Banyak bersyukur.
Banyak bersyukur. Sumber : www.shutterstock.com

Gulalives.co, Depok – Menjadi bahagia di kehidupannya adalah keinginan tiap manusia di dunia ini. Banyak usaha yang dilakukan hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun tahukah Anda indikator kebahagiaan itu apa saja? Berikut ini adalah 7 indikator kebahagiaan menurut Ibnu Abbas Ra.

1. Hati yang selalu bersyukur

Bersyukur dengan selalu menerima apa adanya atau qona’ah adalah salah satu indikator dari kebahagiaan. Dengan memiliki hati yang bersyukur, maka tidak ada ambisi yang berlebihan, dan tidak ada stress. Seorang yang selalu bersyukur akan merasa apapun yang yang diberikan oleh Allah adalah indah.

Bila ia sedang dalam keadaan kesulitan, maka ia akan segera mengingat sabda Rasulullah yaitu: “Kalau kita sedang kesulitan, perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita.”

Dan ketika ia sedang dalam kemudahan, ia akan bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

2. Pasangan hidup yang sholeh

Pasangan hidup yang sholeh akan membuat suasana rumah dan keluarga menjadi baik. Berbahagialah apabila seorang istri memiliki suami yang sholeh, ia pasti akan bekerja keras untuk mengajak keluarga menjadi seorang muslim yang sholeh. Dan begitu pula seorang suami yang memiliki istri yang sholeh, ia akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya.

3. Anak yang sholeh

Dahulu, saat Rasulullah sedang melakukan thawaf, beliau bertemu dengan seorang anak muda yang di pundaknya terdapat luka-luka lecet. Kemudian setelah thawaf, Rasulullah bertanya kepada anak muda tersebut mengenai lukanya. Anak muda tersebut menjawab, “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintainya dan saya tidak pernah melepaskannya. Saya hanya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, sholat, dan ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya.” Lalu anak muda itu bertanya, “Ya Rasulullah, apakah saya sudah termasuk ke dalam orang yang berbakti pada orangtua?”.

Rasulullah kemudan memeluk anak muda itu dan mengatakan, “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang sholeh, anak yang berbakti. Tapi anakku, ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu.”

Cerita tersebut mengingatkan kita bahwa apapun yang kita lakukan, tidak akan cukup untuk membalas cinta dan kebaikan dari orantua kita. Namun dengan menjadi anak yang sholeh, kita bisa sedikit membalas segala yang telah diberikan orangtua kita. Apalagi doa yang dipanjatkan oleh anak yang sholeh untuk kedua orangtuanya, dijamin akan dikabulkan oleh Allah. Aamiin.

4. Lingkungan yang kondusif untuk iman kita

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Dengan berada di lingkungan yang terdiri dari orang-orang sholeh, akan membuat keimanan kita lebih meningkat. Orang-orang sholeh tersebut akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita jika melakukan kesalahan.

5. Harta yang halal

Mendapatkan harta secara halal merupakan keharusan setiap umat Islam. Dengan memiliki harta yang halal, segala doanya akan mudah dikabulkan oleh Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya sehingga hati menjadi lebih bersih, suci dan kokoh. Hidupnya pun akan lebih tenang dan damai.

6. Semangat untuk memahami agama

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang semangat menuntut ilmu dan memahami ilmu tersebut. Dengan semakin ia belajar, maka akan semakin cinta ia kepada agamanya, dan juga semakin tinggi cintanya pada Allah dan rasul-Nya.

Semangat dalam mempelajari dan memahami agama akan menghidupkan hatinya, sehingga hatinya akan selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan juga nikmat iman.

7. Umur yang berkah

Seorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya nanti akan lebih banyak diisi dengan berangan-angan tentang masa mudanya, dan ia pun akan cenderung merasa kecewa dengan usianya yang sudah menua. Sedangkan orang yang mengisi hidupnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat dengan amal ibadah, maka semakin tua umurnya, semakin rindu ia untuk bertemu Sang Maha Pencipta. Karena tidak ada rasa takut dihatinya jika ia harus segera meninggalkan dunia ini. Itulah kebahagiaan di dunia yang sesungguhnya. (MD)

LEAVE A REPLY