Gulalives.co, PADANG – Dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang, para pembuat game pun semakin inovatif untuk berlomba-lomba menciptakan game yang lebih atraktif. Kini sudah bukan rahasia umum lagi, para perusahaan game membuat game yang mengandung konten dewasa guna meningkatkan penjualannya.

Walaupun video game harus melewati pengujian materi untuk menentukan rating ESRB dimana rating tersebut digunakan sebagai acuan untuk siapa saja yang boleh memainkan game tersebut. Namun tetap saja para developer dan publisher game tersebut tetap nakal menciptakan game yang tidak mendidik, salah satunya adalah game dengan unsur pornografi yang mempertontonkan adegan pornografi.

Anak cenderung cuek saat dipanggil khususnya jika sedang bermain games/gawai. Foto: mumbub.
Anak cenderung cuek saat dipanggil khususnya jika sedang bermain games/gawai. Foto: mumbub.

Bermain Games adalah sebuah hobi dan juga aktivitas yang bisa menghilangkan stress dalam menghadapi kehidupan sehari-hari yang cukup menguras emosi kita. Akan tetapi segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik untuk keseharian kita, begitupun dengan hobi bermain Games ini. Begitu banyak konten kekerasan hingga pornografi yang terselip dalam permainan Video Games yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh anak dibawah umur.

Pakar sosial dan pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat, Dr Erianjoni menyampaikan bahwa anak usia dini harus dihindarkan dari permainan game pada telepon genggam untuk mencegah sikap antisosial. “Game pada telepon genggam lebih banyak mengandung unsur kekerasan dan pornografi, sehingga tidak baik bagi perkembangan sosial anak,” katanya di Padang, belum lama ini, dilansir Antaranews.com.

Anak cenderung cuek saat dipanggil khususnya jika sedang bermain games/gawai. Foto: Dailymail.
Anak cenderung cuek saat dipanggil khususnya jika sedang bermain games/gawai. Foto: Dailymail.

Selain itu, dia menyebutkan, game bagaikan narkoba modern yang bisa mengakibatkan kecanduan pada penggunanya sehingga bisa membunuh kreativitas anak untuk ke depannya. Ditambahkannya, melalui game juga bisa merusak karakter anak sehingga nantinya anak bisa menjadi pribadi yang individualis, egois, kurang komunikasi, dan memiliki sikap anti sosial lainnya.

Menurut dia, pada usia tersebut seharusnya anak belajar dari lingkungan, keluarga, dan masyarakat sehingga mereka bisa memperoleh figur yang bisa diteladaninya. Ia menyarankan kepada orang tua apabila ingin mengenalkan teknologi pada anak usia dini lebih baik mereka dialihkan dengan memperlihatkan video yang bersifat edukatif sehingga bisa melatih verbal dan motoriknya.“Permainan modern sejenis puzzle juga lebih bagus dan tepat,” ujarnya.

Mengerti pasangan saat bermain game
Mengertilah Kegemaran Pasanganmu Sumber: www.theverge.com

Selain itu, dia mengharapkan, agar orang tua selalu bisa mengawasi dan menghindari anak dari game yang bersifat individualis.“Jangan membiasakan menaruh telepon genggam di tempat yang mudah dijangkau oleh anak,” ucap dia.

Sebelumnya, Wahyu Farrah Dina, Direktur Indonesia Heritage Foundation pada Seminar Pendidikan Keluarga Duta Oase Cinta Kemendikbud baru-baru ini menyatakan bahwa peneliatan dari Iowa State University Amerika Serikat memperlihatkan bagaimana seorang anak yang terlalu sering bermain Games yang mengandung kekerasan serta pornografi akan lebih mudah melakukan kekerasan dan memiliki intoleransi kepada orang lain.

video game_ayobergaul.blogspot.com
video game_ayobergaul.blogspot.com

Hal ini terjadi karena anak dibawah umur memang cenderung meniru apapun yang mereka pelajari dalam hidup mereka. Rating dalam sebuah Game memang menjadi penentu layak atau tidaknya game tersebut dimainkan oleh anak-anak, terkadang beberapa orang tua masih buka akan hal ini, ditambah lagi warnet-warnet tidak melarang user-nya yang masih dibawah umur. Tentunya dampak negatif akan didapat oleh anak-anak. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY