Blackberry Merapat ke Samsung Kembangkan Ponsel Android
Blackberry Merapat ke Samsung Kembangkan Ponsel Android

Gulalives.co, JAKARTA – Popularitas game Pokemon Go sungguh luar biasa. Masyarakat, tua muda, bahkan anak-anak…keranjingan memainkan game besutan Niantic Labs ini.

Hal ini memicu kekhawatiran sejumlah pihak. Prof. Dr Tina Afiatin, MPsi, Dekan Fakultas Psikologi UGM bahkan menyampaikan pendapatnya terkait game yang tengah booming ini.

Menurut Prof  Tina dalam sebuah tulisan yang banyak dibagikan di jejaring sosial, dunia saat ini sedang booming injeksi “pembodohan” bernama aplikasi game Pokemon Go.

Tanpa disadari kaum bilderberg semakin canggih membangun perangkat “intelijen” dalam bentuk game yang terbalut teknologi Interconnecting Geospasial (maps) bernama Pokemon GO, demikian kata Prof Tina.

“Taukah Anda mengapa saya sebut permainan ini adalah perangkat intelijen yang sengaja diciptakan untuk merekonsiliasi data citra fisik valid untuk memetakan setiap sudut wilayah negara-negara dimana para user mengaktifkannya?” tulis Prof Tina.

Pakar ingatkan bahaya Pokemon Go: Foto: assets.kompas.com
Pakar ingatkan bahaya Pokemon Go: Foto: assets.kompas.com

Di kala satelit yang digunakan oleh google earth dan google maps tak mampu menjangkau gambaran sempurna 3 dimensi dalam sebuah wilayah, maka mereka menggagas ide baru memanfaatkan kebodohan para gamers atau maniak gadget dalam menjalankan agenda maping intelijen NWO untuk memetakan sistem pertahanan dan unit-unit vital setiap negara lewat game yang mengoneksikan fitur kamera, maps dan data selular.

Coba bayangkan jika seluruh pejabat, tentara, polisi, PNS dan masyarakat awam berbondong memainkan game Pokemon Go ini di wilayah kerja masing-masing. Berapa banyak data valid bangunan fisik serta citra ruang yang harusnya bersifat rahasia bagi suatu pertahanan negara dapat diakses hanya karena kebodohan orang-orang itu yang seolah-olah diminta mencari binatang bernama Pokemon itu.

“Hal ini mengingatkan saya pada sebuah teknik operasi intelijen yang dijalankan USA melalui eksploitasi dan analisis pencitraan dan informasi geospasial dalam menggambarkan fitur fisik dan aktivitas secara geografis di bumi atau yang mereka sebut Geospatial Intelligence,” tulis Prof Tina.

Salah satu contoh pemanfaatan yang sangat jelas terlihat adalah pemanfaatan aplikasi geoweb seperti Google Earth dan Google Maps oleh pasukan Amerika Serikat dalam operasi penyergapan, penangkapan dan pembunuhan Osama bin Laden di rumah persembunyiannya pada 2 Mei 2011.

Berkat Google Maps dan Google Earth, mereka dapat mengikuti perjalanan Bin Laden mulai dari Khartoum sampai Jalalabad sampai daerah terpencil dimana ia bersembunyi lalu menemui akhir hidupnya di Pakistan.

Jika hal itu baru menggunakan sistem Google Earth yang hanya mencitrakan bentuk datar dari atas satelit lalu bagaimana jika sistem itu semakin sempurna dengan metode yang tak diduga-diduga dapat mengumpulkan data fisik 3d faktual lewat sebuah aplikasi game?

Pakar ingatkan bahaya Pokemon Go: Foto: www.ponselupdate.com
Pakar ingatkan bahaya Pokemon Go: Foto: www.ponselupdate.com

Bayangkan jika para menteri-menteri, jenderal-jenderal, perwira-perwira tinggi Tentara/Polisi, DPR, Serta seluruh perangkat pegawai negeri sipil ikut latah memainkan game tersebut akibat “booming trend” berapa banyak rahasia data citra fisik yang bisa didapatkan gratis oleh provider game yang telah bekerja sama dengan Institusi Intelijen Dunia itu.

Oleh karena itu jangan anggap remeh sebuah teknologi berkedok entertainment. Prof Tina dalam tulisanya bahkan berharap Presiden dapat memberikan warning kepada para perangkat negara untuk tidak memainkan game tersebut. Bahkan jika perlu, game semacam ini diblokir karena karena berpotensi sebagai ancaman bagi pertahanan dan keamanan negara.

“Mari asah terus daya nalar dan kesadaran. Teknologi pada satu sisi memang bermanfaat tapi jangan sampai Anda dieksploitasi oleh Teknologi,” demikian tulis Prof Tina. (VW)

LEAVE A REPLY