Pembagian warisan menurut hukum Islam. Foto: hukumonline

Gulalives.co, JAKARTA – Selalu menarik membahas mengenai harta waris. Sebagian besar masyarakat terpengaruh dengan propaganda Barat terkait pembagian waris ini.  Mereka menganggap cara pembagian warisan itu tidak adil karena hanya menguntungkan pihak laki-laki.

Sayang seribu sayang, karena ketidaktahuan atau keengganan sebagian umat Islam di Indonesia membagi harta warisan menurut cara Islam, mereka telah jatuh ke dalam lembah dosa karena telah melanggar perintah Allah SWT.

Bukti keislaman seorang hamba dapat dilihat dari sejauh mana ketaatannya dalam menjalankan syariat Islam. Allah SWT telah menyeru hamba-hamba yang beriman untuk menjalankan syariat Islam secara total. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al- Baqarah: 208).

Pembagian warisan sesuai hukum Islam. Foto: cyberdakwah
Pembagian warisan sesuai hukum Islam. Foto: cyberdakwah

Semua yang Allah perintahkan atau larang adalah ujian bagi hamba-hamba-Nya, apakah taat kepada-Nya ataukah kufur. Begitu juga konsekuensi dari taatnya seorang hamba kepada-Nya adalah dengan meng imani seluruh ayat yang Allah firmankan dan apa yang Rasulullah SAW sabdakan, dengan tidak mengimani sebagian ayat dan mengufuri sebagian yang lain.

Allah SWT berfirman, “Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS al-Baqarah [2]: 85).

Terlebih khusus dalam mengimani ayat-ayat waris, di antaranya firman Allah SWT, “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: Bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS an-Nisa [4]: 11).

Pembagian warisan sesuai hukum Islam.  Foto: Islamnyamuslim
Pembagian warisan sesuai hukum Islam. Foto: Islamnyamuslim

Allah SWT telah menjadikan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan, karena tanggung jawab anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan, seperti menafkahi dirinya, anakanaknya, istrinya, dan kerabat yang berada di bawah tanggungannya. Sedangkan anak perempuan tidak demikian.

Sesungguhnya agama Islam telah memuliakan hak perempuan, yaitu dengan memberinya bagian dalam kewarisan. Padahal, pada masa jahiliyah, perempuan tidak mendapatkan hak waris. (Tafsir al- Washit, Dr Muhammad Sayyid Thonthowi, vol:3, hal: 65-66):

Pada surat yang sama, di ayat 13 dan 14, Allah SWT memberikan penghargaan kepada hamba yang taat pada hukum waris Islam dan mengancamnya dengan neraka bagi orang yang tidak menjalankan syari’at waris (QS an-Nisa [4]: 13-14).

Tak sedikit anak perempuan yang mempertanyakan mengapa harta warisannya jauh lebih sedikit dibandingkan anak laki-laki. Sebenarnya apa alasan seorang lelaki menerima harta warisan dua kali lebih banyak dari pihak perempuan?

Pembagian warisan sesuai hukum Islam. Foto: zonakaya
Pembagian warisan sesuai hukum Islam. Foto: zonakaya

Di dalam Islam, seorang perempuan tidak wajib menafkahi keluarganya. Kewajiban itu terletak pada laki-laki. Sebelum seorang perempuan menikah, tugas bapak atau saudara laki-lakinya untuk menanggung biaya makan, tempat tinggal, pakaian dan biaya-biaya lainnya.

Setelah perempuan itu menikah, maka tanggung jawab tersebut beralih ke bahu suaminya atau anak laki-lakinya.

Supaya seorang lelaki mampu menanggung beban ini, maka dia harus menerima dua kali lebih banyak harta warisan dari pihak perempuan. Contohnya bila seorang suami meninggal dan meninggalkan harta sekitar Rp300 ribu kepada dua orang anaknya; seorang lelaki dan perempuan. Anak laki-lakinya akan mendapatkan Rp200 ribu, sedangkan anak perempuan hanya mendapatkan Rp100 ribu.

Nah, dari Rp200 ribu yang diterima oleh anak laki-laki tersebut, sebagai tanggung jawab terhadap keluarganya, dia harus menggunakan harta warisan yang diperolehnya, katakan sebesar Rp160 ribu untuk menafkahi ibunya dan saudara-saudara perempuannya. Sisanya yang Rp40 ribu, baru dia dapat nikmati sendiri.

Sebaliknya, si anak perempuan yang mendapatkan warisan sebesar Rp100 ribu, tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun kepada orang lain. Dia boleh menggunakannya untuk dirinya sendiri.

Jadi yang mana pihak perempuan mau pilih? Mendapatkan warisan sebanyak Rp200 ribu dan menghabiskan untuk keperluan keluarganya, atau mendapatkan Rp100 ribu, tapi digunakan untuk diri sendiri? (VW)

loading...

LEAVE A REPLY