art.fritsahlefeldt.com

Gulalives.co, YOGYAKARTA – Otak kita seperti prosesor komputer: memiliki jumlah kekuatan pemrosesan atau sumber daya intelektual terbatas, yang dapat digunakan pada saat tertentu. Tugas atau keadaan emosi apa saja yang saling bersaing akan terlalu banyak mempengaruhi senjata intelektual kita seperti kemampuan kita untuk berkonsentrasi, fokus, memecahkan masalah, menjadi kreatif, atau menggunakan kemampuan kognitif lainnya; sebagai hasilnya, fungsi IQ kita sementara diturunkan.

Untuk menunjukkan prinsip ini, cobalah berjalan kaki sambil menghitung mundur dari 1000 dengan mengurangi tujuh angka (1000, 993, 986, dan seterusnya). Kamu akan segera berhenti berjalan. Mengapa? Otak kamu harus bekerja keras untuk melakukan perhitungan matematika ini sementara tidak memiliki cukup sumber daya yang tersisa untuk memberitahu kaki kamu untuk menempatkan satu kaki di depan kaki yang lain.

Kebanyakan tugas yang saling bersaing umumnya tidak memiliki dampak yang signifikan pada kemampuan kita untuk bekerja atau belajar. Sebagian besar dari kita dapat melakukan pekerjaan rumah sambil mendengarkan musik dan dapat diserap ke dalam sebuah buku ketika sambil makan.

xenlife.com.au
xenlife.com.au

Namun, beberapa kebiasaan psikologis mengkonsumsi sejumlah besar sumber daya intelektual yang akan mengurangi kapasitas kognitif kita. Hanya sedikit orang yang menyadari bahwa kebiasaan psikologis memiliki efek yang merugikan tersebut, sehingga mereka tidak mungkin menghentikan apa yang mereka lakukan. Dan ini secara serius dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan tugas pada kapasitas penuh.

Berikut adalah 5 kebiasaan yang bisa mengganggu bahkan merusak fungsi otak menurut Guy Winch, Ph.D., psikiater dan penulis buku Emotional First Aid: Healing Rejection, Guilt, Failure, and Other Everyday Hurts.

www.activistpost.com
www.activistpost.com

5 Kebiasaan Psikologis yang Mengganggu Fungsi Intelektual

Pertama: Memikirkan

Mengulang peristiwa menjengkelkan, frustasi, atau menyedihkan lagi dan lagi, terutama ketika sering melakukan hal tersebut atau menjadi kebiasaan, bisa membuat otak kita balapan dengan pikiran-pikiran yang ada di dalamnya atau mengaduk kita secara emosional. Hal ini sangat memberatkan sumber daya intelektual kita. Selain berdampak pada fungsi kognitif kita, memikirkan secara mendalam (juga dikenal sebagai merenungkan) dapat memberikan bahaya nyata untuk kita secara emosional dan bahkan kesehatan fisik kita.

Tapi memikirkan kesalahan kita untuk mengambil pelajarannya perlu dilakukan. Merasa sangat bersalah terhadap dosa-dosa kita hingga membuat kita sangat sedih atau menyesal, itu baik. Tapi harus ada tindakan nyata untuk tidak mengulanginya lagi.

www.shutterstock.com
www.shutterstock.com

Kedua: Rasa Bersalah yang Belum Terselesaikan

Kita semua merasa memiliki rasa bersalah dari waktu ke waktu. Ketika kita melakukannya, kita biasanya meminta maaf atau mengambil beberapa tindakan untuk menyelesaikan perasaan bersalah kita. Namun, ketika rasa bersalah tidak bisa ditangani dan berulang kali muncul dalam pikiran kamu, itu menciptakan gangguan kognitif besar yang serius merusak fungsi kognitif.

Solusinya adalah dengan menempatkan perasaan bersalah di belakang kamu sebaik mungkin alias berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya bahkan melupakannya. Jadikan itu sebagai bahan pelajaran hingga kamu tidak melakukan kembali hal tersebut di masa yang akan datang. Kamu bisa memberikan respon yang lebih baik jika menghadapi peristiwa serupa di lain waktu.

www.larevista.ec
www.larevista.ec

Ketiga: Mengeluh yang Tidak Efektif

Kebanyakan orang cenderung untuk berbagi rasa frustrasi mereka dengan teman-teman daripada mendiskusikannya dengan seseorang yang bisa membantu mengatasinya. Masalahnya adalah bahwa, setiap kali kita menceritakan kisah kita, kita menjadi frustrasi dan kesal. Kemarahan dan frustrasi memerlukan kekuatan pemrosesan yang signifikan dan memungkinkan keluhan tidak efektif menjadi saluran biasa pada kemampuan otak kita.

Daripada mengeluh yang hanya memuat otak kita tidak bekerja maksimal, lebih baik kamu salurkan rasa frustasi atau kemarahmu dengan melakukan hal-hal yang positif. Ada lho orang yang saat dia sedang kesal, dia lampiaskan dengan bersih-bersih rumah. Kalaupun rasanya gatal banget ingin menceritakan atau mengeluhkan persoalanmu, pastikan orang tersebut bisa menjaga rahasia kamu dan bisa memberi solusi bagaimana menyelesaikan penyebab keluhanmu.

lolwot.com
lolwot.com

Keempat: Khawatir

Banyak orang tidak menganggap rasa khawatirkan sebagai sesuatu yang berbahaya. “Aku hanya sedikit pencemas,” kita mungkin mengatakan dengan senyum kecut. Tapi kekhawatiran menciptakan keadaan emosi tidak nyaman dan tidak menyenangkan, dan dapat secara serius mengganggu.

Ketika kita khawatir tentang sesuatu, rasa cemas itu cenderung untuk menjadi prioritas dalam pikiran kita, dan mendorong segala sesuatu yang lain ke samping. Untungnya, lebih mudah untuk menangani dan menyelesaikan rasa khawatir (dengan memikirkan kemungkinan solusi dari masalah yang menyebabkan kekhawatiran) daripada kegelisahan.

www.heidiandfrank.com
www.heidiandfrank.com

Kelima: Analisa Berlebihan atas Penolakan

Penolakan menciptakan rasa sakit secara emosional yang berdampak signifikan pada suasana hati kita dan memiliki dampak serius pada fungsi kognitif. Hal ini juga menyebabkan kita menjadi kritis terhadap diri sendiri. Terkadang kita mencari-cari sebab kenapa kita mengalami penolakan yang kadang berlebihan dengan menilai rendah terhadap diri kita sendiri. Ini hanya akan memperpanjang durasi tekanan emosional. Dan dengan itu, kemampuan kognitif kita terganggu.

loading...

LEAVE A REPLY