Para jomblo cenderung boros belanja selama buan Ramadhan. Foto: tribunnews

Gulalives.co, JAKARTA – Coba perhatikan, kalau bulan puasa Ramadhan, pengeluaran kenapa malah melonjak dibandingkan bulan-bulan lain di luar Ramadhan? Satu dari tiap tiga shoppers (pembelanja) mengatakan bahwa THR (Tunjangan Hari Raya) yang mereka terima tidak mencukupi untuk menutupi lonjakan belanja bulanan mereka selama bulan puasa.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Menarik menyimak pemaparan Iwan Murty, direktur pelaksana dan juga shareholder dari Ipsos Indonesia.

Iwan Murty. Foto: twitter
Iwan Murty. Foto: twitter

Kita lihat beberapa hipotesa yang biasanya terjadi. Pertama, setiap kali memasuki bulan puasa harga barang-barang kebutuhan sehari-hari melonjak naik. THR baru diterima 2 minggu sebelum hari Raya Idul Fitri, sedangkan harga-harga sudah melonjak begitu memasuki awal bulan puasa.

Kedua, beberapa kebiasaan selama bulan puasa dapat memberikan penjelasan lainnya.  Selama bulan puasa, ibu rumah tangga berusaha menyajikan yang terbaik bagi keluarganya untuk sahur maupun buka puasa, baik dari segi kuantitas, ataupun kualitas dengan membeli produk-produk yang sedikit lebih premium.

Para jomblo cenderung boros belanja selama buan Ramadhan. Foto: katalogibu
Para jomblo cenderung boros belanja selama buan Ramadhan. Foto: katalogibu

Juga ada kebiasan memberikan kudapan (takjil) atau makanan kepada anak-anak sebagai ‘hadiah’ mereka karena telah melakukan puasa dengan baik di hari tersebut. Hingga membuat pengeluaran bertambah.

Penjelasan yang ketiga sangat relevan untuk keluarga yang sudah memiliki anak di usia sekolah. Sudah sekitar 3 tahun berturut-turut, bulan puasa dan Lebaran berdekatan atau bersamaan dengan tahun ajaran baru.

Bahkan di tahun ini dan 2 tahun ke depan, bulan puasa berlangsung bersamaan dengan libur sekolah. Orangtua sangat paham, pada saat libur sekolah tanpa ada hari raya saja, pengeluaran belanja bertambah.

Para jomblo cenderung boros belanja selama buan Ramadhan. Foto: kompas
Para jomblo cenderung boros belanja selama buan Ramadhan. Foto: kompas

Menariknya lonjakan pengeluaran bulanan ini juga terjadi di antara para jomblo!  Jumlah jomblo yang merasa tambahan pengeluaran selama bulan puasa memberatkan sama tingginya (55%) dengan keluarga yang sudah memiliki anak (53%). Jumlah yang paling sedikit adalah pasangan yang menikah tanpa anak (44%).

Untuk para jomblo, lonjakan ini kemungkinan disebabkan oleh seringnya buka bersama makan di restoran.

Bagaimana shoppers menyiasati hal ini?  Satu dari tiga shoppers ini menyatakan bahwa mereka harus meminjam uang untuk menutupi lonjakan pengeluaran mereka. Menariknya ternyata hal meminjam ini terjadi sedikit lebih banyak di kalangan kelas ekonomi atas dibandingkan dengan kelas menengah bawah.

Para jomblo cenderung boros belanja selama buan Ramadhan. Foto: theasianparent
Para jomblo cenderung boros belanja selama buan Ramadhan. Foto: theasianparent

Survei ini dilakukan dari 9 sampai 12 Juni 2016 kepada modern trade shoppers dengan jumlah lebih dari n=1,300 shoppers yang merupakan bagian dari 500,000+ anggota panel SnapCart (www.snapcart.co.id ).  Pengumpulan data dilakukan melalui smartphone milik shoppers melalui  aplikasi Snapcart.

Iwan Murty memulai karirnya sebagai marketing researcher pada tahun 1992 setelah menyelesaikan pendidikan di Business (marketing) di Monash University Australia.

Karirnya dimulai sebagai staff data entry, dan Iwan berhasil memulai 3 agensi besar di Indonesia: 2001 Research International, 2006 Central Data dan di tahun 2008 Ipsos Indonesia. Posisi terakhir Iwan adalah sebagai Managing Director dan juga shareholder dari Ipsos Indonesia sampai tahun 2016 ini.

Di tahun 2014, Iwan menyelesaikan pendidikan MBA nya di National University of Singapore.  Iwan merupakan anggota ESOMAR sejak 2007.

Iwan beberapa kali memberikan seminar pada forum marketing dan terakhir mempresentasikan studinya di acara ESOMAR Asia Pacific di Tokyo 2016. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY