Krisis paruh baya yang ditandai dengan puber kedua ternyata hanyalah mitos.

Gulalives.co, JAKARTA – Saat seseorang memasuki usia paruh baya, atau memasuki rentang umur 40an, kerap terjadi kegalauan.  Hal ini khususnya terjadi pada pria, meski sejumlah wanita juga mengalaminya.

Di usia 40an, pria mencoba hobi baru yang selama ini tak pernah dilirik. Ada juga yang tiba-tiba genit, sehingga muncul istilah ‘puber kedua’. Tak jarang, banyak pria ‘terperosok’ dalam jurang perselingkuhan saat mereka mulai genit dengan wanita lain.

Petualangan cinta tampaknya menjadi ajang pembuktian pria bahwa mereka ‘masih laku’ menginjak usia kepala empat. Saat rambut menipis, uban bermunculan, pekerjaan stabil, mereka ingin tetap menjadi ‘sesuatu’ yang menarik minat lawan jenis yang lebih muda.

Krisis paruh baya yang ditandai dengan puber kedua ternyata hanyalah mitos. Foto: plus. google
Krisis paruh baya yang ditandai dengan puber kedua ternyata hanyalah mitos. Foto: plus. google

Tapi, sebuah penelitian baru yang dilakukan di University of Alberta, Kanada, menyebut bahwa krisis paruh baya hanyalah mitos. “Krisis paruh baya sekarang menjadi fenomena yang diterima umum di dunia,” kata Harvey Krahn, kepala peneliti. Studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal Developmental Psychology.

Tertarik dengan fenomena tersebut, Krahn melakukan penelitian untuk membuktikan adanya ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan saat seseorang memasuki usia paruh baya.

Hasilnya, studi yang dilakukan Krahn menyimpulkan bahwa krisis paruh baya, hanyalah mitos belaka. “Selama 50 tahun lebih, kita percaya bahwa kurva kebahagiaan berbentuk seperti huruf U dengan level bahagia terendah di usia paruh baya. Tapi penelitian kami menemukan sebaliknya,” ujar Krahn seperti dilansir laman Daily Mail.

Krisis paruh baya yang ditandai dengan puber kedua ternyata hanyalah mitos. Foto: wowmenariknya
Krisis paruh baya yang ditandai dengan puber kedua ternyata hanyalah mitos. Foto: wowmenariknya

Dia menemukan bahwa bahagia tidak berkurang dan berhenti di usia 40an ke atas, melainkan terus bertambah dari saat remaja hingga mencapai usia senja.

Studi yang dilakukan Krahn juga diklaim lebih valid karena menggunakan metoda longitudinal, bukannya lintas faktor. “Dalam penelitian ini, kebahagiaan seseorang diukur seiring berjalannya waktu. Dengan begitu, tingkat kebahagiaan terus terukur saat usia seseorang bertambah,” jelas Krahn.

Para peneliti mengikuti dua kelompok besar, yakni kelompok asal salah satu sekolah menengah di Kanada berusia 18-43 tahun dan kelompok dari salah satu universitas berusia 23-37 tahun. Kedua kelompok tersebut menunjukkan kebahagiaan tertinggi berada di usia 30an dan hanya sedikit menurun saat memasuki usia 40an.

Penelitian itu juga melibatkan berbagai kejadian besar dalam hidup para partisipan, seperti putus-sambung hubungan asmara, pekerjaan, serta hubungan dengan keluarga.

Krisis paruh baya yang ditandai dengan puber kedua ternyata hanyalah mitos. Foto: vemale
Krisis paruh baya yang ditandai dengan puber kedua ternyata hanyalah mitos. Foto: vemale

“Kami menemukan orang-orang merasa lebih puas dan bahagia setelah mereka menikah, atau punya kondisi fisik yang prima, sementara mereka paling tidak bahagia saat tidak punya pekerjaan. Semua itu, tidak berkaitan dengan usia,” ujar Krahn.

Jadi nih, hapus deh anggapan kalau puber kedua itu memang hal wajar. Jangan sampai pasangan memakai landasan ini untuk membenarkan tindakannya bergenit-genit kepada lawan jenis yang lebih muda.

Para istri sudah seharusnya menyalakan alarm tanda bahaya saat suami mulai bersikap di luar kewajaran. Misalnya lebih suka berdandan, tampil wangi dan senyam senyum macam anak puber yang lagi jatuh cinta. (VW)

 

loading...

LEAVE A REPLY