Gulalives.co, TOKYO – Dalam sejarah, untuk pertama kalinya kota Tokyo memiliki gubernur perempuan di tengah persiapan menjadi tuan rumah Olimpiade 2020 dan setelah masa kampanye yang diwarnai kebencian terhadap perempuan. Yurike Koike memenangkan pemilihan gubernur setelah penghitungan suara setelah pencoblosan pada Minggu (31/7/2016), menunjukkan mantan menteri pertahanan dan lingkungan ini unggul dari lawan-lawannya.

“Saya akan memimpin politik Tokyo dengan cara yang belum pernah dilakukan, Anda akan menyaksikan Tokyo yang belum pernah Anda lihat,” kata Koike.

Former defense minister Yuriko Koike, a candidate planning to run in the Tokyo Governor election, attends a joint news conference with other potential candidates at the Japan National Press Club in Tokyo, Japan July 13, 2016. REUTERS/Issei Kato/Files
Former defense minister Yuriko Koike, a candidate planning to run in the Tokyo Governor election, attends a joint news conference with other potential candidates at the Japan National Press Club in Tokyo, Japan July 13, 2016. REUTERS/Issei Kato/Files

Pemilihan gubernur di kota berpenduduk 13,6 juta jiwa itu diikuti 21 kandidat dan digelar setelah gubernur terdahulu Yoichi Masuzoe mengundurkan diri. Masuzoe mundur akibat skandal penggunaan uang publik untuk membayar tarif hotel mewah dan perjalanan spa terbongkar.

Meski Koike mengesampingkan prestasinya sebagai perempuan pertama yang menjadi gubernur Tokyo, politisi ini memang sudah terbiasa hidup dalam lingkungan yang didominasi pria. Koike pernah menjadi anggota majelis rendah parlemen Jepang di mana jumlah politisi perempuan di badan ini berjumlah kurang dari 10 persen dari selurung anggota parlemen.

Yurike Koike1Dalam pidato kemenangannya, Koike mengatakan, dia akan membuat kebijakan yang bermanfaat baik bagi seluruh warga Tokyo, pria atau wanita. Koike yang lulus dari fakultas sosiologi Universitas Kairo pada 1976 itu lancar berbahasa Inggris dan Arab. Dia bekerja sebagai penerjemah sebelum menjadi jurnalis dan kemudian memasuki dunia politik.

Salah satu tugas berat Keiko adalah memimpin Tokyo mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2020 yang selama ini dihantam berbagai skandal dan menipisnya anggaran. “Saya ingin mengevaluasi basis anggarannya, sehingga saya bisa memberi penjelasan kepada rakyat Tokyo soal seberapa besar uang yang harus mereka bayarkan, “ujar Keiko.

Olimpiade 2020 dirancang untuk menunjukkan Jepang di abad ke-21 dan Koike tentu ingin berada di pusat pertunjukan internasional itu. Sayangnya, anggaran persiapan membengkak jadi 1,8 triliun yen atau sekitar Rp 230 triliun, enam kali lebih besar dari anggaran awal.

Masa jabatan empat tahun Koike akan berakhir tak lama setelah penutupan Olimpiade 2020 sehingga kinerja sang gubernur perempuan menjadi sangat diperhatikan. Perencanaan untuk Olimpiade Tokyo tahun 2020 telah dilanda masalah, termasuk biaya yang membubung, penangguhan rancangan dan pembangunan stadion utama, dan perlunya merancang-ulang lambang atau logo Olimpiade Tokyo setelah rancangan semula kabarnya contekan.

A jogger runs past candidate posters for the Tokyo Governor election in Tokyo, Japan, July 31, 2016. REUTERS/Kim Kyung-Hoon
A jogger runs past candidate posters for the Tokyo Governor election in Tokyo, Japan, July 31, 2016. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Sebelumnya, Koike yang Menteri Pertahanan perempuan pertama itu diunggulkan atas mantan birokrat Hiroya Masuda dan Shuntaro Torigoe yang berprofesi sebagai wartawan. Perempuan berusia 64 tahun itu adalah kader dari Partai Liberal Demokrat (LDP) pimpinan Perdana Menteri Shinzo Abe.

Namun, Koike menimbulkan kemarahan dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Tokyo karena keikutsertaannya sebagai calon Gubernur belum mendapat persetujuan Partai LDP. Partai penguasa Jepang itu malah telah mendaftarkan Hiroya Masuda yang pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY