Selalu membantu dan memanjakan anak hanya menjadikannya tidak bermental tangguh. Foto: pendidikankarakter

Gulalives.com, DEPOK – Masa orientasi sekolah atau kita biasa sebut dengan MOS, sebenarnya adalah kegiatan untuk perkenalan sekolah baru, sehingga siswa baru bisa mengenal apa-apa saja kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah tersebut. Namun, MOS sering kali dijadikan sebagai ajang perpeloncoan yang dilakukan senior kepada juniornya. Bahkan, kadang kala MOS memperlihatkan aksi kekerasan yang dilakukan senior terhadap adik kelasnya yang baru masuk sekolah, pada kegiatan itu.

Seharusnya MOS ini diselenggarakan dengan sistem yang bisa mendidik siswa-siswi yang baru masuk sekolah tersebut. Bukan malah memperbodoh murid-muridnya dengan perintah-perintah dari senior yang tidak masuk akal dan tidak ada manfaatnya.

Jadi, masih perlukah MOS itu diadakan? Inilah yang menjadi alasan kenapa MOS itu harus dihapuskan. Simak ulasannya dari Gulalives berikut ini.

1. Ajang Balas Dendam

dendam sumber foto: www.sayangi.com
dendam sumber foto: www.sayangi.com

Faktor pertama yang menjadi alasan kenapa MOS itu harus dihapuskan adalah karena biasanya MOS itu dijadikan sebagai ajang balas dendam senior kepada junior. Dikarenakan senior yang dulu juga merasakan MOS, ingin melampiaskan dendamnya dengan mengerjai balik adik kelasnya.

Bayangkan saja, senior melakukan kegiatan MOS tersebut atas dasar dendam. Mau jadi apa adik kelasnya nanti? Apalagi jika senior tersebut memiliki trauma berat terhadap MOS yang dilakukannya kemarin. Sudah pasti, jadi bulan-bulanan siswa baru tersebut.

Akibat dari buntut balas dendam senior kepada juniornya ini adalah dapat menyebabkan siswa baru menjadi korban yang dijadikan pelampiasannya dengan bertindak semaunya senior terhadap junior.

2. Sistem Perbudakan

anak fobia sekolah (foto: theconversation.com)
anak fobia sekolah (foto: theconversation.com)

MOS hanya melestarikan budaya feodal dengan mewajibkan para peserta untuk menghormati paksa senior dan menuruti segala kehendak senior. Hanya terkesan memuaskan para senior yang ‘sok gila kuasa’ dan menganggap rendah status siswa baru tak lebih sebagai budaknya.

Jelas hal ini diluar kontek dari tujuan diadakannya MOS tersebut. Sistem pendidikan di Indonesia ternodai oleh aksi perbudakan yang dilakukan senior kepada juniornya ini. Siswa baru seharusnya dilayani dengan baik dan dikenalkan secara baik-baik lingkungan sekolah yang akan dia tempati untuk beberapa tahun ke depan. Layaknya tamu yang mampir ke rumah kita. Bukannya malah tamu tersebut kita buat malu dan kita olok-olok. Kalau begini jadinya akan jadi apa siswa-siswi ke depannya kalau MOS ini selalu ada dari tahun ke tahun.

3. Pemborosan Uang dan Waktu

duit habis
kostinmozeg.files.wordpress.com

Dalam kegiatan MOS terkadang yang perintahin oleh senior itu yang aneh-aneh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perkenalan sekolah. Contohnya dengan pembuatan aneka atribut yang konyol dan tidak masuk akal. Atribut yang dipakai itu sesuai dengan permintaannya kakak kelas, dan atribut itu pasti aneh dan Cuma ingin melihat adik-adik kelasnya berpenampilan yang bodoh.

Selain itu, pembuatan aneka atribut yang aneh-aneh merupakan suatu pemborosan uang dan waktu semata, tak sebanding dengan nilai-nilai yang ditanamkan dalam serangkaian aneka atribut tersebut. Belum lagi permintaan yang lainnya. Tentu saja itu semua harus mengeluarkan biaya, yang duitnya bisa buat kita tabung untuk suatu nanti membeli buku sekolah.

4. Pendidikan Ala Militer

wajib militer

MOS  memang terbukti mengakrabkan para mahasiswa, namun proses keakraban pada mahasiswa akan terjadi dengan sendirinya ketika mahasiswa mulai beraktivitas dalam kampus tanpa perlu dipaksakan dalam suatu penderitaan.

Pelaksanaan OSPEK selama ini yang bermaksud menanamkan kedisiplinan dengan hukuman dan bentakan hanyalah sebuah bentuk militerisasi dalam sekolah. Ini adalah bentuk dari para siswa dan siswi Indonesia dalam melestarikan militerisme dari waktu ke waktu. Dikarenakan pelaksanaan MOS sendiri terkadang mengalami bentuk kekerasan, penganiayaan dan perbudakan. Yang tidak sepatutnya pendidikan militer seperti ini diterapkan di sekolah-sekolah umum.

5. Mental Yang Tidak Siap

Selalu membantu dan memanjakan anak hanya menjadikannya tidak bermental tangguh. Foto: pendidikankarakter

Banyak dari siswa-siswi yang mengikuti MOS terganggu mentalnya. Dikarenakan rasa kaget terhadap penanaman nilai—nilai baru dalam waktu singkat, serta disuruh mengerjakan setumpuk tugas dengan tidak memiliki kesiapan maksimal untuk menerima informasi baru. Belum lagi perlakuan yang berbeda dengan sekolah lamanya.

Kita tahu bahwa setiap orang memiliki kerentanan psikologis yang berbeda-beda, sehingga hukuman yang serampangan ataupun perlakuan yang menekan mental pada OSPEK dapat menimbulkan suatu trauma psikologis tersendiri bagi beberapa orang. Trauma ini pada akhirnya akan menimbulkan abnormalitas kejiwaan seseorang.

Itulah dia sobat alasan kenapa MOSS itu harus dihapuskan. Ketidaktahuaan akan arti MOS itu sendiri yang menjadikan MOS tersebut harus dihapus. MOS seharusnya dijadikan ajang sebagai pengenalan terhadap sekolah dan pengakraban teman-teman di kampus. Bukannya memperlakukan siswa baru dengan perlakuan yang tidak mencermikan siswa yang berperndidikan.

 

LEAVE A REPLY