GULALIVES.co, Jakarta- Orangutan sering sekali menjadi sorotan karena mereka disebut-sebut sebagai hewan yang hampir menyerupai manusia. Dari sisi wajah, cara merawat anak mereka, hingga volume otaknya yang hampir memiliki jumlah yang sama dengan manusia. Sayangnya, tempat tinggal hewan mamalia ini semakin hari semakin menipis. Hutan di Sumatra dan Kalimantan tempat mereka tumbuh dan berkembang biak semakin sempit, bahkan habis.

Ekosistem Leuser adalah hutan hujan terbesar di Asia Tenggara. Dimana di dalamnya tinggal spesies endemik seperti orangutan, harimau, badak dan gajah hidup berdampingan. Namun sayangnya, hutan-hutan di Sumatra dipangkas habis oleh warga untuk memanfaatkannya menjadi lahan pertanian dan perkebunan seperti kelapa sawit. Dimana manusia tega membakar hutan hingga hewan seperti orangutan tak lepas menjadi korban.

Tanpa diketahui, orangutan memegang peran penting di kesehatan ekosistem hutan. Bahkan orang-orang menamai mereka sebagai “petani hutan” yang membantu regenerasi pohon-pohon di hutan. Dengan hilangnya habitat mereka, spesies orangutan di Sumatra yang hampir punah ini hanya tersisa 7500 saja. Keadaan ini diperparah dengan data yang menunjukan 80 persen habitat mereka telah habis dibabat. Habitat dimana tempat mereka mencari makan telah habis, maka yang tersisa adalah mereka mati karena sumber makanan yang tak mencukupi.

Selain karena berkurangnya habitat asli orangutan, alasan lain spesies ini semakin berkurang karena manusia tak segan-segan membunuh mereka saat proses penggundulan hutan. Meninggalkan anak-anak orangutan menjadi yatim piatu dan diperparah dengan mereka diperjual belikan secara ilegal baik ke luar atau ke dalam negeri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Melihat keadaan yang menyedihkan ini, selama 15 tahun belakangan Panut Hadisiswoyo berjuang untuk mempertahankan hutan Sumatra dan orangutan. Ia mendirikan lembaga konservasi Yayasan Orangutan Sumatra Lestari (YOSL) untuk menyelamatkan spesies terancam punah di sana, terutama di Ekosistem Leuser.

Usaha-usaha yang telah dilakukan Panut untuk mempertahankan hutan dan orangutan tak bisa dihitung dengan jari lagi. Ia bahkan berani menggergaji tanaman kelapa sawit yang ditanam atas ganti penggundulan hutan. Tanah-tanah gundul yang gersang itu ia sulap dengan tangan dinginnya dibantu tim dan masyarakat lokal dengan cara menanam bibit-bibit tumbuhan. Hasilnya? Dalam 5 tahun bibit tanaman menunjukan pertumbuhan yang pesat, siap menjulang kembali memanggil hewan-hewan untuk pulang ke hutan.

Untuk orangutan, Panut turun langsung ke lapangan untuk melihat orangutan yang mulai sakit akibat kekurangan makanan. Ia dan timnya akan membawa mereka ke pusat konservasi untuk dirawat sementara hingga pulih. Setelah itu mereka akan memindahkan orangutan ini ke bagian Ekosistem Leuser yang memiliki hutan yang masih subur.

Pernah putus asa? Panut menjawab ya. Ia sempat putus asa melihat kerusakan hutan Sumatra. Namun baginya tidak melakukan sesuatu walaupun hanya hal kecil, saat itulah kehancuran sebenarnya akan terjadi. Maka membuat yayasan untuk orangutan untuk membantu spesies ini dapat berkembang biak dengan baik di habitat aslinya.

Yayasan yang dipimpin Panut telah memulihkan 500 hektar hutan yang terdegredasi dan tengah memulihkan 500 hektar lebih kawasan hutan lain. Proses penanaman memang memakan waktu yang lama, tapi ia tak ingin lagi menyerah. Ia terus berjuang menyelamatkan ekosistem hutan Sumatra. Panut berharap, usahanya ini akan menginspirasi orang lain bahwa hutan adalah sumber kehidupan, baik untuk hewan maupun manusia di sekitarnya. (AH)

Kunjungi website YOSL untuk membantu Panut menyelamatkan hutan hujan dan orangutan di sini!

loading...

LEAVE A REPLY