asiarisingtv.com

Gulalives.com, YOGYAKARTA –  Menurut laporan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2013, sekitar 2 miliar orang di seluruh dunia makan serangga sebagai bagian dari menu makanan tradisional – sebuah kebiasaan yang dikenal sebagai entomofagi. Entomofagi adalah praktek umum di banyak bagian dunia, termasuk China, Afrika, Asia, Australia, Selandia Baru, dan beberapa negara berkembang dari Amerika Tengah dan Selatan.

Kumbang adalah serangga yang paling umum dikonsumsi, diikuti oleh ulat, lebah, tawon, semut, belalang, dan jangkrik. Semuanya sekitar lebih dari 1.900 spesies serangga dianggap bisa dimakan.

Namun tidak semua orang suka makan serangga. Jika kamu termasuk salah satunya, pelajari beberapa manfaat dari makan serangga bagi kesehatan berikut ini, mungkin akan mengubahmu. Berikut penjelasan yang Gulalives kutip dari Healthy News Today.

iamaileen.com
iamaileen.com

Makan Serangga Bisa Memerangi Obesitas

Serangga sangat bergizi; mayoritas dari mereka kaya akan protein, lemak sehat, zat besi, dan kalsium, dan rendah karbohidrat. Bahkan, para pembuat laporan FAO mengklaim bahwa serangga sama – jika tidak lebih – bergizinya seperti daging yang biasa dikonsumsi, seperti daging sapi.

Misalnya, 100 gram jangkrik mengandung sekitar 121 kalori, 12,9 gram protein, 5,5 gram lemak, dan 5,1 gram karbohidrat. Sementara 100 gram daging sapi mengandung lebih banyak protein – sekitar 23,5 gram dan memiliki kadar lemak yang jauh lebih tinggi, mengandung sekitar 21,2 gram.

Kandungan lemak rendah dari serangga telah menyebabkan beberapa peneliti, seperti yang dimasukkan dalam laporan FAO, menyarankan entomofagi mungkin bisa menjadi cara yang efektif untuk memerangi obesitas dan penyakit terkait. Pada tahun 2014, Daily Mail melaporkan satu orang dari AS yang bergeser dari pola makan khas Barat ke pola makan serangga setelah mengira semangkuk jangkrik renyah sebagai kacang. Dia mengklaim penambahan makan serangga membantunya menurunkan berat badan.

says.com
says.com

Memerangi Masalah Kekurangan Gizi Dengan Konsumsi Serangga

Manfaat entomofagi tidak berhenti pada penurunan berat badan; PBB mengatakan makan serangga bisa membantu memerangi kekurangan gizi, yang tersebar luas di negara-negara berkembang. Menurut UNICEF, di seluruh dunia, hampir separuh dari semua kematian di antara anak-anak di bawah usia 5 tahun adalah akibat dari gizi buruk, dengan sebagian besar kematian ini terjadi di Asia dan Afrika.

Kurangnya gizi, apakah karena tidak memiliki cukup makanan atau ketidakmampuan untuk mencerna makanan yang dimakan, dapat meningkatkan risiko penyakit yang mengancam jiwa. Terlebih lagi, gizi buruk di 1.000 hari pertama kehidupan dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, yang dapat merusak fungsi kognitif.

Selain menjadi sumber yang sangat baik untuk lemak sehat dan protein, serangga ada di mana-mana, yang berarti mereka sangat mudah didapat, sumber makanan murah – sebuah fakta yang benar-benar menguntungkan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di mana kekurangan gizi adalah umum.

thedailybeast.com
thedailybeast.com

Kamu Mungkin Sudah Makan Serangga Namun Kamu Tidak Menyadarinya

Jika kamu masih tidak bisa menerima gagasan memasukkan serangga ke dalam pola makanmu, kamu mungkin tidak akan menyambut bagian berikutnya dari informasi ini dengan tangan terbuka: kamu mungkin sudah pernah memakan mereka.

Defect Levels Handbook dari Badan Pengaawas Obat dan Makanan (FDA)  Amerika Serikat menunjukkan bahwa ketika berbicara tentang produk makanan, tidak ada yang salah dengan sedikit serangga. FDA itu menyatakan bahwa dapat diterima untuk 100 gram cokelat mengandung hingga 60 “serpihan serangga” dalam enam sampel, sedangkan selai kacang dapat berisi hingga 30 serpihan serangga per 100 gram.

Konsumsi serangga tidak berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, para peneliti mengklaim itu tidak berbahaya daripada makan daging; serangga menimbulkan risiko yang jauh lebih rendah dalam hal menginfeksi manusia dengan penyakit zoonosis dari hewan ternak, meskipun dianjurkan serangga dimasak sebelum dikonsumsi untuk menghancurkan patogen yang berpotensi membahayakan yang mungkin mereka bawa.

www.weekendnotes.com
www.weekendnotes.com

Penerimaan atau Penolakan Entomofagi Adalah Sebuah Pertanyaan Budaya

Namun, bahkan setelah mendengar tentang manfaat yang mungkin dari entomofagi, mengapa masih enggan untuk makan serangga?

Bagi sebagian dari kita, membayangkan memasukkan belalang renyah ke dalam mulut kita dan mengunyahnya saja menimbulkan perasaan jijik. FAO mengatakan itu bisa berasal dari budaya seseorang; emosi manusia (merasa jijik), pertanyaan-pertanyaan seperti dari mana asal serangga yang akan dimakan, dan kebiasaan pola makan.

Tapi kita bisa mengatasi hal ini dengan mengkonsumsi serangga yang telah diolah. Di Inggris ada sebuah restoran, Grub Kitchen, yang melayani seperti jangrik dan semut hitam asap menggunakan zaitun keju kambing.

LEAVE A REPLY