menikah
http://www.tips-cewek.com/

Gulalives.co, DEPOK – Banyak nya orang besar yang merasakan keajaiban setelah menikah di usia muda dibanding dengan menjomblo di usia muda, membuat nikah bagi kaum muda pun kini menjadi tren. Banyak yang bilang pacaran setelah menikah itu lebih nikmat karena selain jauh dari perbuatan dosa, juga dapat terhindar dari fitnah.

wedding
vemale.com

Pernikahan pada dasarnya merupakan akad nikah antara laki-laki dan perempuan untuk membangun rumah tangga sebagai suami istri sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Jika dilakukan secara syar’I, nikah sesungguhnya adalah keindahan. Seperti rasa manis yang tak bisa dibahasakan. Tak bisa dijelaskan keindahannya kecuali bagi yang pernah menikmatinya.

Dengan menikah, hati menjadi tentram, pikiran menjadi tenang, pandangan mata terjaga, getar hati pun berirama sesuai dengan getaran kesucian. Dengan menikah, fitrah manusia berupa ketertarikan kepada lawan jenis menjadi terarah pada jalan yang mulia.

Sebenarnya apa aja sih yang bisa kita dapatkan kalau lebih memilih menikah dibanding pacaran? Dikutip dari Buku Mencari Tuhan Yang Hilang Karya Ahmad Rifa’I Rif’an

Genapkan Separuh Agama

menikah muda
http://artikelkristen.com/

“Jika ada seorang pemuda yang tidak berkeinginan menikah, maka hanya dua kemungkinannya, banyak maksiat atau diragukan kejantanannya?” (Al Imam Ahmad ibn Hanbal)

Kematangan jiwa terwakili oleh satu kata penuh makna dalam al-Quran; Ar-Rusyd. Saat luth menyaksikan kaumnya bersikap seperti kanak-kanak dan dikuasai syahwat “…Alaisa fiikum rajuulur rasyiid…Tiadakah d antara kalian seorang pun yang matang?”

Ya, Al-Quran telah mengaitkan kata ar-rusyd salah satunya untuk menggambarkan sikap penguasaan terhadap syahwat. Pertanyaan terakhir, masihkah kita mengajukan alasan ‘meniti karir dulu’ untuk menunda ikatan suci berupa pernikahan?

Dengan nikah secara tegas Islam menunjukan tantangannya terhadap kerahiban para pendeta, serta ajaran tabattul para sufi sesat yang mengajarkan manusia untuk hidup membujang. Al-Imam Ahmad berkata: “Hidup menyendiri bkanlah termasuk ajaran Islam. Barangsiapa yang mengajak untuk tidak menikah, dia telah menyeru kepada selain Islam. Jika seorang telah menikah, maka telah sempurna keislamannya.”

Itulah pernikahan. Indah bukan? Ya, indah, bagi yang menjalaninya sesuai dengan syariat. Tapi mengapa masih ada yang menganggapnya sebagai beban? Mengapa masih ada yang mengeluarka kata ‘Saufa..saufa..’ (nanti..nanti..) saat ditanya ‘kapan nikah’?

Lalu DIkasih makan Apa?

ijab qabul
/www.elmina-id.com

Belum bekerja, belum mapan, belum berpenghasilan tetap, dan belum bisa membiayai anak istri, menjadi alasan klasik sehingga banyak orang yang menunda pernikahannya. Selama ini mungkin kita sering memaklumi alasan-alasan itu sebagai alasan logis untuk menunda nikah sampai orang itu bekerja, berpenghasilan tetap, dan nanti nya setelah menikah sudah dirasakan mampu untuk membiayai hidupnya sehari-hari bersama istrinya.

Memang tak ada yang membantah bahwa kita memang butuh uang untuk melangsungkan nikah dan menjalani hidup berumah tangga. Mulai dari walimah yang disunahkan untuk dirayakan meski sederhana. Membeli mahar meski tak harus mahal dan juga tak harus materi. Sampai merencanakan kehidupan rumah tangga yang akan dijalani setelah proses ijab qabul terlaksana.

pernikahan
http://www.endymion-photo.com/

Kita tahu semua itu memang butuh dana. Tetapi yang sering kali kita lihat salah adalah persepsi tentang hidup berumah tangga yang berkecukupan itu seperti apa dan yang bagaimana. Apakah hidup dengan rumah yang mewah? Ataukah terdapat mobil mewah yang terparkir di halaman rumah? Islam tidak mengajarkan itu. Tak harus mewah. Tak harus punya uang yang berlimpah. Tak harus kerja tetap, yang inti adalah adanya penghasilan untuk kehidupan sehari-hari.

Islam mengajarkan keberanian mengambil sikap dalam hidup sebagai ciri kedewasaan. Kita bisa saksikan orang-orang besar dalam sejarah bukanlah orang yang dimanja dalam nikmatnya materi. Bukan pula yang menikmati rumah tangga dalam keberlimpahan uang.

Nikah, Pembuka Pintu Rezeki

ikatan suci
http://www.cafejudi.com/

Ada perdebatan yang sampai sekarang masih diperselisihkan, yaitu mapan dulu baru nikah atau nikah dulu baru mapan?

Selama ini alur hidup yang banyak dianut oleh masyarakat kita adalah mapan dulu baru nikah. Hidup sudah mapan, sudah mempunyai penghasilan tetap, yang sudah punya rumah sendiri baru dikatakan layak untuk menikah. Banyak orang tua yang menasihati anaknya, “Kalau bisa, kuliahnya cepet diselesaikan. Terus kerja. Jangan buru-buru nikah . nanti kalau sudah mapan sudah punya rumah sendiri, baru toh mikirin nikah.”

Logika tersebut tidak sepenuhnya benar. Justru agama menyuruh kita dengan logika yang berbalikan dengan logika yang dianut oleh masyarakat kita. Jika masyarakat menganut prinsip, “Kalau ingin menikah, maka mapankan hidupmu dulu!” , justru logika agama menganjurkan hal yan berlawanan, ‘Jika ingin segera hidup mapan, maka menikahlah!” atau dengan kalimat lain, “Kalau ingin hidup kaya, maka menikahlah!”

menikah
http://www.tips-cewek.com/

Mungkin kamu akan bertanya, “Bagaimana mungkin bisa kaya dengan menikah?” Simat kalimat langit yang memberi garansi ‘anti miskin’ bagi mereka yang melaksanakan pernikahan sebagai sarana untuk menjaga dirinya dari maksiat.

Dan NIkahkanlah orang-orang yang masih sendiri (belum nikah) diantara kalian, demikian pula orang-orang  yang saleh dari kalangan budak laki-laki dan budak perempuan kalian. Bila mereka dalam keadaan fakir maka Allah akan mencukupkan mereka dengan keutamaan dari-Nya(QS. An-Nur: 32)

Merenungi firman Allah yang dengan tegas itu, kita perlu khawatir ketika kita tidak menyegerakan untuk menikah dengan alasan takut tak bisa menanggung biaya hidup berumah tangga, bukankah sikap itu adalah bentuk keraguan terhadap firman Allah? Padahal Allah adalah Zat Yang paling menepati janji. Ya, tak tanggung-tanggng, Allah menjanjikan kehidupan yang berkecukupan bagi orang yang menikah.

 

loading...

LEAVE A REPLY