Gulalives.co, DEMAK – Masjid Agung Demak merupakan salah satu situs bersejarah yang penting dalam sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Masjid yang dirikan oleh Raden Fatah pada sekira 1401 atau abad ke-15 ini menjadi pusat berkumpulnya para Wali Songo ketika mengawali penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Masjid yang dibangun abad 15 itu menjadi pusat penyeberan agama Islam masa kerajaan Demak Bintoro, yang terkenal dengan Walisongo atau Sembilan Wali.

Masjid yang berlokasi di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ini meski sudah berusia ratusan tahun, tetap mempertahankan bangunan aslinya. Atapnya bersusun tiga berbentuk segitiga sama kaki mirip dengan pura umat Hindu sekaligus wujud akulturasi budaya setempat. Hingga kini, masjid yang termasuk masjid tertua di Indonesia ini, ramai dikunjungi wisatawan. Berikut ini sejumlah bagian menarik yang terdapat dalam bangunan Masjid Agung Demak. 

1. Pintu Bledeg

Pintu bledePintu bledeg atau petir ini pada masa Kesultanan Demak merupakan salah satu pintu utama Masjid Agung Demak yang digunakan sebagai antipetir. Pintu Baleg dibuat oleh Ki Ageng Selo sekira 1466 M/ 887 H.

Pintu baleg yang terbuat dari kayu jati ini dipenuhi ukiran tebal, ukiran yang paling menonjol adalah adanya dua kepala naga. Ukiran-ukiran itu dipercantik dengan diberi warna cat merah. Pintu ini juga merupakan prasasti Condro Sengkolo yang berbunyi “Nogo Mulat Saliro Wani”. Kini, tak lagi difungsikan sebagai pintu utama, namun dimuseumkan.

2. Saka Tatal dan Saka Guru

tatalDalam pembangunannya, konon ada empat saka (tiang utama) masjid buatan para wali. Yaitu Sunan Bonang, Sunan Gunungjati, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Nama empat wali itu masih ditempelkan pada empat tiang penyangga utama.

Tiang utama itu berbahan kayu jati. Konon Sunan Kalijaga membuat tiang itu menggunakan tatalan kayu (serpihan) yang kemudian diikat dan dirangkai hingga membentuk tiang besar panjang, sama dengan tiang-tiang wali lainnya. Hingga kini tiang buatan Sunan Kalijaga itu masih tetap awet lestari sesuai fungsinya sebagai penyangga utama masjid, bersama tiga tiang utama lainnya.

Empat tiang (saka guru) Masjid Agung Demak ini terbuat dari kayu jati dengan tinggi masing-masing 16 meter yang berfungsi sebagai penopang seluruh material masjid. Menurut cerita rakyat, tiang utama dan atap sirap masjid tersebut adalah hasil karya para wali, yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.

Salah satu saka guru, hasil karya Sunan Kalijaga, tidak terbuat dari kayu utuh sebagaimana layaknya tiang utama, tetapi dari potongan kayu (tatal) yang disusun dan diikat. Bagi masyarakat Demak dan sekitarnya terdapat cerita bahwa salah satu atap sirap Masjid Agung Demak terbuat dari intip (kerak nasi liwet) hasil buatan Sunan Kalijaga.

3. Kolam Wudhu

masjidKolam Wudhu ini merupakan bagian-bagian yang terdapat di lingkungan Masjid Agung Demak. Kolam yang dibangun mengiringi awal berdirinya masjid ini, difungsikan sebagai tempat wudhu. Kolam dengan ukuran 10×25 meter ini, di kedalaman lima meternya terdapat tiga batu dengan ukuran yang berbeda.

Batu berwarna hitam yang lebih besar itu berdiri tegak, sementara dua batu hitam tergeletak bersamaan dengan batu hias lainnya yang ukurannya lebih kecil. Kolam yang tak lagi difungsikan ini, konon adalah tempat berwudhu para Wali Songo. (DP)

 

loading...

LEAVE A REPLY