Gambar via: keprinet.com

Gulalives.co, JAKARTA – Pemerintah melalui Presiden Joko Widodo akan merestrukturisasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mencegah terulangnya kasus peredaran vaksin palsu. Restrukturisasi tersebut, menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung, menunjukkan bahwa pemerintah tak setengah-setengah dalam memberantas peredaran vaksin palsu.

“Presiden segera merestrukturisasi BPOM, dan akan menugaskan satu orang untuk melakukan pembenahan (dalam BPOM),” kata Pramono di Kantor Sekretariat Kabinet, Jumat (15/7/2016).

Gambar via: www.huffingtonpost.com
Gambar via: www.huffingtonpost.com

BPOM saat ini dipimpin oleh Bahdar Johan Hamid selaku pelaksana tugas. Jika badan itu telah memiliki kepala definitif, ujar Pramono, barulah restrukturisasi akan dilaksanakan. “Nanti akan diumumkan. Intinya nanti secara bersama-sama akan ditangani Kemkes dan BPOM,” ujar Pramono.

Plt Kepala BPOM Bahdar Johan pada akhir Juni mengakui lembaganya tidak mengawasi vaksin impor. Berdasarkan hasil penyelidikan, vaksin impor itulah yang dioplos menjadi vaksin palsu. Kelalaian pengawasan itu, menurut Bahdar, karena BPOM kekurangan sumber daya manusia. “Kami bersalah. Kami mohon maaf atas apa yang terjadi, tapi kami sudah melakukan apa yang kami bisa,” kata Bahdar.

Gambar via: www.livestrong.com
Gambar via: www.livestrong.com

Ia berkata, kewenangan BPOM hanya pada pengawasan obat dan makanan, namun bukan pada pembuatan dan penyaluran obat serta vaksin yang merupakan kewenangan Kemkes.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya di Gulalives.co, pada Kamis (15/7/2016) kemarin Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengumumkan 14 rumah sakit yang menerima vaksin palsu. Dari 14 RS itu, 13 di antaranya berlokasi di Kabupaten dan Kota Bekasi, Jawa Barat.

Perlukah anak kita ikut PIN? (Foto: Ipsnews.net)
Perlukah anak kita ikut PIN? (Foto: Ipsnews.net)

Deretan RS penerima vaksin palsu itu ialah RS Dr. Sander Batuna, Cikarang; RS Bhakti Husada, Cikarang; RS Sentra Medika, Cikarang; RSIA Puspa Husada, Bekasi; RS Karya Medika, Bekasi; RS Kartika Husada, Bekasi; RSIA Sayang Bunda, Bekasi; RSU Multazam Medika, Bekasi; RS Permata Bekasi; RSIA Gizar, Cikarang; RS St. Elisabeth, Bekasi; RS Hosana Medica Lippo Cikarang; RS Hosana Medica Bekasi; dan RS Harapan Bunda, Jakarta Timur.

PIN merupakan imunisasi “bonus” (Foto: 1health)
PIN merupakan imunisasi “bonus” (Foto: 1health)

Sementara delapan bidan yang menerima vaksin palsu adalah Bidan Lia di Kp. Pelaukan Sukatani, Kabupaten Cikarang; Bidan Lilik di Perum Graha Melasti, Tambun, Bekasi; Bidan Klinik Tabina di Perum Sukaraya, Sukatani Cikarang, Kabupaten Bekasi; Bidan Iis di Perum Seroja, Bekasi; Klinik Dafa Dr. Baginda di Cikarang; Bidan Mega di Puri Cikarang Makmur, Sukaresmi; Bidan M. Elly Novita diCiracas, Jakarta Timur; dan Klinik Dr. Ade Kurniawan, Rawa Belong, Slipi, Jakarta Barat.

Seperti RS penerima vaksin palsu, para bidan tersebut juga mayoritas berpraktik di Bekasi. Daftar RS dan bidan tersebut belum semuanya karena Polri dan Kemkes masih terus melakukan pengusutan. Nantinya daftar tersebut kemungkinan bertambah panjang. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY