arynews.tv

Gulalives.com, YOGYAKARTA – Pada 10 hari terakhir Ramadhan, ada suatu ibadah istimewa yang biasa dilakukan Rasulullah, yaitu beri’tikaf di masjid. Istimewa karena pada malam-malam itu ada malam lailatul qadr. Bahkan, pada tahun terakhir kehidupannya, Beliau melakukan i’tikaf hingga 20 hari terakhir di bulan Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Dari Aisyah, semoga Allah ridha kepadanya, “Sesungguhnya Nabi saw. beri’tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya”. [Hadits Sahih Riwayat Imam Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan Malik]

Definisi I’tikaf

Secara bahasa, i’tikaf artinya adalah berada pada sesuatu dan mengikatkan diri kepadanya, baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Sedangkan secara istilah memiliki arti menetap dan tinggal di masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri (bertaqorrub) kepada Allah SWT.

Para ulama menyepakati bahwa i’tikaf itu disyari’atkan dalam Islam namun tidak ada satu haditspun yang menerangkan tentang keutamaan i’tikaf.

www.wikihow.com
www.wikihow.com

Macam-macam I’tikaf

I’tikaf dibagi menjadi dua jenis yaitu sunah dan wajib. Sunah ketika secara sukarela beri’tikaf untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mengharapkan pahala dari Allah, dan menjalankan sunah Rasulullah SAW. I’tikaf ini lebih utama dijalankan pada 10 hari terakhir Ramadhan sebagaimana yang biasa Rasulullah lakukan.

Sementara i’tikaf yang wajib adalah ketika seseorang bernadzar akan beri’tikaf, baik melalui nadzar bersyarat, contohnya, “aku akan i’tikaf selama lima hari, jika Allah menjadikanku juara pertama,” atau disebabkan nadzar mutlak, melalui pernyataan seperti “menjadi kewajibanku kepada Allah beri’tikaf 1 hari.”

Dalam Sahih Bukhari terdapat 2 hadits yang menjadi dasar hal ini yaitu:

“Barangsiapa yang telah bernadzar akan melakukan suatu kebaikan (ketaatan) kepada Allah, hendaklah dipenuhinya nadzarnya itu.”

“Bahwa Umar ra. Bertanya, ‘ya Rasulullah, saya telah bernadzar akan ber’itikaf di Masjidil Haram satu malam.’ Rasulullah berkata, ‘penuhilah nadzarmu itu!’”

arynews.tv
arynews.tv

Nadzar I’tikaf pada masjid tertentu

Jika bernadzar akan melakukan i’tikaf pada masjidil haram, masjidil Aqsa, atau masjid nabawi, maka ia wajib menjalankannya sesuai dengan yang dinadzarkan. Sedangkan nadzar pada masjid selain itu, tidak wajib melaksanakannya pada masjid yang ditentukannya, dapat diganti pada masjid yang disukainya. Karena Allah tidak menetapkan tempat tertentu untuk beribadah kepada-Nya dan tidak ada masjid lain yang lebih utama dari ketiga masjid tersebut.

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsha” (HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)

Lalu misalnya ada yang bernadzar beri’tikaf di masjid nabawi, dia bisa menjalankannya di masjidil haram. Karena masjidil haram lebih utama dibandingkan masjid Nabawi.

“Shalat di masjidku ini (masjid Nabawi) lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjid Al-Haram” (HR. Muslim no. 1394).

www.wallpaperislami.com
www.wallpaperislami.com

Waktu Pelaksanaan I’tikaf

Waktu Memulai dan Berakhirnya I’tikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan

Jika ia berniat i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadhan, hendaklah dia masuk masjid sebelum matahari terbenam. Karena secara Islam, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam. Diriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa Nabi SAW bersabda, “ Barangsiapa yang hendak ber’tikaf bersamaku, hendaklah ia melakukannya pada 10 hari terakhir,” (HR. Bukhari). Sepuluh hari terakhir itu maksudnya adalah 10 malam, dan bermula pada malam ke-21 atau malam ke-20.

Menurut madzhab Abu Hanifah dan Syafi’i, orang yang i’tikaf boleh keluar setelah matahari terbenam pada hari terakhir ramadhan (malam takbiran). Sedangkan menurut madzhab Malik dan Ahmad, boleh keluar pada malam takbiran, namun disunahkan untuk tinggal di masjid sampai waktu shalat ‘Id.

Waktu Memulai dan Berakhirnya I’tikaf Selain Ramadhan

Bagi yang i’tikaf disebabkan karena nadzarnya atau melakukannya secara sukarela, maka hendaknya memulai I’tikaf sebelum matahari terbit dan keluar setelah matahari terbenam sempurna baik i’tikaf itu dilakukan pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

islamicartdb.com
islamicartdb.com

Lama Pelaksanaan I’tikaf

I’tikaf wajib dilaksanakan sesuai dengan apa yang dinadzarkan, misalnya selama 2 malam atau 1 pekan. Sedangkan i’tikaf sunah bisa dilakukan selama apapun. Seseorang yang sedang beri’tikaf sunah dapat menghentikan i’tikafnya kapanpun sebelum selesai waktu yang diniatkannya. Misalnya awalnya berniat i’tikaf 3 hari, namun karena suatu hal, dia hanya bisa 1 hari. Maka dia bisa mengakhir i’tikafnya saat itu.

Syarat-syarat I’tikaf

Tidak semua orang bisa I’tikaf lho. Hanya mereka yang memenuhi syarat yang bisa melakukannya. Syarat-syaratnya adalah:

  1. Muslim
  2. Baligh
  3. Suci dari janabat, haid atau nifas.

Sehingga orang kafir, anak kecil yang belum baligh, orang junub, dan perempuan yang sedang haid atau nifas tidak sah melakukan i’tikaf.

islamicartdb.com
islamicartdb.com

Rukun-Rukun I’tikaf

1. Berniat mendekatkan diri kepada Allah

Wajib berniat sebagaimana tersirat dalam Surat Al Bayyinah ayat 5, “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan hanya kepada-Nya.”

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

2. Berdiam diri di dalam masjid

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para fuqoha terkait masjid sebagai tempat yang sah untuk i’tikaf. Menurut Abu Hanifah, Ahmad, Ishak, dan Abu Tsaur berpendapat bahwa i’tikaf sah dilakukan pada setiap masjid yang di dalamnya diselenggarakan shalat 5 waktu dan berjama’ah.

Sementara Malik, Syafi’i dan Daud berpendapat bahwa sah dilakukan pada setiap masjid. Menurut mereka tidak ada satu keterangan yang mengaskan batasan masjid yang bisa dijadikan tempat I’tikaf.

Menurut para pengikut Syafi’i, lebih utama jika dilakukan di masjid jami’ yaitu masjid yang juga digunakan untuk shalat jum’at. Hal ini karena Rasulullah Muhammad melakukan i’tikaf selalu di masjid jami’, dan karena di sana,  jumlah jama’ah yang shalat lebih banyak. Dan sebaiknya tetap melakukan shalat jum’at di masjid tempat dia beri’tikaf.

www.mirajnews.com
www.mirajnews.com

I’tikaf bagi Perempuan

Jumhur ulama menjelaskan bahwa perempuan tidak sah melakukan i’tikaf di masjid rumahnya sendiri bagi para wanita, karena masjid di rumah tidak bisa dikatakan sebagai masjid, dan tidak ada pertikaian tentang boleh menjualnya. Para istri Nabi melakukan I’tikaf di masjid Nabawi. Ini menunjukkan bahwa para wanita boleh beri’tikaf di masjid yang bisa digunakan untuk beri’tikaf para pria.

Wanita istihadhah boleh melakukan I’tikaf selama bisa menjaga kebersihan tetesan darahnya di masjid.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا قَالَتِ اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ مُسْتَحَاضَةٌ فَكَانَتْ تَرَى الْحُمْرَةَ وَالصُّفْرَةَ فَرُبَّمَا وَضَعْنَا الطَّسْتَ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي

Dari Aisyah, semoga Allah meridhainya, ia berkata, “Seorang istri Nabi ikut beri’tikaf bersama beliau padahal dia sedang istihadhah [keluar darah karena penyakit bukan karena haid], ia melihat darah merah kekuning-kuningan. Terkadang kami meletakkan mangkok di bawahnya ketika ia sedang shalat”. (Hadits Mutafaq Alaih).

Bagi perempuan yang sudah menikah, dia harus mendapatkan izin suami untuk beri’tikaf. Jika suami tidak memberi izin, maka dia tidak boleh melakukan I’tikaf karena I’tikaf itu merupakan ibadah sunah, sedangkan taat kepada suami merupakan kewajiban seorang istri.

Jika suami berubah pikiran, awalnya mengizinkan lalu melarangnya, maka istri harus taat. Misalnya suami mengizinkan istrinya untuk i’tikaf selama 10 hari, tapi ternyata baru hari kedua suaminya meminta dia untuk pulang, maka istri harus mengakhiri i’tikafnya.

oze.my
oze.my

Hal-hal Yang Disunahkan dan Dimakruhkan Bagi Orang Yang Beri’tikaf

Pada saat I’tikaf disunahkan untuk melakukan berbagai hal yang mendekatkan diri kepada Allah, sesuai dengan tujuan i’tikaf. Misalnya memperbanyak shalat sunah, dzikir, istighfar, dan shalawat, menela’ah kitab tafsir, mempelajari suatu ilmu, riwayat para nabi atau orang-orang sholeh, atau buku-buku fiqih dan keagamaan.

Hal-hal Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf

  1. Keluar dari masjid tempat beri’tikaf untuk mengantar keluarga.
  2. Menyisir rambut, memotong kuku, memotong rambut, membersihkan tubuh dari kotoran dan debu, memakai pakaian terbaik dan wangi-wangian.
  3. Keluar untuk keperluan yang tidak bisa dihindari.
  4. Boleh makan, minum, dan tidur di dalam masjid dengan syarat menjaga kebersihannya.
  5. Boleh melakukan perjanjian, misalnya perjanjian jual beli, akad nikah, dan sebagainya.
  6. Boleh mendirikan bilik, tenda, menggunakan tirai atau hijab pembatas di dalam masjid untuk tempat tinggal yang melaksanakan i’tikaf
news.xinhuanet.com
news.xinhuanet.com

Hal-hal Yang Membatalkan I’tikaf

1. Keluar masjid dengan sengaja tanpa ada suatu keperluan walau cuma sesaat. Maka dia harus memasang niat i’tikaf kembali saat hendak masuk masjid lagi untuk beri’

2. Murtad

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“… Jika kamu musyrik (mempersekutukan Allah), akan gugurlah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).

3. Haid

4. Nifas

5. Hilang akal karena gila atau mabuk

6. Bersenggama

Naah, sudah tahu kan apa saja yang perlu dilakukan dan dihindari saat i’tikaf? Yuk, segera persiapkan diri kamu untuk i’tikaf, terutama pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

loading...

LEAVE A REPLY