Gulalives.co, Depok – Bung karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Perjuangan tidak berhenti begitu saja, bangsa Indonesia tidak semata-mata kemerdekaan mendapatkan pengakuan dari dunia Internasional.

Indonesia masih harus menghadapi sekutu yang mengambil alih Jepang. Nah, pada saat itulah banyak orang-orang asing yang ikut membantu dan mendukung kemerdekaan Negara Indonesia. Tidak hanya mendukung dari Negaranya saja, ada juga yang mendukung dari dalam Indonesia.

Tidak diketahui dengan pasti atas dasar apa mereka ikut mendukung kemerdekaan Indonesia. Ntah, dari kecintaanya terhadap Indonesia atau karena hanya menghargai hak merdeka pada setiap sesama manusia saja. Taukah kamu siapa saja orang asing yang ikut serta membantu kemerdekaan? Nah, berikut 10 nama orang asing tersebut.

1. Muriel Stuart Walker (1989 – 1997)

Sumber : worship-in-windsor.com
Sumber : worship-in-windsor.com

Muriel Stuart Walker pindah ke Indonesia pada tahun 1932. Dibali lah tempatnya, karena terinspirasi dengan sebuah film yang berjudul “Bali: The Last Paradise”. Wanita yang lahir di Glasgow, Skotlandia ini sempat berimigrasi berimigrasi bersama ibunya ke California, Amerika Serikat.

Di California ia bekerja di Hollywood menjadi penulis naskah. Pada tahun 1930 hingga 1932 dia menikah dengan seorang pria berkebangsaan Amerika Serikat bernama Karl Jenning Pearson.

Muriel merubah namanya menjadi K’tut Tantri yang artinya “anak keempat” setelah dia diangkat oleh anak raja setempat bernama Anak Agung Nura, di Bali. Setelah lama tinggal di Indonesia, membuatnya lancar berbahasa Bali dan Indonesia. Setelah itu, dia mulai mendirikan sebuah hotel di Kuta, Bali.

Tantri direkrut oleh nasionalis Indonesia bergerilya bersama Bung Tomo dan pejuang-pejuang lainnya, Selama Perang Kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1945 sampai dengan 1949. Dia sempat menjadi sebuah penulis pidato bahasa Inggris pertama Bung Karno dan dia juga turut menyaksikan pertempuran Surabaya.

Tantri kemudian menjadi penyiar radio “Voice of Free Indonesia” (kini menjadi Voice of Indonesia, sebuah divisi otonom di bawah RRI). Dia mendapat julukan “Surabaya Sue” karena sempat membuat beberapa siaran dalam bahasa Inggris dengan target pendengar barat.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, siaran radio memegang peranan penting untuk mengirim pesan-pesan bangsa terbaru ke seluruh dunia agar bangsa-bangsa di dunia mengenali kedaulatan Indonesia. Tantri tinggal di Indonesia sejak 1932-1947 selama 15 tahun, dia juga sempat menjadi tawanan tentara jepang karena tidak mau membantu mereka.

Tantri juga sempat menerbitkan buku memori yang berjudul “Revolt in Paradise” pada tahun 1960. Buku tersebut menceritakan kisah hidupnya selama tinggal di Indonesia. Selama tidak tinggal di Indonesia, Tantri menetap di Singapura, dan akhirnya tinggal di Australia sampai akhir hayatnya.

2. Jan Cornelis Princen (1925 – 2002)

Sumber : pernakpernik.net
Sumber : pernakpernik.net

Princen yang lahir di Den Haag, Belanda,  tumbuh menjadi anak yang tidak suka denga segala bentuk penindasan yang beratas nama hak asasi manusia. Nantinya dia juga akan terkenal dengan nama Poncke Prince dan Haji Johannes Cornelis (HJC) Princen.

Dia tertangkap setelah berusaha kabur  karena tidak tahan saat Nazi Jerman menguasai Belanda dan tempatnya sekolah diisolasi. Setelah itu dia sikirim ke kamp konsentrasi di Vught dan Utrecht. Selepas dari kurungan Nazi Jerman, Princen kembali di penjara karena tidak mau ikut wajib militer.

Princen akhirnya dipaksa masuk dinas militer dan dikirim ke Indonesia oleh pemerintah Belanda. Princen diminta untuk bergabung dengan tentara kerajaan Hindia Belanda, KNIL.

Prince meninggalkan KNIL di Jakarta dan bergabung dengan Tentara Negara Indonesia (TNI) pada tanggal 26 September 1948. Selain itu dia juga menjadi prajurit divisi Siliwangi kompi staf brigade infanteri 2, Grup Purwakarta, tepatnya pada tahun 1949.

Ia aktif bergerilya ikut longmarch ke Jawa Barat dan menikahi seorang wanita Sunda bernama Odah. Odah meninggal bersama anak yang dikandungnya setelah tertembak tentara Belanda . Princen mendapat anugerah Bintang Gerilya dari Presiden Sukarno pada tahun 1949.

Pada tahun 1956 Princen menjadi anggota parlemen nasional mewakili Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) serta menjadi politikus populer . Dia mengeluarkan diri dari parlemen dan memilih untuk vocal terhadap pemerintah setelah melihat banyak penyelewengan. Bukah hal yang aneh Keluar masuk penjara bagi Princen.

Kritik tidak hanya ditujukan kepada Orde Lama tapi juga Orde Baru. Ia kemudian mendirikan LPHAM (Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia) di tahun 1966 dan kemudian di tahun 1981 ia ikut mendirikan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Seumur hidupnya ia dinilai sebagai pejuang HAM.

3. John Coast (1916 – 1989)

Sumber : myrmidonbooks.com
Sumber : myrmidonbooks.com

John Coast lahir di Kent, Inggris.  PadaaAwalnya dia bekerja sebagai  pegawai Departemen Luar Negeri Inggris kemudian dia bergabung dengan Indonesia sebagai media untuk Presiden Soekarno di masa perjuangan kemerdekaan. Dia membuat buku Recruit to Revolution (1952) untuk menuangkan pengalamannya dalam buku berjudul Recruit to Revolution (1952).

Dia memutuskan untuk pindah ke Bali dan mengundurkan diri dari politik pada tahun 1950. Dia juga menulis dan mengorganisir penari serta para musisi Bali ke Eropa dan Amerika yang ternyata sukses besar. Hal tersebut dilakukan bersama istrinya yang berasal dari Jawa, Supianti. Keberhasilannya tersebut dituangkan kedalam bentuk buku yang berjudul Dancers of Bali (1953).

Setelah itu, Coast kemudian kembali ke London pada pertengahan tahun 1950-an. Dia menjadi manajer artis besar seperti Luciano Pavarotti, dan menjadi kontributor untuk beberapa surat kabar. Selain itu juga dia membuat beberapa film tentang budaya Bali untuk BBC.

4. Biju Patnaik (1916 – 1997)

Sumber : orissadiary.com
Sumber : orissadiary.com

Biju Patnaik  adalah penerbang yang berasal dari India  dan seorang politisi. Kedekatannya dengan Jawaharlal Nehru membuatnya memahami perjuangan Indonesia, memandang bahwa bangsa Indonesia dengan India ada kemiripan, serta ke depannya yang bisa menjadi sekutu.

Presiden Soekarno memerintahkan Sjahrir untuk dating pada Konferensi Inter-Asia pertama dan guna membangun sebuah opini public internasional dalam melawan Belanda pada tanggal 21 juli 1947. Pada saat itu Belanda berupaya untuk merendam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Sjahrir tidak bisa keluar karena tidak adanya akses untuk keluar dari Indonesia.

Pada akhirnya Patnaik di perintah oleh Nehru untuk mengeluarkan Sjahrir dari Indonesia. Patnaik dan istrinya segera terbang ke Jawa dan membawa Sjahrir ke India lewat Singapura. Patnaik mendaptkan penghargaan ‘Bhoomi Putra’ atas keberaniannya. ‘Bhoomi Putra’ merupakan salah satu penghargaan tertinggi yang jarang diterima oleh orang asing.Dan ketika Indonesia sedang berulang tahun yang ke-50 pada tahun 1996, Patnaik juga diberi penghargaan ‘Bintang Jasa Utama’.

5. Laksamana Muda Maeda Takashi (1898 – 1977)

Sumber : news.liputan6.com
Sumber : news.liputan6.com

Maeda menjadi atase pada tahun 1930-an di Den Haag dan Berlin, di sanalah dia berhubungan dengan banyak pelajar dari Indonesia. Diantaranya ada Nazir Pamuntjak, Achmad Subardjo, Hatta, dan AA Maramis. Maeda adalah salah satu orang yang diutus langsung untuk mempelajari pergerakan Indonesia selama 10 tahun.

Peperangan Asia Timur Raya yang kemudian terjadi, dan disusul dengan penyerangan Jepang terhadap pemerintah Hindia Belanda di Indonesia hingga muncul peristiwa Kalijati 8 Maret 1942. Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Maeda kemudian mendapatkan tugas sebagai Kepala Penghubung Kaigun (Angkatan Laut Jepang) yang berpusat di Makassar dengan Tentara Angkatan Darat di Jakarta. Maeda ditugaskan mempekerjakan Subardjo. Secara umum, Maeda dan Kaigun lebih humanis daripada Angkatan Darat Jepang.

Setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom, tepatnya tanggal 14 Agustus 1945, Angkatan Perang Jepang wajib untuk tunduk kepada segala perintah komandan Angkatan Perang Sekutu khususnya mempertahankan status quo. Status quo artinya tidak boleh merubah keadaan sedikit pun di wilyah Indonesia, tidak boleh bertindak secara administratif dan politik. Tugas utama balatentara Jepang hanya menjaga keamanan dan ketertiban.

Kekalahan Jepang pada akhirnya diketahui oleh para pejuang kita. Dan pada tanggal 16 Agustus 1945 Maeda pun akhirnya membenarkan berita tersebut dan menjamin rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Singkatnya, setelah drama “penculikan” Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, di rumah Maeda di Jl. Teji Meijidori No. 1 yang kini menjadi Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat.  Dan yang menjadi tempat disusunnya naskah Proklamasi yang rampung pada tanggal 17 Agustus 1945 sekitar pukul 3 pagi. Pada pukul 10 paginya, naskah tersebut dibacakan beserta penjagaan dari beberapa bawahan Maeda.

Maeda mendapat Bintang Jasa Nararya di Upacara Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1973, atas dukungannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia dan juga sempat bertemu dengan Bung Hatta.

6. Muhammad Ali Taher (1896 – 1974)

Sumber : en.wikipedia.org
Sumber : en.wikipedia.org

Muhammad Ali Taher adalah seorang saudagar kaya berasal dari Palestina. Dia tidak pernah menempuh pendidikan  di bangku sekolah, dia mendapatkan pengetahuan hanya lewat sekolah Al-qur’an ttradisional atau biasa disebut Kouttab. Taher juga berkawan dengan dengan Muhammad Amin Al-Hussaini  meskipun pertemanan antara mereka naik turun karena adanya perbedaan pandangan politik.

Taher juga sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia karena kepeduliannya dengan sesame muslim. Secara spontan dia juga menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda buktinya. Setelah itu dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia mengalir dari masyarakat Timur Tengah, demonstrasi terjadi di jalanan Palestina.

7. Rokus Bernardus Visser (1915 – 1977)

Sumber : fotofotojadul.blogspot.com
Sumber : fotofotojadul.blogspot.com

Visser merupakan anak dari seorang petani tulip yang sukses. Dia juga lahir di Kanada. Setelah kuliah, Visser membantu ayahnya berjualan bola lampu di London. Pada saat perang dunia ke II dimulai, mereka tidak bisa kembali ke Belanda, karena pada saat itu dikuasai oleh Jerman. Dan kemudian Visser mendaftar menjadi tentara Belanda yang mengungsi ke Britania.

Setelah itu Visser dimasukkan ke Sekolah Perwira sebelum dikirim ke Asia karena dianggap sebagai anak berprestasi. Selanjutnya dia juga dikirim ke Sekolah Pasukan Para di india. Dibentuklah Sekolah Pasukan Terjun Payung (School voor Opleiding van Parachutisten) dan dikirim ke Jakarta karena Belanda sedang mengalami kekacauan dan sementara Jepang mundur dari Indonesia pada tahun 1945. Di bawah kepemimpinannya, sekolah ini kemudian dipindah ke Jayapura.

Visser ternyata lebih menyukai tinggal di Asia hingga meminta istrinya yang berkebangsaan Inggris beserta keempat anaknya untuk ikut dia ke Indonesia. Sayang sekali istri dari Visser menolaknya. Kemudian Visser menceraikan istrinya.

Visser kembali ke Indonesia pada tahun 1947, ternyata sekolah pimpinannya sudah pindah ke Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Pada tahun 1949, Belanda pun harus menyerahkan kekuasaannya kepada Indonesia. Visser akhirnya lebih memilih menjadi rakyat sipil dan menetap di Inonesia. Setelah itu dia pindah ke Bandung, bertani bunga di Lembang. Visser juga memutuskan untuk memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Idjon Djanbi. Tidak lama kemudian Visser menikahi kekasihnya yang orang Sunda.

Pengalamannya sebagai anggota pasukan komando telah menarik perhatian Kolonel A. E. Kawilarang yang akan merintis pasukan komando. Djanbi pun kemudian direkrut dan aktif di TNI dengan pangkat Mayor. Pasukan istimewa ini dibentuk pada tanggal 16 April 1952 dan Djanbi menjadi komandannya. Pasukan istimewa ini selanjutnya menjadi RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat) yang nantinya akan menjadi Kopassus (Komando Pasukan Khusus).

8. Bobby Earl Freeberg (1921 – 1948)

Sumber : http://cdn.klimg.com/
Sumber : http://cdn.klimg.com/

Bobby Earl Freeberg atau sering juga disebut Bob Freeberg merupakan seorang pria kelahiran Parsons, Kansas, Amerika Serikat. Pada awalnya Bob berkarir sebagai pilot Angkatan Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II yang kemudian menjadi pilot komersial di CALI (Commercial Air Lines Incorporated) di Filipina. Setelah itu Bob menjadi pilot di Indonesia berkat hubungan baiknya dengan Opsir Udara III Petit Muharto Kartodirdjo yang pada saat ditugaskan mencari penerbangan komersial yang siap menembus blokade udara Belanda. Penerbangan tersebut dibutuhkan tidak hanya untuk bertransaksi dengan negara luar, membawa persenjataan, obat, tetapi juga melakukan misi terjun payung dan membawa orang pemerintahan Indonesia.

Penerbangan perdananya di Indonesia dilaksanakan pada Maret 1947. Penerbangan tersebut dipandu oleh Muharto, Bob terbang ke Maguwo, Yogyakarta. Hasil dari penerbangan tersebut, berhasil menerbangkan pesawat komersil, Bob menabung dan sampai akhirnya mampu membeli pesawat pertamanya, Dakota C-47 dan terdaftar di Republik Indonesia sebagai RI-002. Bob tidak mendaftarkannya sebagai RI-001 karena selayaknya nama tersebut disanding oleh pesawat pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Saat itu Indonesia tidak punya satu pun pesawat angkut.

Bob menceritakan tentang ketidakadilan yang diterima Indonesia terhadap Belanda dari surat-suratnya yang dikirimkan kepada keluarganya. Bob juga terlibat tidak hanya karena dia dibayar, tetapi juga secara emosional.

Dia bersama sejumlah awak pesawatnya menghilang yang akhirnya diketahui jatuh di sekitar Bukit Pungur, Lampung Utara pada tanggal 1 Oktober 1948 menjadi penerbangan terakhir Bob. Dan pada april 1978 ditemukan bangkai pesawatnya. Meskipun puing-puing pesawatnya sudah ditemukan, jasad Bob tidak pernah ditemukan. Hal ini lah yang menyebabkan kematian Bob masih menjadi misteri, apakah jatuh ditembak, atau meninggal di tahanan Belanda.

Di kalangan AURI, Bob merupakan orang yang lembut namun penuh disiplin tinggi dan tak pernah mengeluh. Oleh sebab itu dia banyak disukai orang. Di mata Presiden Soekarno, Bob adalah seorang teman dari Amerika, orang yang idealis dan ditakdirkan datang untuk membantu perjuangan Indonesia.

9. Muhammad Amin Al-Hussaini (1895/1897 – 1974)

Sumber : en.wikipedia.org
Sumber : en.wikipedia.org

Bernama lengkap Muhammad Effendi Amin Al-Husseini merupakan Mufti Besar Yerusalem dari tahun 1921 hingga 1948 yang menentang Zionisme dan pendudukan Yahudi di Palestina. Sedangkan dirinya sedang memperjuangkan negerinya sendiri, dan  perhatian terhadap sesama negara muslim di Asia dan Afrika pun sama besarnya.

Berdasarkan buku karya M. Zein Hassan Lc. Lt , Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karya, nama Syekh Muhammad Amin Al-Hussaini diceritakan mendukung secara terbuka kemerdekaan negara Indonesia. Dukungan ini bahkan dimulai setahun sebelum Bung Karno dan Bung Hatta benar-benar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

pada tanggal 7 September 1944 , Perdana Menteri Jepang mengumumkan bahwa Indonesia akan dimerdekakan. Berita ini disambut gembira oleh pendukung kemerdekaan Indonesia dan Syekh Muhammad Amin Al-Hussaini pun langsung mengucapkan selamat lewat siaran Radio Berlin berbahasa Arab. Berita tersebut disiarkan selama dua hari tanggal 6 dan 7 September 1944. Tidak hanya itu, harian Al-Ahram yang terkenal teliti juga ikut menyiarkan.

10. George McTurnan Kahin (1918 – 2000)

Kahin adalah seorang sejarahwan dari Amerika dan ilmuan politik. Orang yang ahli mengenai Asia Tenggara, salah satunya adalah Kahin. Dia juga memperoleh gelar sarjana dalam bidang sejarah dari Universitas Harvard pada tahun 1940.

Kahin menjadi tentara dimana dia dilatih dalam sebuah grup yang berisikan 60 orang berparasut yang nantinya akan diturunkan di Indonesia yang tengah dikuasai oleh Jepang, pada tahun 1942 sampai dengan 1945. Tetapi itu dibatalkan pada saat inilah Kahin tertarik dengan Asia Tenggara dan mulai mempelajari bahasa Indonesia serta Belanda. Untuk mendapatkan gelar Master dan Doktor nya dia melakukan penelitian di Indonesia dengan materi utama berkaitan dengan Indonesia. Sampai akhirnya dia ditangkap oleh colonial belanda dan dikeluarkan dari Indonesia. Dalam melakukan penelitiannya, dia sempat bertemu dengan tokoh-tokok RI seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan lainnya.

Kahin ikut membantu orang-orang Indonesia yang mempunyai keinginan untuk belajar di Amerika. Kahin sangat terpikat dengan perjuangan Indonesia. Kahin juga menerima penghargaan Bintang Jasa Pratama dari Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas pada tahun 1991 atas jasanya sebagai perintis kajian Indonesia di Amerika Serikat.

loading...

LEAVE A REPLY