terinjak-injak.

Film diangkat dari novel berjudul Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran dengan semboyannya yang terkenal, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan” dengan jelas menyurat pada Gie yang tak kenal takut dalam mengkritisi pemerintahan yang bobrok kala itu. Anda akan merasakan bagaiamana menyedihkannya kehidupan bangsa, dan peran mahasiswa yang kini sulit dilihat lagi, yakni menjadi garis depan membela hak rakyat kecil yang diremehkan penguasa.

  1. Berbagi Suami

Film Nasional Berbagi Suami
Realitas poligami diangkat dalam film Berbagi Suami. Gambar via: www.cinematerial.com

Tayang  : 2006

Pemain : Jajang C. Noer, Shanty, Rieke Diah Pitaloka, Dominique Diyose

Tidak ada wanita yang hidupnya ingin dimadu, namun bagaimana jika dimadu dengan pria yang dicintainya adalah sebuah bagian dari takdir. Bertemu dengan Salma (Jajang C.Noer), seorang dokter yang hidupnya hampir sempurna hingga ia menemukan suaminya, Pak Haji Imron (El Manik) ternyata gemar melakukan poligami. Dimulai dari satu orang istri muda namun kian bertambah hingga empat istri muda.

Lain cerita dengan Siti (Shanty) seorang gadis Jawa polos yang datang ke ibukota berharap untuk memulai hidup baru. Ia tinggal dengan Pak Liknya (Lukman Sardi) yang juga tinggal satu atap bersama Sri (Ria Irawan) dan Sri (Rieke Diah Pitaloka). Siti lalu diajak berpoligami dan tinggal satu atap bersama dengan dua istri lainnya. Namun di belakang Pak Lik, Siti memulai hubungan terlarang.

Terakhir adalah Ming (Dominiqie Diyose) gadis cantik keturunan Tiong Hoa yang rela dijadikan istri simpanan oleh atasannya supaya ia hidup nyaman. Film ini awalnya sempat membuat masyarakat geleng kepala karena mengambil tema film yang tak biasa, yakni poligami. Namun, Nia Dinata mengemasnya sebegitu realistis sehingga penonton tak bisa memungkiri bahwa inilah kenyataan pahit soal praktik poligami di Indonesia.

  1. Nagabonar Jadi 2

Film nasional Nagabonar Jadi 2
Apa kata dunia? Gambar via: id.wikipedia.org

Tayang  : 2007

Pemain : Tora Sudiro, Deddy Mizwar, Wulan Guritno

Untuk generasi masa kini, Naga Bonar hanya dikenal dari film Naga Bonar Jadi 2 yang tayang pada tahun 2007. Namun 20 tahun sebelum Naga Bonar Jadi 2 diluncurkan di pasaran, telah ada film Naga Bonar yang dirilis pada tahun 1987 yang menceritakan bagaimana seorang Naga Bonar yang merupakan seorang pencopet di Medan berubah menjadi pejuang kemerdekaan Indonesia.

Naga Bonar Jadi 2 bercerita tentang Bonaga (Deddy Mizwar), yang merupakan anak semata wayang Naga Bonar (Tora Sudiro )yang tinggal di kota metropolitan. Berbeda dengan ayahnya, Bonaga adalah seorang pengusaha sukses yang baru saja mendapat tawaran untuk membangun resort. Ternyata, tanah yang diincar untuk membangun resortnya adalah lahan perkebunan sawit milik Naga Bonar, ayahnya. Film berlanjut dengan bagaimana Bonaga membujuk ayahnya unyuk menjual tanah miliknya.

Naga Bonar Jadi 2 mengajarkan bahwa masyarakat modern yang tinggal di kota besar tak dapat menghargai nilai sentimental namun lebih mementingkan nilai komersialnya saja. Maka tak jarang peninggalan keluarga yang begitu berharga sering diperjual belikan demi mendapat uang yang banyak.

  1. Negeri 5 Menara

Film Nasional Negeri 5 Menara
Kehidupan enam santri pesantren dituangkan dalam Negeri 5 Menara. Gambar via: boxxmovie.blogspot.com

Tayang  : 2012

Pemeran             : Gazza Zubizareta, Billy Sandy, Ernest Samudra, Rizki Ramdani, Jiofani Lubis, Aris Putra

Indonesia merupakan negeri yang mayoritas penduduknya adalah Islam maka tak heran banyak pendidikan di Indonesia yang menjadikan Islam sebagai landasan. Banyak pesantren dibangun dengan tujuan mendidik anak-anak Indonesia untuk unggul dalam pelajaraan keagamaan. Orang tua mana yang tak ingin anaknya memiliki akhlak yang baik, begitu pula dengan orang tua Alif (Gazza Zubizareta), anak laki-laki yang baru saja lulus SMP di Maninjau.

Orang tuanya ingin mengirim Alif ke sebuah pesantren di sudut Ponogoro, Jawa Timur untuk dapat mendalami ilmu keagamaan. Namun Alif menolak karena ia bercita-cita bersekolah di Bandung bersama sahabatnya Randai (Sakurta Ginting). Ditambah saat ia melihat sendiri pesantren Pondok Madani yang kumuh dan kampungan. Awalnya Alif menyendiri karena merasa Pondok Madani bukanlah tempat seharusnya ia berada. Seiring waktu Alif mulai bersahabat dengan teman-teman satu kamarnya. Dari tempat yang Alif benci, ia tak mengira dapat menemukan sahabat karib dan impian yang ingin digapainya.

Kehidupan pesantren yang hanya ditemukan di Indonesia dapat ditayangkan dalam film ini. Hidup di tengah keterbatasan namun tidak membuat anak-anaknya pelit untuk berbagi. Bahkan di tempat yang “kumuh dan kampungan” itu siapapun bisa menemukan orang-orang yang menjadi begitu penting dalam hidup mereka.

  1. Minggu Pagi di Victoria Park

Film Nasional Minggu Pagi di Victoria Park
Minggu Pagi di Victoria Park beberkan peliknya kehidupan TKW. Gambar via: tentangfilmdanmusik.blogspot.com

Tayang                  : 2010

Pemeran             : Lola Amaria, Titi Sjuman

Pada tahun 2010 sedang maraknya kekerasan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. Bahkan sekitar 4.532 kasus kekerasan dilaporkan pada tahun itu. Hal ini sempat menimbulkan penolakan keras masyarakat supaya pemerintah berhenti “mengekspor” TKI ke luar negeri. Perkara ini lalu diangkat ke layar lebar.

Bercerita tentang Mayang yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) TKW ke Hong Kong padahal ia masih begitu asing. Apalagi ia ngeri saat diceritakan soal pengalaman TKW yang menyeramkan. Namun ia terpaksa pergi demi mencari Sekar, adiknya yang telah menghilang dua tahun belakang usai bekerja menjadi TKW.

Walaupun syuting film kebanyakan dilakukan di Hong Kong, film ini termasuk film yang Indonesia banget karena menampilkan kehidupan TKW di luar negeri. Meski pelik, kita tidak dapat memungkiri karena Indonesia merupakan negara di dunia yang sering tenaga kerjanya ke negara lain bahkan devisa negara banyak yang datang dari sektor ini.

Film ini juga menyentuh masyarakat karena menampilkan kehidupan TKW di negara asing. Tentang bagaimana sulitnya beradaptasi di negara asing hingga sering tertipu dan terlibat hutang yang tak bisa mereka bayar. Bahwa dibalik iming-iming gaji besar dan tinggal di luar negeri, nyatanya ada harga yang harus dibayarkan.

  1. Ca-bau-kan

Film Nasional Ca-Bau-Kan
Tema yang taboo diangkat dalam film Ca-bau-kan justru menjadi ke-khasan film ini. Gambar via: movfreak.blogspot.com

Tayang                  : 2002

Pemeran             : Ferry Salim, Lola Amaria, Niniek L. Karim

Film ini diangkat dari novel Remy Sylado yang berjudul Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa. Awal penayangannya, film ini banyak mendapat kecaman. Saat itu belum banyak sutradara wanita seperti Nia Dinata dan tema perempuan di zaman kolonial merupakan tema yang taboo untuk di angkat ke layar lebar.

Seperti judul filmnnya, Ca-bau-kan merupakan Bahasa Hokkian yang berarti “perempuan” yang saat zaman kolonial diasosiasikan dengan perempuan simpanan orang Tionghoa. Pada zaman Hindia Belanda, banyak wanita Indonesia yang bekerja sebagai wanita penghibur sebelum akhirnya diambil selir oleh orang Tionghoa.

Ca-bau-kan tak hanya menyorot tentang istri simpanan orang Tionghoa masa itu, namun juga luka lama wanita Indonesia pada zaman penjajahan Jepang. Wanita Indonesia banyak yang menjadi comfort women bagi tentara Jepang yang menjajah kala itu. Mereka dipaksa menetap di sebuah rumah yang diberi nama Rumah Panjang dimana mereka wajib melayani nafsu seksual tentara Jepang.

  1. Ada Apa Dengan Cinta

Film Nasional Ada Apa Dengan Cinta
Cerita percintaan remaja yang diangkat dalam AADC membawa angin segar dalam perfilman Indonesia. Gambar via: polka.id

Tayang                  : 2002

Pemeran             : Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal

Ketika bicara tentang film romantis yang “Indonesia banget” orang akan kompak menjawab film garapan Riri Riza dan Mira Lesmana ini, Ada Apa Dengan Cinta. Film ini berhasil mencuri hati para penonton yang kebanyakan remaja putri. Pada awal 2000an, masih jarang film remaja. Kebanyakan film drama yang sasaran penontonnya wanita dewasa. Kehadiran Ada Apa Dengan Cinta membawa angin segar pada perfilman Indonesia.

Cinta (Dian Sastrowardoyo) adalah seorang remaja SMA yang hidupnya mendekati kata sempurna. Memiliki sahabat yang menyayanginya, hingga bakat dalam membuat puisi. Namun dunianya mulai jungkir balik saat ia dikalahkan oleh siswa misterius yang bernama Rangga (Nicholas Saputra). Benci pada pandangan pertama, kira-kira kalimat tersebut menggambarkan jelas hubungan Cinta dan Rangga. Namun ternyata keduanya memiliki satu hal yang sama-sama mereka sukai yakni karya sastra Indonesia yaitu puisi.

Selain membawa kisah cinta remaja, film ini juga memperkenalkan kembali karya sastra puisi dari penyair zaman dulu khususnya Chairil Anwar. Bahkan buku Aku yang merupakan scenario film Sjuman Djaya tentang Chairil Anwar sampai dicetak ulang kembali.

  1. Denias, Senandung di Atas Awan

Film Nasional Denias Senandung di Atas Awan
Pendidikan di daerah terpencil di Indonesia dipertontonkan lewat Denias, Senandung di Atas Awan. Gambar via: www.asiafinest.com

Tayang                  : 2006

Pemeran             : Albert Thom Joshua Fakdawer, Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen, Marcella Zalianty

Semua anak ingin pergi sekolah, menempuh pendidikan yang layak demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Begitu pula Denias (Albert Thom Joshua Fakdawer), seorang anak suku pedalaman Papua yang tinggal di daerah terpencil. Karena letak geografis tempat tinggal Denias yang sulit ditempuh, ia dan anak-anak seumurannya harus pasrah dengan pendidikan yang seadanya.

Namun keadaan yang terbatas tidak membuat Denias menyerah, ia adalah murid terpintar di sekolah darurat yang dipimpin Bapak Guru (Mathias Muchus). Apalagi Mama, sosok yang dihormati oleh Denias mendorong Denias untuk terus belajar. Selain Mama, Bapa Guru, ada juga Maleo (Ari Sihasale) yang merupakan relawan ikut menyemangati Denias untuk menimba ilmu.

Cerita berlanjut dengan Denias yang pergi ke kota untuk menempuh pendidikan yang layak. Film ini disambut dengan begitu baik oleh masyarakat Indonesia karena menampilkan realitas menyedihkan nasib anak-anak pedalaman yang tak mendapatkan pendidikan yang layak karena letak geografis tempat tinggal mereka terpencil. Belum lagi film Denias, Senandung di Atas Awan juga menampilkan keindahan Papua yang jarang diangkat ke layar lebar.

Perfilman Indonesia memang sedang kembali membangun citranya usai pernah terpuruk karena film yang banyak mengangkat cerita yang “dangkal” demi mengedepankan sisi komersilnya saja. Semoga dengan memaknai hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, sineas-sineas Indonesia bisa lebih berani berkreasi dengan mengangkat cerita-cerita khas Indonesia ke layar lebar. Terus semangat sineas-sineas kebanggaan tanah air!(AH)

loading...

LEAVE A REPLY