Gulalives.co, Bogor – Sebanyak tujuh orang WNI kembali disandera di perairan Sulu, Filipina Selatan. Pemerintah Indonesia mengaku ‘kecolongan’, ditambah dengan informasi dari perusahaan pemilik kapal pada awalnya simpang siur. Sempat dikahwatirkan bahwa merupakan aksi penipuan dan pemerasan belaka.

filipina

Hanya enam awak kapal tugboat Charles 001 dan Robby 152 yang dibiarkan oleh kawanan penculik kembali berlayar ke Samarinda, sedangkan tujuh orang lainnya disandera. Rombongan kapal tongkang mengangkut batu bara itu dua kali disergap oleh militan di perairan selatan Filipina. Pemerintah mengaku bahwa beberapa faktor membuat proses pengamanan WNI agar tidak menjadi korban penculikan di selatan Filipina,
Berikut empat alasan ABK Indonesia akan rentan terus disandera di perairan selatan Filipina yang dilansir Merdeka.com:

1. Perusahaan kapal ngotot melewati jalur berbahaya

Alasan yang paling sederhana sebelum bicara tentang sistem pemerintah, rupanya resiko kejadian yang mengancam keamanan abk juga tak luput dari Perusahaan Kapal.

PT. Rustianto Bersaudara merupakan perusahaan pemilik kapal tongkang TB Charles OO yang mengalami aksi nahas ini, sudah diberitahu sebelumnya bahwa kapal tongkang tersebut sudah diperingatkan agar tidak melewati jalur perairan berbahaya tersebut. Namun ternyata, pihak perusahaan tetap ngotot berlayar melalui jalur tersebut dan siap akan segala resikonya.

pada 31 Mei, PT Rusianto Bersaudara membuat surat pernyataan bermeterai terkait dengan edaran itu, sebagai persyaratan izin berlayar ke Filipina. Dalam surat pernyataan PT Rusianto Bersaudara menyebutkan, apabila dalam pelayaran nanti terjadi hal-hal tidak diinginkan, maka perusahaan akan bertanggung jawab sepenuhnya.

2. Pengamanan Laut Filipina Selatan belum ada

Tujuh orang warga negara Indonesia kembali disandera di wilayah perairan selatan Filipina, tepatnya di Sulu. Menanggapi hal ini, tentu kita bertanya-tanya mengapa bisa kita sampai kecolongan lagi?

Menjawab pertanyaan tersebut, Arrmantha Nasir, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan standar operasional prosedur (SOP) patroli gabungan di wilayah perbatasan Indonesia, Malaysia, dan Filipina masih disusun. Hal ini yang menjadi salah satu alasan mengapa ABK Indonesia kembali tertangkap. Pasalnya, sudah kali ketiga awak kapal batubara Indonesia disandera di wilayah selatan Filipina. Kali ini, insiden terjadi di wilayah Sulu, sama seperti yang terjadi sebelumnya.

3. Kinerja Intelijen Masih Lambat

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan BIN Filipina baru mengetahui adanya penyanderaan di wilayah selatan wilayahnya. Pemerintah Indonesia juga baru mendapatkan konfirmasi mengenai penyanderaan pada 23 Juni kemarin. Sebelumnya Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir mengatakan kabar penyanderaan masih harus diverifikasi lagi.

Itulah tiga penyebab utama kenapa ABK asal Indonesia masih renta untuk diculik

loading...

LEAVE A REPLY