Gulalives.co, SEMARANG – Terjadinya kemacetan panjang saat mudik lebaran lalu di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah bukan merupakan kesalahkan satu pihak. Akumulasi kesalahan dalam mengelola transportasi nasional, regional dan lokal disinyalir menjadi penyebabnya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso menyatakan selama ini anggapan umum dalam pembangunan adalah jika prasarana jalan disediakan, urusan macet pasti beres. Namun faktanya justru makin bertambah prasarana jalan, semakin sering terjadi kemacetan.

brexit2Hal ini menurutnya menjadi tugas pemerintah untuk duduk bersama mendiskusikan agar dapat terwujud transportasi umum yang sehat.“Memburu layanan transportasi umum yang humanis baru wacana, hampir semua kementerian atau setingkatnya punya andil dalam menyediakan transportasi umum yang sehat,” kata Hadi, Selasa (12/7/2016).

Hadi juga menyebutkan pihak-pihak yang memungkinkan terlibat pembahasan mengenai transportasi umum, diantaranya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappeda), Kepolisian, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

brexit4Selain itu, Kementrian Desa dan Transmigrasi, Kementerian Tenaga Kerja, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Sosial, Kementrian BUMN, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Ristek dan Dikti juga perlu terlibat.

“Presidenlah yang harus mengkoordinasi ini. Kementrian perhubungan dalam hal ini menjadi leading sector, pengawas terbentuknya transportasi yang berkelanjutan,” katanya.

“Volume kendaraan yang berlipat jumlahnya saat arus mudik lebaran membutuhkan rekayasa lalu lintas yang tepat. Fakta kemacetan di exit tol brebes tidak cukup hanya dengan rekayasa buka tutup dan ‘contra flow’. Salah satu yang perlu dilakukan mengantisipasi mudik tahun mendatang adalah dengan simulasi lalu lintas,”ungkapnya.

radartegal.com
radartegal.com

“Sudah seharusnya dilakukan simulasi. Korlantas Polri (Korps Lalu Lintas Kepolisian RI) bisa minta pendampingan dari Tim traffic engineer (ahli lalu lintas) yang dapat mensimulasi dan memprediksi kapan terjadi hambatan, serta dapat memberikan alternatif penanganan,” terangnya lagi.

Hadi menjelaskan, pertemuan arus di exit tol brebes timur sudah dapat diprediksi jauh hari, namun penanganannya yang tidak diperjelas.

“Bagaimana mungkin lima hingga delapan lajur exit tol bertumpuk pada satu lajur keluar tol? Kemudian arus membelok kanan dari Brexit yang padat tanpa jeda memotong arus menerus yang juga tanpa headway yang cukup. Kalau dengan simulasi harusnya penanganan itu clear,”jelas Hadi.

brexit2Mengenai antisipasi lain, lanjut Hadi, membujuk calon pemudik melalui kampanye sistemik untuk menggunakan angkutan umum tidak boleh ditinggalkan, bahkan harus lebih intens. Penanganan yang dibuat pemerintah, jalur alternatif yang tersedia, penyebaran atau pengaturan waktu mudik dalam satuan hari atau jam keberangkatan, menjadi sangat penting.

“Kalau perlu pemerintah membuat kampanye digital dalam bentuk video, grafis, himbauan, jalur alternatif, bagaimana antisipasi kemacetan tahun ini, jauh sebelum arus mudik bergerak,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, antrian panjang kendaraan hingga 23 Kilometer di exit tol brebes timur, menjadi evaluasi banyak pihak. Kejadian yang bahkan menelan korban ini terhitung sebagai kemacetan terparah dalam riwayat arus mudik. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY