Inilah 10 Buku Terlaris Sepanjang Masa
Sumber : www.observer.co.za

GULALIVES.co, Depok- Buku 33 Toko Sastra Indonesia yang Paling Berpengaruh masih saja menuai ditolak berbagai aliansi, organisasi, dan pegiat sastra Indonesia. Menurut para pegiat sastra, buku tersebut tidak sesuai dengan judul yang diusungnya, apalagi dengan kata “paling berpengaruh”. Pasalnya, ada satu nama yang terkesan dipaksakan masuk ke dalam deretan nama besar sastrawan Indonesia. Berikut ini adalah daftar nama yang masuk ke dalam 33 tokoh sastra yang berpengaruh di Indonesia:

  1. Kwee Tek Hoay
  2. Marah Roesli
  3. Muhammad Yamin
  4. HAMKA
  5. Armijn Pane
  6. Sutan Takdir Alisjahbana
  7. Achdiat karta Mirahdja
  8. Amir Hamzah
  9. Trisno Sumardjo
  10. B Jassin
  11. Idrus
  12. Mochtar Lubis
  13. Chairil Anwal
  14. Pramoedya Ananta Toer
  15. Iwan Simatupang
  16. Ajip Rosidi
  17. Taufik Ismail
  18. Rendra
  19. Dini
  20. Sapardi Djoko Damono
  21. Arief Budiman
  22. Arifin C Noor
  23. Sutardji Calzoum Bachri
  24. Goenawan Mohhamad
  25. Putu Wijaya
  26. Remy Sylado
  27. Abdul Hadi W.M
  28. Emha Ainun Nadjib
  29. Afrizal Malna
  30. Denny JA
  31. Wowok Hesti Prabowo
  32. Ayu Utami
  33. Helvi Tiana Rosa

Saat diluncurkan buku ini pada tahun 2014 silam, kontroversi langsung muncul ke permukaan. Nama Denny Januar Ali disebut-sebut pegiat sastra tidak pantas masuk ke dalm 33 tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh. Selain itu menurut Nuruddin Asyhadie yang merupakan perwakilan pegiat sastra menuturkan bahwa buku tersebut tidak menjelaskan kesuperlatifan pengaruh tokoh-tokoh yang dipilih. Termasuk dengan nama Denny JA yang sama sekali tidak memenuhi satu kriteria pemilihan.

Denny JA sendiri adalah seorang entrepreneur dan konsultan yang juga aktif menulis buku-buku best seller di bidang sastra, akademik, media sosial, politik, dan budaya. Bahkan, pada tahun 2015, Denny JA dinobatkan sebagai salah satu dari 30 orang paling berpengaruh di Internet oleh Majalah TIME. Ia bersanding dengan Presiden Amerika Serikta Barack Obama dan Perdana Menteri India Narendra Modi. Buku berjudul Saputangan Fang Yin yang ditulisnya menjadi buku terlaris kategori puisi dunia di toko buku online terbesar dunia, Amazon.com.

Irwan Bajang yang merupakan penulis sekaligus pegiat sastra mengomentari karut marut dunia sastra Indonesia dalam tulisan yang dimuat di websitenya. Jike kriteria dalam buku sastra itu adalah sastrawan yang paling berpengaruh yang diartikan juga pada bagaimana respons publik akan sebuah karya/nama—maka Denny JA tentu bukan nama yang salah. Paparan kegiatan yang diadakan untuk karya Denny ini sudah lebih dari sebuah kata berpengaruh. Denny JA sangat berpengaruh bahkan melebihi semua sastrawan yang pernah ada di Indonesia, jika tolok ukur ini dilihat dari jumlah buku yang terbit, ulasan, resensi dan kritik yang timbul karenanya. Pengaruhnya sangat besar sehingga membuat nama-nama di atas menyiapkan panggung, memberi ulasan dan dibaptis memilik sebuah genre khusus dalam dunia sastra paling kontemporrer; Puisi Esai.

Irwan juga menambahkan bahwa Denny JA bukanlah seorang sastrawan. Ia tetap seorang entrepreneur yang berhasil memperkenalkan produknya kepada masyrakat luas dengan cara yang berbeda. Hal itu terbukti, website tempat Denny JA membagi tulisan puisi esainya yang diberi nama www.puisi-esai.com telah diklik lebih dari 7 kali sejak peluncurannya pada awal tahun 2013. Akun twitter miliknya bahkan telah diikuti berjuta-kuta followers hingga makin membuktikan bahwa Denny JA membawa angin pembaharuan di dunia sastra. Dimana sastra, khususnya puisi esai yang mudah dibaca oleh masyarakat luas lebih berpengaruh dibandingkan tokoh-tokoh sastra Indonesia zaman dulu yang hanya bermodalkan hitam di atas putih.

Beda pegiat sastra, beda pula Tim 8. Tim penulis yang memasukan nama Denny JA ke dalam buku 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh punya alasan lain mengapa ia wajib dimasukan. Mereka menjelaskan Denny JA terpilih karena ia melahirkan genre baru dalam puisi Indonesia yang disebut genre puisi esai. Jenis puisi ini kini menjadi salah satu tren sastra mutakhir yang sudah direkam dalam kurang lebih sepuluh buku. Terlepas dari pro kontra pencapaian estetik dari puisi esai, pengaruh puisi esai dan penggagasnya Denny JA dalam dinamika sastra mutakhir tidak boleh diabaikan siapapun.

Jika nama Denny JA dimasukan ke dalam daftar tokoh yang memberi angin pembaharuan dalam dunia sastra Indonesia, mungkin polemik yang ditimbulkan tidak akan sebesar ini. Karena mau tidak mau, pencapaian yang diraih dan bagaimana cara Denny JA mengenalkan karyanya pada masyarakat luas dengan cara produck branding di media sosial memang patut diacungi jempol. Buktinya, genre baru ini bisa dibilang lebih akrab di kalangan masyarakat. Dibalik cibiran pedas yang dilayangkan padanya, kebanyakan orang lupa bahwa Denny JA punya jasa membuat masyarakat kembali membaca tulisan sastra Indonesia yang sempat ditinggalkan di era globalisasi ini. (AH)

LEAVE A REPLY