globalnews.ca

Gulalives.com, YOGYAKARTA – Salah satu ibadah yang diutamakan adalah shalat Hari Raya atau shalat ‘Id, baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha. Kedua shalat ini berbeda dengan shalat biasanya yang kita lakukan, lho. Biar nggak salah, pelajari tata cara shalat Id yagn sudah Gulalives susun buat kamu.

Oya, selain gerakan yang berbeda, ada beberapa hal lain yang berbeda pada pelaksanaan shalat hari raya dibandingkan shalat lainnya:

  1. tidak ada qamat dan adzan sebagai penanda dimulainya shalat,
  2. tidak ada shalat lain yang mengiringinya baik sebelum atau sesudah shalat ‘Id,
  3. Boleh melakukannya berjama’ah atau sendiri-sendiri
  4. Bisa melakukannya di rumah, masjid, atau tanah lapang,
  5. khutbah tidak wajib didengarkan.

Orang Yang Sah Melakukan Shalat ‘Id

Shalat ini boleh dilakukan laki-laki maupun wanita, bahkan anak-anak. Baik mereka merupakan penduduk asli (mukim) atau sedang musafir.

blogs.voanews.com
blogs.voanews.com

Tata Cara Shalat Hari Raya

Shalat hari raya terdiri dari 2 raka’at. Pada setiap raka’at, kita akan melakukan beberapa kali takbir sebelum ruku’. Berikut tata cara shalat Id:

1. Membaca niat dalam hati

“Niat aku shalat Idul fitri (atau idul adha) 2 raka’at makmum karena Allah Ta’ala.”

2. Takbiratul ihram yaitu mengangkat tangan dan membaca takbir.

3. Mengangkat tangan sambil membaca takbir.

Pada raka’at pertama dilakukan sebanyak 7 kali, sedangkan pada raka’at kedua sebanyak 5 kali. Takbir ini hukumnya sunah menurut  Ibnu Qudamah, sehingga tidak batal shalatnya bila meninggalkannya baik tidak sengaja maupun sengaja. Kemudian hal ini dipertegas oleh Syaukani yang mengatakan bahwa perlu sujud sahwi jika tertinggal.

Di antara kedua takbir, baik imam maupun makmum tidak membaca apapun, hanya diam sesaat seperti yang dilakukan Rasulullah. Tetapi menurut madzab Hanafi dan Syafi’i, disunahkan membaca dzikir, “subhanallah walhamdulillahi wala illaha illallah wallahu akbar.”

4. Membaca surat Al-fatihah.

5. Membaca surat pendek.

6. Ruku’ membaca ‘Subhanallah Rabial ‘adzim,’  minimal 3x

7. I’tidal

8. Sujud membaca ‘Subhanallah Rabial a’ala,’  minimal 3x

9. Duduk di antara 2 sujud

10. Sujud kembali

11. Berdiri raka’at kedua

12. Takbir 5 kali, dilanjutkan dengan melakukan gerakan yang sama seperti raka’at pertama.

13. Salam

twitter.com
twitter.com

Hukum Khutbah Hari Raya

Selesai shalat, dilanjutkan dengan mendengarkan khutbah hari raya. Khutbah ini hukumnya sunah sehingga boleh mendengarkannya atau tidak. Berbeda dengan khutbah jum’at yang hukumnya adalah wajib. Sehingga shalatnya dianggap batal jika tidak tertib mendengarkan khutbah jum’at.

Dari abdullah ibnu Sa’ib berkata, “saya menghadiri shalat ‘Id bersama Rasulullah SAW. Setelah shalat selesai, Beliau lalu bersabda, ‘kami akan memberikan khutbah, sipa yang ingin mendengarkannya, duduklah. Dan siapa yang tidak ingin, silahkan pergi,'” (HR. Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Kedua khutbah hari raya tidak dipisahkan dengan duduk. Hadits yang mengatakan harus dipisah dengan duduk masuk kategori hadits dho’if atau lemah.

Mengqadha Shalat Hari Raya

Jika sekelompok orang ketinggalan melakukan shalat ‘Id karena suatu halangan, maka mereka boleh melakukannya pada esok harinya. Hal ini berdasarkan perkataan Abu Umair bin Anas:

“Paman-pamanku dari golongan anshar yang termasuk sahabat Rasulullah SAW menceritakan kepadaku begini: ‘pada suatu waktu, hilal bulan syawal tidak tampak oleh kami sehingga pagi harinya kami masih tetap berpuasa Tiba-tiba menjelang sore, datanglah satu kailah dan bersaksi di hadapan Rasulullah SAW bahwa mereka melihat hilal kemamrin malam. Maka waktu itu juga, Rasulullah SAW menyuruh orang-orang supaya berbuka, dan agar pergi shalat  hari raya esok pagi,” (HR. Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Majah).

www.asianews.it
Shalat ‘Id di India (www.asianews.it)

Hal-hal Sunah Yang Dilakukan Saat Hari Raya

Ada beberapa hal yang disunahkan saat hari raya selain shalat ‘Id, yaitu:

1. Mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik. Ingat ya, pakaian terbaik, bukan pakaian baru. 

Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya seterusnya dari kakeknya berkata, “Nabi SAW memakai baju buatan Yaman yang indah pada tiap hari raya,” (HR Syafi’i dan Baghawi).

Dari Hasan as Shibti, berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kami agar pada hari raya itu mengenakan pakaian terbagus, memakai wangi-wangian yang terbaik, dan berkurban dengan hewan yang paling berharga,” (HR. Hakim).

2. Makan terlebih dahulu sebelum shalat hari raya ‘Idul Fitri, dan sebaliknya pada hari raya ‘Idul Adha

Dari Anas, “pada waktu idul fitri Rasulullah SAW tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganji, ” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Dari Buraidah, “Nabi SAW tidak berangkat pada waktu ‘Idul Fitri sebelum makan dulu, dan tidak makan pada waktu ‘Idul Adha sebelum pulang,” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah, dan oleh Ahmad yang menambahkan, “kemudian Beliau makan dari hasil kurbannya”).

www.telegraph.co.uk
www.telegraph.co.uk

3. Wanita dan anak-anak ikut pergi ke tempat shalat

Wanita segala usia dan apapun keadaannya, termasuk yang sedang haid, disyari’atkan ikut keluar ke tempat shalat hari raya.

“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita yang haid pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga do’a dari kaum Muslimin. Hanya saja wanita-wanita yang sedang haid menjauhi tempat shalat,” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Menempuh jalan yang berbeda, jika memungkinkan

Dari Abu Hurairah ra, “apabila Nabi SAW pergi shalat hari raya, maka ketika pulang, Beliau menempuh jalan yang berlainan dengan perginya,” (HR. Ahmad, Muslim dan Turmudzi).

Dari Bakar bin Mubasysyir, “saya berangkat pagi-pagi ke tempat shalat hari raya fitri dan adha bersama para sahabat, dan kami menempuh jalan melalui lembah Bathhan. Sesampai di tempat shalat, kamipun shalat bersama Rasulullah SAW lalu kembali pulang dengan melalui jalan di lembah Bathhan tadi,” (HR. Abu Daud dan Hakim).

 

 

loading...

LEAVE A REPLY