Gambar via: www.youtube.com

Gulalves.co, JAKARTA – Aksi kejahatan  penyebaran vaksin palsu di kalangan anak balita telah meluas ke berbagai daerah. Proses produksi vaksi palsu tersebut pun diakui oleh para tersangka hanya bermodalkan botol vaksin bekas. Untuk memenuhi botol vaksin bekas tersebut, tersangka mencampur antibiotik dengan cairan infus atau air.

Gambar via: www.republika.co.id
Gambar via: www.republika.co.id

“Larutan dibuat dengan mencampurkan antibiotik Gentamicin dengan cairan infus, dimasukan ke botol vaksin bekas dan diberi label,” jelas Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Polri Brigadir Jenderal (Pol), Agung Setya, baru-baru ini.

Bareskrim Polri mengungkapkan bahwa vaksi palsu turut dicampur bahan kimia berbahaya. Tak hanya penggunaan botol vaksin bekas, botol bekas air mineral pun turut ikut menjadi wadah dari vaksin palsu tersebut.

Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif, Drs. T., Bahdar Johan juga tengah melakukan pemeriksan lebih lanjut pada sejumlah kandungan yang terdapat dalam vaksin palsu itu.“Untuk tuberculid, tersangka menggunakan Gentamicin yang dicampur dengan air. Gentamicin itu antibiotik. Ini vaksin untuk TBC yang menyebabkan fungsi tubuh tak berjalan dan merugikan kesehatan,” jelas Bahdar.

vaksin-MERS-menunjukkan-hasil-menjanjikanVaksin palsu memiliki efek yang buruk bagi kesehatan. Masuknya vaksin ini ke dalam tubuh mampu menyebabkan demam dan infeksi berat karena bakteri yang terkandung dalam larutannya. Bareskrim Polri telah menangkap sepuluh tersangka kasus vaksin palsu tersebut. Para pelaku terdiri dari 5 produsen, 2 kurir, 2 penjual, dan 1 pencetak label yang ditempelkan pada botol vaksin tersebut.

Polisi juga menangkap empat orang yang diduga sebagai produsen vaksin palsu. Salah satunya pasangan suami-istri, H dan R, yang tertangap di Kemang, Jakarta Selatan. “Jaringan itu melibatkan tiga kelompok produsen vaksin palsu,” jelas Agung.

Vaksin Ulang

Vaksin polio (Foto: Republika)
Vaksin polio (Foto: Republika)

Sementara, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan, anak yang mendapat vaksin palsu seharusnya kembali diimunisasi. Sebab, mereka yang mendapat vaksin palsu tentu tidak mendapat manfaat kebal terhadap suatu penyakit.

“Harus divaksin ulang. Kalau ini isinya hanya cairan, tentu tidak berfungsi sama sekali. Jadi, kita berikan ulang pada mereka,” kata Nila dalam jumpa pers di Kementerian Kesehatan.

vaksinasi-meningitis-kapan-sebaiknya-dilakukanHasil penyelidikan sementara, vaksin palsu berisi cairan dan antibiotik yang kadarnya sangat sedikit. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia dr Aman Pulungan, SpA mengungkapkan, kerugian terbesar jika mendapat vaksin palsu adalah tidak kebal.”Misalnya divaksin palsu untuk hepatitis B, jadinya anak tidak kebal hepatitis B,” kata Aman.

Untuk itu, saat ini masih dilakukan pendataan di mana saja yang menggunakan vaksin palsu dan berapa anak yang mendapatkannya. Jumlahnya diperkirakan tidak terlalu banyak, karena mayoritas pemberian vaksin berasal resmi dari pemerintah.

Gambar via: www.livestrong.com
Gambar via: www.livestrong.com

“Kita akan lakukan dari data yang ada. Kita lakukan catch up imunisasi apa saja yang ketinggalan. Ketika ada terlambat imunisasi, kita harus kejar. Imunisasi kapan saja boleh dilakukan. Tidak ada kata hangus,” jelas Aman.

Sebelumnya, kepolisian berhasil mengungkap kasus produksi vaksin palsu. Dari hasil penyelidikan, diketahui sindikat tersebut memproduksi vaksin palsu sejak tahun 2003 dengan distribusi di seluruh Indonesia. Namun, hingga saat ini, penyidik baru menemukan barang bukti vaksin palsu di tiga daerah, yakni Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY