Shanghai adalah kota di Cina dengan pertumbuhan pesat.

Gulalives.co, JAKARTA – Shanghai, kota yang tengah berkembang pesat di Cina ini menjadi incaran dan bahkan tujuan para ekspatriat untuk berburu pekerjaan dan menetap di sana.

Alasannya jelas, para ekspatriat di sini mempunyai peluang menarik karena ini adalah kota yang masih tumbuh, dan banyak di antara mereka pindah ke Shanghai.

Sebagian besar ekspatriat berpendapat bahwa biaya hidup di Shanghai tidak mahal -mungkin karena pendapatan mereka lebih tinggi.

Di Cina, orang asing berpendapatan rata-rata US$158.000 per tahun, sekitar Rp2,1 miliar, jadi lebih besar dibandingkan rata-rata pendapatan global US$104.000, setara dengan Rp1,3 miliar, sebagaimana terungkap dalam survei Expat Exporer keluaran HSBC 2015.

Banyak kalangan profesional menempati posisi di jajaran manajemen, dan digaji tinggi untuk pindah ke Shanghai, meskipun terdapat hambatan kultural dan polusi udara yang memburuk. Sebagian bahkan ditawari kompensasi bahaya polusi. Salah satu kekurangan Shanghai adalah polusi udaranya.

Shanghai adalah kota di Cina dengan pertumbuhan pesat. Foto: marylandreporter
Shanghai adalah kota di Cina dengan pertumbuhan pesat. Foto: marylandreporter

Namun selama beberapa tahun terakhir, tingkat polusi udara semakin memburuk di Shanghai. Pada hari-hari tertentu, kualitas udara dipandang ‘sangat tak sehat’ tetapi tak sampai mencapai tingkat ‘berbahaya’ seperti yang dialami penduduk Beijing.

Tetapi kehidupan serba gemerlap dan banyak kenyamanan di Shanghai punya sisi negatif, seperti terungkap oleh survei baru-baru ini yang dilakukan oleh konsultan korporasi ECA International.

Dari segi biaya hidup, Shanghai ternyata melampaui kota-kota metropolitan lain di Asia dan tercatat sebagai kota paling mahal bagi ekspatriat di benua Asia.

Survei itu memang hanya membandingkan barang-barang konsumen dan jasa, dan tidak mencakup perumahan atau pendapatan. Tapi penelitian-penelitian lain juga menunjukkan bahwa kota berpenduduk lebih dari 24 juta itu bisa menjadi salah satu kota paling mahal di dunia.

Meski dipandang sebagai kota mahal di Asia, namun hal itu tak menyurutkan minat orang-orang untuk datang dan bahkan menetap di Shanghai. Apa saja sih pertimbangan mereka memilih Shanghai? Berikut alasannya:

1. Biaya hidup murah

Shanghai adalah kota di Cina dengan pertumbuhan pesat. Foto: kompasiana
Shanghai adalah kota di Cina dengan pertumbuhan pesat. Foto: kompasiana

Kecuali mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang kenyamanan rumah seperti produk-produk susu atau produk pertanian segar, biaya hidup di Shanghai sebenarnya bisa terjangkau, setidaknya jika dibandingkan dengan Hong Kong.

Makan siang di restoran-restoran Barat biasanya kurang dari US$10 atau sektiar Rp130.000 dan uang sebesar itu juga sama dengan ongkos naik taksi di kota. Jika kita menggunakan sistem kereta bawah tanah yang jaringannya luas dan modern, biaya yang diperlukan tak lebih dari Rp15.000 atau setara US$1.

Tak hanya pendapatan mereka lebih tinggi dibandingkan ketika tinggal di Barat, tetapi -kecuali polusi udara- gaya hidup juga membaik.

2. Tempat hebat

Shanghai adalah kota di Cina dengan pertumbuhan pesat. Foto: travel. grivy
Shanghai adalah kota di Cina dengan pertumbuhan pesat. Foto: travel. grivy

“Ini tempat hebat bagi orang asing,” kata Carlby Xie, direktur riset Cina untuk perusahaan properti Colliers International seperti dikutip laman BBC.

Secara keseluruhan, getaran yang ada adalah kosmopolitan dan modern, dan sikap umum terhadap orang asing adalah ramah.

Perumahan, bagaimanapun juga, adalah kekhawatiran terbesar bagi orang asing, dan harga sewa bervariasi tergantung pada lokasi.

Secara umum, sebagaimana disimpulkan oleh Colliers, biaya sewa sekitar US$29 (Rp375.000) per meter persegi, tetapi ekspatriat sering membayar lebih tinggi karena bagi mereka, lokasinya penting, kata Xie.

Bagaimanapun kaum profesional warga asing yang sudah lama tinggal di Shanghai mengeluh karena pengeluaran meroket hanya dalam beberapa tahun.

Suasana kota Shanghai di Cina. Foto: natgeo
Suasana kota Shanghai di Cina. Foto: natgeo

Berakhir sudah era ketika apartemen satu ruang tidur yang modern dan terletak di tengah kota sewanya tak lebih dari 3.000 yuan (sekitar US$450)) per bulan. Harga sewa sekarang dua kali lipat, tergantung lokasi.

Bekas wilayah French Concession di tengah kota Shanghai merupakan salah satu lokasi paling populer, yang menawarkan rumah-rumah besar mewah dengan dinding segitiga, puncak menara dan menara.

Studio kecil di sini sewanya mencapai US$1.200 per bulan atau bahkan lebih mahal lagi. Bagi orang asing golongan muda yang belum punya banyak pengalaman kerja, biaya sewa bisa menelan dua pertiga dari gaji mereka, kata Xie.

3. Sekolah banyak tersedia

Biaya pendidikan bagi seorang anak mulai sekitar US$1.500 atau sekitar Rp20 juta per bulan, tergantung pada usia dan sekolah. Sedang apartemen dengan layanan lengkap yang ruangannya cukup untuk mengakomodasi keluarga kecil, mematok harga sewa mulai sekitar US$3.500 per bulan, atau sekitar Rp45 juta.

Suasana kota Shanghai di Cina. Foto: ciee.org
Suasana kota Shanghai di Cina. Foto: ciee.org

Namun demikian, sebagian besar dari pengeluaran tak dibayar langsung ekspatriat.

“Jika kita ditempatkan oleh perusahaan dan menduduki posisi eksekutif, kita berhak mendapatkan paket dan perusahaan membayar biaya perumahan dan lain sebagainya, jadi kita bisa menabung banyak,” ujar Xie.

Kalau pun perusahaan tak memberikan paket, biaya pendidikan dan biaya sewa tak sampai menguras rekening. Setidaknya 25 persen ekspatriat di Cina berpenghasilan US$300.000 per tahun, proporsi tertinggi di negara mana pun yang pernah disurvei oleh HSBC.

“Tak peduli jika mereka adalah warga Jerman, Inggris, Australia atau Singapura, mereka semua datang ke Shanghai untuk mencari uang. Sebagian dari mereka tinggal selama dua hingga lima tahun, tergantung pada kemampuan mereka beradaptasi, dan ketika mereka sudah mempunyai cukup tabungan, mereka pulang kampung dan menanamkan modal di real estate.”

4. Pekerjaan dan regulasi

Para manajer, bankir, insinyur, profesi IT, arsitek, desainer dan pekerja yang terampil dan berpengalaman yang merupakan warga asing akan selalu menemukan pekerjaan bergaji tinggi di Shanghai.

Suasana kota Shanghai di Cina. Foto: cunard
Suasana kota Shanghai di Cina. Foto: cunard

Pemasaran, penjualan, hubungan masyarakat, dan merek adalah sektor-sektor yang tak memerlukan banyak pengalaman.

Pencarian di situs LinkedIn dan SmartShanghai akan menampilkan hasil pencarian untuk posisi-posisi yang tak melibatkan pihak pencari bakat.

Preferensi diberikan kepada mereka yang bisa berbiara dalam bahasa Mandarin dasar dan jika kita berusaha mendalami bahasa ini maka akan membuahkan hasil, tak hanya ketika mencari pekerjaan.

Penduduk Shanghai benar-benar sangat membantu dan sering terkesan jika orang asing bisa berbahasa Cina sekalipun minim.

Namun jika Anda benar-benar pindah ke Shanghai dan mendapatkan pekerjaan di sini, jangan buru-buru berkemas. Proses pengajuan visa bisa sangat meletihkan, meskipun perusahaan yang menanganinya.

Untuk mendapatkan visa Z, yang memungkinkan warga asing bekerja secara sah di perusahaan di Shanghai, maka diperlukan sejumlah dokumen dan sertifikat, mulai dari akta kelahiran hingga tes kesehatan, termasuk tes kesehatan untuk infeksi menular seksual.

Permohonan ini dapat memakan waktu beberapa bulan dan peraturan sering berubah. Begitulah. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY