(Foto: Parenting)

Gulalives.co, JAKARTA – Orang Jepang terkenal dengan kedisiplinan dan kerja keras. Tentu ini bukan diperoleh secara instan, namun berkat didikan sistematis sejak kecil. Tahukah kamu, orangtua di Jepang menerapkan kedisiplinan pada anaknya bahkan sejak mereka di usia dini.

Orangtua di Jepang bahkan tak segan menghukum anak bila mereka dianggal ‘nakal’.  Hebatnya, orangtua di Jepang tak pernah memarahi anaknya di muka umum dan mempermalukannya. Anak-anak ini akan ditegur dan bila perlu akan ‘dihukum’ saat berada di rumah.

Karena disiplin ketat inilah anak-anak Jepang jarang yang bersikap seenaknya. Karena mereka tahu apa konsekuensinya apabila melanggar aturan.

Bandingkan dengan anak-anak di Indonesia. Kebanyakan orangtua di Indonesia membiarkan anak mereka ‘melanggar aturan’ dengan alasan agar tak menghambat kreativitasnya. Padahal menegakkan disiplin tidaklah sama dengan menghambat kreativitas. Penting bagi anak untuk mendapat didikan sejak dini agar mereka tahu menghargai peraturan saat dewasa.

Bukan itu saja hal positif yang dilakukan para orangtua Jepang lho. Anak-anak Jepang ini selain diajari disiplin sejak dini juga diajari berempati pada orang lain.

Nak-anak Jepang belajar bahwa semua perbuatan mereka pasti ada akibatnya dan mereka diajari untuk menjaga sikapnya.

Orang Jepang selalu menasihati anaknya begini: Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan. Setiap tindakan anak akan selalu membawa akibat kepada orang lain. Jadi ia akan terbiasa mementingkan perasaan dan kepentingan orang lain lain terlebih dahulu sebelum kepentingannya sendiri.

Perhatikan juga, disiplin anak-anak Jepang bahkan berlaku di restoran. Saat berkunjung ke Jepang perhatikan, anak-anak akan duduk manis di bangkunya. Tidak ada yang hilir mudik atau bahkan lari-larian.

Semua anak duduk di bangkunya masing-masing. Bayi selalu digendong atau dipangku oleh ibunya. Kalo bayinya rewel, sang ibu akan berdiri dan menggendongnya. Di Jepang, ibu-ibu tidak pernah menyusui bayinya di tempat umum. Mereka selalu menyusui di ruangan menyusui.

Di rumah sakit, klinik, mal, dan tempat umum lainnya, tidak ada anak-anak yang berjalan mundar mandir, lari ke sana kemari, berbicara keras-keras. Misalkan di klinik atau rumah sakit, berbahaya jika anak kita berjalan-jalan atau bahkan berlari-lari. Karena banyak petugas medis berlalu lalang, atau pasien yang bisa terjatuh karena tersandung anak.

Selain itu, tentu saja karena hal ini mengganggu kenyamanan orang lain. Kita tentu saja menyukai suasana yang tenang dan tertib.

Di kereta, anak-anak harus duduk dengan tertib dan tidak berisik. Karena di Kendaraan umum mereka diajarkan tidak boleh mengganggu penumpang lain.

Bagaimana dengan pendidikan formal di Jepang? Sekolah menitikberatkan kepada etika dan hal ini diajarkan sejak dini. Sejak di rumah kemduian dilanjutkan di sekolah hingga di tempat kerja kelak.

Semua komponen masyarakat, baik keluarga dan sekolah, mengajarkan anak untuk beretika dan bersopan santun. Anak-anak diajari untuk minta ijin dulu sebelum meminjam mainan temannya, diajari untuk selalu bersikap sopan dan tersenyum.

Membiasakan mengucapkan terimakasih dan meminta maaf bila melakukan kesalahan baik itu disengaja maupun tidak.

Orangtua tidak permisif, mereka diajari melakukan segala sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan sejak dini. Yang tidak boleh dilakukan tetap saja dilarang. Bukan karena masih kecil lalu mereka dibiarkan saja melanggar aturan. Anak-anak di Jepang dilatih tidak boleh menyerobot antrian di toilet. Mereka tetap harus mengantri dengan orang dewasa lain sekalipun.

Kurikulum di sekolah menekankan pentingnya beretika dan bersopan santun. Dan dirumah pun mereka dididik menghargai waktu. Belajar untuk bergantian dan bersabar saat bermain dengan teman-teman nya. Mereka tidak terbiasa main rebut. Kata-kata ‘tolong’, ‘terima kasih’ dan ‘maaf’ adalah hal yang sudah biasa mereka ucapkan.

Dari lahir, anak-anak selalu bersama ibunya. Mereka tidak pernah luput dari pengawasan sang ibu. Ibu-ibu di Jepang disiplin sekali terhadap anak anaknya. Mereka mengasuh dan mendidik anak-anak itu tanpa bantuan pembantu atau baby sitter.

Alasannya simpel, bukan karna tenaga pengasuh anak mahal. Namun justru karena pemahaman mereka akan pentingnya mendidik anak yang memang menjadi tanggung jawab mereka. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY