pemandangan sekitar kawasan monumen nasional di lihat dari ats. gambar via: www.youtube.com

Gulalives.co, Depok – Siapa yang tidak kenal dengan Monas? Tak hanya yang berada di Jakarta, tapi yang di luar Jakarta pun tahu mengenai Monas. Monas atau yang merupakan kependekan dari Monumen Nasional ini adalah ikon daripada Kota Jakarta, Ibu Kota Negara Indonesia. Sama seperti Menara Eiffel ataupun Menara Pisa, Monas juga merupakan kebanggaan bagi masyarakat Jakarta, dan juga pastinya kebanggaan masyarakat Indonesia.

Monas yang terkenal dengan bongkahan emas di ujung monumennya yang berbentuk seperti api ini telah melewati perjalanan yang tidak sebentar. Serangkaian kejadian telah menjadi sejarah dalam masa pembangunan Monumen Nasional ini. Untuk lebih mengenal lagi monumen kebanggan kita bersama ini, simak penjelasannya berikut ini yuk.

1. Tentang Monas (Monumen Nasional)

monumen nasional atau monas yang berada di Jakarta Pusat. gambar via: youtube.com
tingginya monumen nasional atau monas yang berada di Jakarta Pusat. gambar via: youtube.com

Monumen Nasional adalah sebuah monumen peringatan yang memiliki tinggi 132 meter (433 kaki) yang dibangun untuk mengenang perlawanan dan juga perjuangan rakyat Indonesia saat merebut kemerdekaan Indonesia dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Monumen yang berada di Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat ini bisa Anda kunjungi setiap hari mulai dari jam 8 pagi sampai dengan jam 3 sore. Tapi perlu diingat, Monas akan tutup setiap hari Senin pekan terakhir setiap bulannya.

monumen nasional saat malam hari dan juga keindahan air mancur beserta lmapu yang membuat monas  terlihat semakin indah. gambar via: papasemar.com
inilah pemandangan monumen nasional atau monas saat malam hari dan juga keindahan air mancur beserta lampu yang membuat monas terlihat semakin indah dan mempesona. gambar via: papasemar.com

Di Monas ini Anda bukan hanya bisa melihat sebuah monumen yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, tapi juga bisa menikmati air mancur, taman yang berisi hewan rusa, ataupun membeli cenderamata yang bertema Monas ataupun Kota Jakarta. Anda juga bisa menjadi Monumen Nasional ini untuk mengajarkan tentang sejarah yang telah di lalui oleh Negara Indonesia, kepada putra-putri Anda. Sehingga kelak, generasi muda akan lebih menghargai jasa para pahlawan yang dahulu sudah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, hingga kita bisa bebas seperti sekarang ini.

Selain itu, bagi Anda yang senang berolahraga, Anda juga bisa datang ke Monumen Nasional ini untuk berolahraga di Taman Monas. Di taman tersebut juga terdapat jalanan yang memiliki batu yang berguna untuk refleksi. Ada juga lapangan futsal dan basket yang kadang sering digunakan untuk berlatih ataupun hanya sekedar bermain saat mengunjungi Monas ini.

2. Sejarah Awal Pembangunan Monas

pembangunan monumen nasional pada tahun 1961. gambar via: agungprie.blogspot.com
pembangunan monumen nasional pada tahun 1961. gambar via: agungprie.blogspot.com

Sebelumnya memang pusat pemerintahan Republik Indonesia berada di Yogyakarta, kemudian berpindah ke Jakarta setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1949.

Pembangunan Monumen Nasional ini awalnya di rencanakan oleh Presiden Soekarno, yang merencanakan ingin membangun sebuah monumen yang mirip dengan Menara Eiffel di lapangan yang berada tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan monumen ini dengan tujuan untuk mengenang perjuangan yang telah di lakukan bangsa Indonesia saat merebut kemerdekaan negara Indonesia pada tahun 1945. Selain itu, agar generasi penerus nantinya bisa terus dibangkitkan inspirasi dan juga semangat patriotismenya.

Rencana Presiden Soekarno tersebut selanjutnya menjadikan terbentuknya sebuah komite nasional untuk pembangunan Monas tersebut. Komite itu dibentuk pada tanggal 17 Agustus 1954, dan kemudian diadakan sayembara untuk mendesain Monas pada tahun 1955.

Sejak sayembara tersebut di mulai, ada sekitar 51 karya yang sudah masuk, tetapi hanya satu karya yang dirasa memenuhi kriteria yang telah ditentukan, yaitu milik Frederich Silaban. Ia mendesain Monas dengan menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan juga dapat bertahan selama berabad-abad.

monumen nasional saat tahap pembangunan. gambar via: news.liputan6.com
monumen nasional saat tahap pembangunan. gambar via: news.liputan6.com

Pada tahun 1960, sayembara kedua pun di buat kembali. Namun dari 136 peserta yang mengikuti sayembara tersebut, taka da satupun yang memenuhi kriteria. Hingga akhirnya ketua juri dari sayembara tersebut meminta Silaban untuk menunjukan hasil desainnya pada Soekarno. Tapi, Soekarno kurang menyukai desain Silaban tersebut. Karena Soekarno menginginkan sebuah monumen yang berbentuk lingga dan yoni.

Dengan begitu, Soekarno meminta Silaban merancang ulang desain monumen tersebut menggunakan lingga dan yoni, namun dikarenakan anggaran yang diperlukan terlalu besar sedangkan kondisi ekonomi Indonesia saat itu sedang tidak baik, maka Soekarno akhirnya meminta arsitek lain untuk melanjutkan desain tersebut. Arsitek tersebut adalah R.M. Soedarsono.

Kemudian R.M. Soedarsono, merancang monument tersebut dengan memasukkan angka 17, 8, dan juga 45, angka-angka tersebut melambangkan hari kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945. Dan akhirnya monumen peringatan tersebut di bangun pada area seluas 80 hektare, yang diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan juga R.M. Soedarsono, dan mulai dibangun pada 17 Agustus 1961.

3. Pembangunan Monumen Nasional

monumen nasional pada masa pembangun dahulu. gambar via: id.wikipedia.org
monumen nasional pada masa pembangun dahulu saat tahap pembangunan. gambar via: id.wikipedia.org

Pembangunan monument ini memang terbilang tidak sebentar. Pembangunannya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yaitu kurun waktu 1961/1962 sampai 1964/1965, yang di mulai pembangunannya secara resmi oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1961. Saat itu Soekarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama pembangunan Monas. Total pasak beton yang dipakai untuk fondasi bangunan ini adalah 284 pasak, dan juga 360 pasak bumi yang ditanam untuk menjadi fondasi museum sejarah nasional.

Keseluruhan pemancangan fondasi tersebut selesai pada bulan Maret 1962. Kemudian dinding museum yang berada di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober tahun yang sama. Selanjutnya adalah pembangunan obelisk yang selesai pada bulan Agustus tahun 1963.

Pembangunan tahap kedua berlangsung dengan kurun waktu mulai 1966 sampai dengan 1968, namun karena adanya Gerakan 30 September 1965 dan juga upaya kudeta, mengharuskan tahap pembangun ini sempat tertunda.

Lalu selanjutnya tahap terakhir berlangsung mulai tahun 1969 sampai dengan 1976, dengan menambahkan diorama pada museum sejarah yang ada di monument tersebut. Kemudian monument ini resmi dibuka dan juga diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975, oleh Soeharto, yang merupakan presiden Indonesia saat itu.

4. Struktur Bangunan Monumen Nasional

struktur bangunan monumen nasional. gambar via: sancita.wordpress.com
struktur bangunan monumen nasional. gambar via: sancita.wordpress.com

Berdasarkan yang direncanakan oleh Soekarno, maka tugu Monas ini di desain dengan konsep Lingga dan Yoni. Menurutnya konsep tersebut adalah ciri khas budaya Indonesia yang juga ditunjukan lewat konsep bangunan candi-candi bersejarah.

Lingga di Monas ini adalah tugu obelisk yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin, bersifat aktif dan juga positif, dan juga melambangkan siang hari. Sementara Yoni di tugu ini adalah pelataran cawan landasan obelisk, yang melambangkan perempuan, elemen feminism, pasif dan juga negative, dan melambangkan malam hari. Lingga dan Yoni ini merupakan suatu lambing yang menggambarkan kesuburan dan juga kesatuan yang harmonis yang keduanya saling melengkapi dari masa prasejarah Indonesia dulu.

Bentuk tugu Monas ini juga bisa diartikan sebagai “alu” dan “lesung”, yang merupakan alat penumbuk padi yang bisa kita dapati di setiap rumah petani di Indonesia. Monas ini memiliki ketinggian 132 meter. Dengan puncak monumen terdapat cawan yang diatasnya terdapat api yang terbuat dari perunggu dengan ketinggian 17 meter dengan diameter 6 meter dan memiliki berat 14,5 ton. Api perunggu ini dilapisi oleh emas yang memiliki berat 50 kilogram. Api yang berada di puncak Monas tersebut terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Api yang berada di puncak Monas tersebut menjadi lambang semangat perjuangan bangsa Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya api tersebut dilapisi emas seberat 35 kilogram, namun saat perayaan setengah abad kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lapisan emas tersebut dilapis ulang hinga mencapai berat 50 kilogram. Emas yang berada di api Monas tersebut merupakan sebuah sumbangan dari Teuku Markam, yang merupakan seorang pengusaha asal Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia pada saat itu.

di puncak monas terdapat sebuah api yang terbuat dari perunggu dan berlapis emas. gambar via: x.detik.com
di puncak monas terdapat sebuah relief lidah api yang terbuat dari perunggu dan berlapis emas. gambar via: x.detik.com

Puncak Monas yang berupa “Api Nan Tak Kunjung Padam” ini memiliki makna tersendiri, yaitu bermakna agar bangsa Indonesia selalu senantiasa bersemangat yang menyala dalam perjuangan dan juga tidak pernah surut atau padam sepanjang masa.

Kemudian di pelataran puncak Monas, terdapat halaman seluas 11 x 11 meter. Dan untuk mencapai puncak tersebut, pengunjung yang datang harus menggunakan lift yang memiliki waktu sekitar 3 menit untuk sampai ke puncak yang memiliki ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Dari halaman di puncak Monas ini, para pengunjung bisa melihat keindahan Kota Jakarta, dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Bahkan bila Anda beruntung, Anda bisa melihat Gunung Salak yang berada di Jawa Barat dari halaman puncak Monas ini. Pelataran puncak Monumen Nasional ini bisa menampung sekitar 50 pengunjung, dan Anda bisa melihat panorama Jakarta dengan menggunakan teropong.

Berbeda dengan pelataran di puncak Monas, di pelataran bawah Monas, memiliki halaman yang lebih luas, yaitu 45 x 45 meter. Tinggi dari dasar Monumen Nasional ke pelataran bawah tersebut sekitar 17 meter. Pada bagian ini, para pengunjung bisa melihat Taman Monas yang menjadi hutan kota.

pemandangan sekitar kawasan monumen nasional di lihat dari ats. gambar via: www.youtube.com
pemandangan sekitar kawasan monumen nasional atau monas di lihat dari atas. gambar via: www.youtube.com

Kemudian di Taman Medan Merdeka Utama ada sebuah kolam berukuran 25 x 25 meter yang dibuat untuk menjadi pendingin udara dan juga mempercantik tampilan taman di Monas. Lalu di dekatnya juga ada sebuah kolam air mancur serta patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggangi kuda, yang terbuat dari perunggu dengan berat 8 ton. Patung tersebut dibuat oleh pemahat asal Italia yang bernama Prof. Coberlato, yang merupakan sumbangan dari Konsolat Jenderal Honores, Dr. Mario Bross di Indonesia. Selain itu di Taman Monas terdapat sekawanan rusa yang khusus di datangkan dari Istana Bogor, Anda bisa mengajak putra-putri Anda untuk bermain bersama hewan lucu tersebut.

Selain itu, pada tiap sudut halaman luar Monas, terdapat relief-relief yang menceritakan tentang sejarah Indonesia. Pada bagian sudut timur laut terdapat relief yang menceritakan tentang kejayaan Nusantara di masa lampau, yang menampilkan sejarah Singasari dan juga Majapahit. Kemudian kearah tenggara, barat daya, dan barat laut, terdapat relief yang secara kronologis menceritakan tentang masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan juga pahlawan Indonesia, terbentuknya organisasi yang memperjuangkan merdekanya Indonesia, sumpah pemuda, penjajahan Jepang, perang dunia II, proklamasi kemerdakaan Indonesia, revolusi dan perang kemerdekaan Indonesia, dan juga masa pembangunan Indonesia modern. Relief-relief tersebut dibuat menggunakan semen dengan kerangka yang terbuat dari pipa atau logam.

Ada juga patung-patung yang berdiri di sekitar Monas. Seperti di sebelah timur laut dibuat sekelompok patung perebutan kekuasaan dan penjajahan Jepang. Di sebelah tenggara ada sekelompok patung pahlawan 10 November 1945. Di seelah barat daya ada sekelompok patung pembentukan Tentara Nasional Indonesia, sebagai pemersatu angkatan bersenjata. Dan di sebelah barat laut ada sekelompok patung tentang kebulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5. Asal Usul Emas Yang Berada di Puncak Monas

emas yang berada di puncak monumen nasional. gambar via: www.bagicerita.xyz
seperti inilah relief lidah emas yang berada di puncak monumen nasional. gambar via: www.bagicerita.xyz

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, api yang berada di puncak Monas di lapisi oleh emas yang merupakan sumbangan dari dari Teuku Markam, yang merupakan seorang pengusaha asal Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia pada saat itu.

Api di Monas tersebut hanyalah segelintir kecil bantuan Teuku Markam untuk kepentingan negara ini. Yang lainnya yaitu seperti pembebasan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olahraga terbesar di Indonesia. Pada jaman Orde Baru, Teuku Markam membangun infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Selain itu, Jalan Medan-Banda Aceh, Bireueun-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan dan lainnya adalah hasil dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia.

Lalu siapakah Teuku Markam? Ia adalah keturunan uleebalang. Teuku Markam lahir pada tahun 1925. Anak dari Teuku Marhaban ini berasal dari Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak usianya 9 tahun, ia sudah menjadi yatim piatu, dan kemudian ia di asuh oleh kakaknya yaitu Cut Nyak Putroe. Teuku Markam sempat mengecap pendidikan sampai dengan kelas 4 Sekolah Rakyat.

Teuku Markam, penyumbang emas yang melapisi api di puncak monumen nasional. gambar via: cutapriliann.blogspot.com
Teuku Markam, yang merupakan saudagar kaya asal Aceh, penyumbang emas yang melapisi relief lidah api di puncak monumen nasional atau monas. gambar via: cutapriliann.blogspot.com

Kemudian Teuku Markam tumbuh dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja yang merupakan Banda Aceh sekarang, dan tamat dengan pangkat letnan satu. Setelah itu ia bergabung dengan TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan mengikuti pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lainnya.

Pada tahun 1957, saat Teuku Markam berpangkat kapten, ia kembali ke Aceh dan mendirikan PT. Karkam. Namun sempat terjadi bentrok dengan Teuku Hamzah yang merupakan Panglima Kodam Iskandar Muda, akibatnya Teuku Markam di tahan dan baru keluar tahun 1958. Keluar dari tahanan, Teuku Markam ke Jakarta dan membawa PT. Karkam, dan perusahaannya tersebut dipercaya oleh Pemerintah RI untuk mengelola rampasan perang untuk dijadikan dana revolusi.

Teuku Markam ini merupakan salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno, hingga membuat Teuku Markam pernah dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno.

Namun saat Orde Baru ia di fitnah sebagai seorang PKI dan kemudian di tuding menjadi seorang koruptor dan Soekarnoisme. Tuduhan tersebut membuatnya di penjara pada tahun 1966. Setelah itu, pada tahun 1972 ia jatuh sakit dan di rawat di RSPAD selama kurang lebih 2 tahun. Dan ia baru dibebaskan dari penjara pada tahun 1974.

Ketika keluar dari penjara pada tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT. Marjaya dan ikut menggarap proyek-proyek Bank Dunia dalam pembangunan infrastruktur di Aceh dan juga JAwa Barat. Namun pada tahun 1985, Teuku Markam meninggal di Jakarta, karena komplikasi dari berbagai macam penyakit.

6. Museum Sejarah Nasional di Monumen Nasional

museum sejarah nasional yang berada di monumen nasional, jakarta pusat. gambar via: allaboutourhistory.blogspot.com
museum sejarah nasional yang berada di monumen nasional, jakarta pusat, yang berisikan diorama-diorama yang menceritakan sejarah Indonesia. gambar via: allaboutourhistory.blogspot.com

Di Monumen Nasional ini juga terdapat sebuah museum yaitu Museum Sejarah Nasional yang berada di dasar Monas dengan kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah. Ruang museum ini memiliki ukuran 80 x 80 meter, dan dapat menampung pengunjung yang datang sekitar 500 orang.

Pada museum ini terdapat 48 diorama pada keempat sisi ruangan, dan 3 diorama berada di tengah ruangan, jadi total ada 51 diorama dalam ruangan museum tersebut. Diorama-diorama ini memiliki cerita tersendiri, mulai dari masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, lalu ada juga yang menceritakan tentang masa penjajahan bangsa Eropa, perlawanan para pahlawan saat pra kemerdekaan yang melawan VOC dan juga pemerintah Hindia Belanda. Hingga diorama yang menceritakan tentang masa pergerakan nasional Indonesia di awal abad ke 20, pendudukan Jepang, perang memperebutkan kemerdekaan, masa revolusi dan juga masa Orde Baru pada pemerintahan Soeharto.

7. Ruang Kemerdekaan di Monumen Nasional

ruang kemerdekaan yang berada di monumen nasional, Jakarta Pusat. gambar via: dokumen.tips
ruang kemerdekaan yang berada di monumen nasional, Jakarta Pusat, ada sebuah gerbang besar disana yang jika terbuka akan terdengar suara Bung Karno yang sedang membacakan naskah proklamasi. gambar via: dokumen.tips

Di bagian dalam cawan dari Monas, terdapat sebuah ruangan yang merupakan Ruang Kemerdekaan yang berbentuk amphitheater. Untuk menuju ruangan ini Anda bisa melalui tangga berputar dari pintu di sisi utara dan selatan.

Di ruangan ini disimpan lambang kenegaraan dan kemerdekaan Indonesia, yaitu naskah asli dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan di dalam kotak kaca di dalam sebuah gerbang berlapis emas yang terbuat dari perunggu seberat 4 ton, berhiaskan ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, dan juga bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu tersebut berada di sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapiskan marmer hitam. Pintu ini di sebut dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara otomatis akan membuka dan memperdengarkan lagu “Padamu Negeri” dan diikuti rekaman suara Soekarno yang sedang membacakan naskah proklamasi sata 17 Agustus 1945.

lambang garuda Indonesia yang terpajang di ruang kemerdekaan Monumen Nasional, Jakarta Pusat. gambar via: id.wikipedia.org
lambang garuda Indonesia yang terpajang di ruang kemerdekaan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, lambang negara Indonesia ini terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapiskan emas. gambar via: id.wikipedia.org

Selain itu ada symbol negara Indonesia berupa patung Garuda Pancasila, yang terbuat dari perunggu dengan berat 3,5 ton dan berlapiskan emas. Ada juga peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlapis emas, bendera merah putih, dan juga terdapat sebuah dinding bertuliskan naskah proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan huruf terbuat dari perunggu.

Ruangan ini memang digunakan untuk ruang tenang mengheningkan cipta dan bermeditasi untuk mengenang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

8. Jejak Telapak Kaki Ala “Walk Of Fame”

salah satu jejak yang berasal dari sepatu milik Ir. Soekarno di trotoar dekat monumen nasional. gambar via: rachmadresmi.blogspot.com
salah satu jejak yang berasal dari sepatu milik Ir. Soekarno di trotoar dekat monumen nasional. gambar via: rachmadresmi.blogspot.com

Mungkin akan ada banyak orang yang belum mengetahui bahwa di sekitar kawasan Monas Anda bisa menyaksikan jejak telapak kaki para Presiden Indonesia. Jejak-jejak kaki ini berada di trotoar yang berlokasi di Jalan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat.

Para pejalan kaki yang melintasi area tersebut memang banyak yang tidak menyadari bahwa trotoar yang mereka lalui tersebut memiliki cerita tersendiri. Mungkin memang terlihat hanya sebuah cetakan kaki saja, namun itu adalah cetakan kaki dari 6 Presiden yang telah memimpin Indonesia.

Dari sisi paling timur di trotoar Jalan Merdeka Utara itu, terdapat cetakan sepatu dari Presiden Soekarno. Ya memang hanya cetakan kaki Soekarno saja yang tidak ada, namun di gantikan dengan cetakan sepatu miliknya. Pada cetakan tersebut, terdapat tulisan dengan huruf besar yang berisi nama Dr. Ir. Soekarno, yang merupakan presiden RI pertama, periode 1945-1967, dan sekaligus sebagai proklamator Kemerdekaan Indonesia.

cetakan jejak telapak kaki dari presiden kedua Indonesia, yaitu Soeharto di trotoar dekat monas. gambar via: rachmadresmi.blogspot.com
cetakan jejak telapak kaki dari presiden kedua Indonesia, yaitu Soeharto di trotoar dekat monas. gambar via: rachmadresmi.blogspot.com

Tidak jauh dari cetakan tersebut, ada sebuah cetakan kaki Soeharto. Di bawah cetakan tersebut tertulis periode kepememimpinan presiden kedua Indonesia ini, yaitu 1967-1998. Kemudian ada cetakan kaki milik presiden ketiga Indonesia periode 1998-1999, Baharuddin Jusuf Habibie.

Yang selanjutnya, yaitu cetakan kaki KH. Abdurrahman Wahid, yang merupakan presiden Indonesia yang keempat, periode 2000-2001. Setelahnya ada cetakan kaki presiden Indonesia kelima, yaitu Megawati Soekarnoputri. Dan yang terakhir adalah cetakan kaki milik Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga pernah memimpin Indonesia.

cetakan jejak telapak kaki presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. gambar via: rachmadresmi.blogspot.com
cetakan jejak telapak kaki presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. gambar via: rachmadresmi.blogspot.com

Mengenai penempatan cetakan kaki para Presiden di trotoar Jalan Merdeka Utara, alasannya karena di tempat itu adalah bersebrangan dengan Istana Negara yang menjadi tempat para Presiden menjalankan tugas kenegaraannya. Dan cetakan kaki para presiden tersebut adalah asli, termasuk cetakan sepatu Soekarno, itupun juga asli.

Di trotoar Jalan Medan Merdeka Selatan, juga terdapat jejak kaki, namun dari orang yang berbeda. Yaitu di belakang halte bus Transjakarta, Monas, terdapat cetakan sepatu Letjen (Purn) Tjokro Pranolo, Gubernur DKI Jakarta pada periode 1977-1982, cetakan kaki Letjen (Purn) HR Soeprapto (1982-1987) dan Letjen (Purn) Wiyogo Atmodarminto (1987-1992), serta Jenderal (Purn) Surjadi Soedirdja (1992-1997). Dan ada juga cetakan kaki Sutiyoso yang pernah memimpin Jakarta pada 1997-2007.

9. Mitos Tentang Relief Lidah Api di Puncak Monumen Nasional

relief lidah api yang berada di puncak monumen nasional yang memiliki mitos berbentuk mirip sesosok wanita. gambar via: alfiananditya.blogspot.com
relief lidah api yang berada di puncak monumen nasional atau monas yang memiliki mitos berbentuk mirip sesosok wanita. gambar via: alfiananditya.blogspot.com

Di Indonesia ini banyak sekali mitos yang berkembang, bahkan mitos mengenai Monumen Nasional atau Monas ini. Mungkin ada beberapa diantara Anda yang pernah mendengar mitos yang menyebutkan bahwa terdapat bentuk seperti perempuan pada api emas yang berada di puncak Monas.

Dikatakan bahwa lidah api emas yang berada di puncak Monas tersebut terlihat seperti sesosok perempuan yang sedang duduk bersimpuh, dengan rambut panjang yang tergerai, dan sosok perempuan tersebut duduk menghadap ke Istana Negara. Jika dilihat dari sisi sebelah kiri Monas pada Jalan Medan Merdeka Barat sebelah utara, dekat dengan Istana Negara, akan sediit terlihat seperti apa yang dikatakan mitos tersebut. Namun jika dilihat dari sisi yang berbeda tidak akan terlihat seperti sosok perempuan tersebut.

Dari mitos tersebut juga dikatakan, bahwa pembuatan api emas yang berbentuk seperti sesosok perempuan tersebut alasannya adalah karena perancang lidah api tersebut bermaksud agar sang wanita layaknya menyemangati pekerjaan berat yang di lakukan Presiden. Dan juga alasan-alasan lainnya.

inilah kira-kira penjelasan yang disebutkan dalam mitos yang mengatakan bahwa relief lidah api di puncak monas mirip sesosok wanita. gambar via: www.kaskus.co.id
inilah kira-kira penjelasan yang disebutkan dalam mitos yang mengatakan bahwa relief lidah api di puncak monas mirip sesosok wanita. gambar via: www.kaskus.co.id

Namun jika Anda perhatikan dengan menggunakan teropong, Anda tidak akan melihat sosok wanita tersebut, dan hanya akan melihat relief api saja. Banyak yang mengatakan bahwa sosok wanita tersebut hanya bisa dilihat dari kejauhan dan dari tempat Anda berdiri segaris lurus antara tugu Monas dengan Istana Presiden di jalan Merdeka Utara. Yang pasti mengenai mitos tersebut masihlah simpang siur dan masih menjadi misteri.

Mitos tersebut juga masih menjadi sebuah kontroversi, karena bisa saja bentuk yang banyak orang lihat tersebut memang bukanlah di sengaja tapi karena persepsi orang yang menganggapnya seperti itu. Bahkan tidak semua orang mengatakan bahwa mitos tersebut benar.

Jadi jika Anda akan mempercayainya atau tidak, itu semua terserah Anda. Namun masih belum ada kejelasan akan mitos tersebut. Namanya juga mitos ya, tidak akan pernah diketahui kebenarannya.

10. Mengunjungi Monumen Nasional

pintu masuk untuk menuju ke monumen nasional, jika ingin masuk harus terlebih dahulu membeli tiket di loket yang telah di sediakan. gambar via: ardyansatya.wordpress.com
pintu masuk untuk menuju ke monumen nasional, jika ingin masuk, harus terlebih dahulu membeli tiket di loket yang telah di sediakan disini. gambar via: ardyansatya.wordpress.com

Jika Anda akan mengunjungi Monumen Nasional dengan mengajak keluarga atau teman Anda, tak perlu bingung mencari pintu masuknya. Pintu masuk Monas ini berada di taman Medan Merdeka Utara dekat dengan patung Pangeran Diponegoro tersebut, kemudian melewati terowongan yang berada 3 meter di bawah taman tersebut dan jalan silang Monas tersebut adalah pintu masuk untuk pengunjung menuju ke tugu Monas.

pemandangan sekitar kawasan monumen nasional. gambar via: saveourmind.wordpress.com
pemandangan sekitar kawasan monumen nasional atau monas dengan bentuk setengah lingkaran. gambar via: saveourmind.wordpress.com

Apabila Anda datang dengan menggunakan kendaraan umum, ada banyak jenis angkutan umum yang bisa Anda gunakan. Anda bisa menggunakan kereta api, yang kemudian Anda turun di Stasiun Juanda, dan teruskan perjalanan Anda menuju Monas dengan berjalan kaki menuju arah Mesjid Istiqlal. Ada juga kendaraan lain seperti Transjakarta, dan Anda bisa turun di halte Monumen Nasional. Namun jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, sudah tersedia parkiran khusus di Monas atau Anda bisa memilih untuk parkir di Stasiun Gambir.

Untuk menikmati wisata sejarah di Monumen Nasional ini Anda hanya perlu mengeluarkan uang untuk tiket masuk sebesar 20 ribu rupiah untuk dewasa, dan 10 ribu untuk anak-anak. Dan jika berkunjung ke Monumen Nasional ini sempatkan untuk membeli oleh-oleh berupa souvenir khas Jakarta ataupun Monas.

Nah itulah serba-serbi mengenai Monumen Nasional atau Monas, mulai dari sejarahnya, tentang awal pembangunan Monas, apa saja yang ada di Monas, struktur bangunan Monas, museum yang ada di monas, apa saja koleksi yang ada di ruang kemerdekaan Monas, cara dan transportasi umum menuju ke Monas, fasilitas yang ada di Monas, biaya masuk ke Monas, bahkan sampai pada mitos yang beredar berkaitan tentang Monumen Nasional ini. Setelah membaca ini, Anda akan lebih mengetahui sejarah di balik monumen kebanggaan kita ini.

Jadi, jika Anda menginginkan wisata sejarah untuk keluarga Anda, Anda bisa datang mengunjungi Monumen Nasional yang berada di Jakarta Pusat ini. Selain itu ajak juga keluarga dan putra-putri Anda untuk berwisata ke tempat bersejarah lainnya agar mereka dapat bisa lebih menghargai jasa para pahlawan yang telah membuat Indonesia merdeka seperti sekarang.

Jangan lupa jika datang ke Monumen Nasional, bawalah bekal makanan ataupun cemilan untuk mengisi perut Anda dan juga putra-putri Anda. Siapkan juga topi ataupun kacamata hitam, untuk melindungi kulit dan wajah Anda dari panasnya sinar matahari di sana. Selain itu, tetap lah menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya. (MD)

loading...

LEAVE A REPLY