Grande Mosque de Paris

Jakarta (Gulalives.co) – Beberapa pekan ini, pesepakbola Eropa bertemu dan bertarung di Paris dan kota-kota lain di Prancis guna meraih gelar kehormatan di ajang Piala Eropa 2016. Guna melempangkan obsesi itu, mereka (terutama pemain yang beragama Islam) menyempatkan waktu mendatangi Grande Mosque de Paris untuk sholat dan memanjatkan doa.

Seperti muslim lain, mereka memiliki alasan kuat untuk berwudlu dan mendirikan sholat di masjid termegah di Prancis tersebut. Apalagi, lokasinya juga tak terlalu jauh dari Stade de Frances, Paris, stadion utama pertandingan Piala Eropa 2016. Faktor lokasi ini pula yang memudahkan akses mereka menuju masjid. Datang ke Paris tanpa berkunjung dan sholat di Grande Mosque de Paris, sangat disayangkan.

Para pemain bola Eropa yang bergama Islam, tentunya juga tidak ingin menghabiskan waktunya hanya di stadion. Di sela agenda ketat Piala Eropa, pastinya ada waktu-waktu khusus untuk berkunjung ke Grande Mosque de Paris. Pengalaman religius dan kesan mendalam saat sholat di masjid tua itu akan melesat dan tersimpan di kalbu.Bahkan, saat kembali ke negara masing-masing kesan itu masih membara.

Grande Mosque de Paris
Grande Mosque de Paris

Tak hanya kemegahan bangunan fisik, masjid ini juga memiliki nilai sejarah yang sangat istimewa. Ini lah Masjid Raya Paris pertama yang dibangun di Prancis dan merupakan masjid terbesar di Eropa Barat.

Masjid ini didirikan setelah berakhirnya Perang Dunia I sebagai tanda terima kasih Prancis kepada komunitas Muslim di sana, yang ikut melawan pasukan Jerman dalam sebuah pertempuran di daerah perbukitan utara Kota Verdun-sur-Meuse di wilayah bagian utara-timur Prancis pada 1916. Dalam peperangan tersebut, sekitar 100 ribu tentara Muslim tewas.
Masjid ini dibangun mengikuti gaya mudéjar. Menaranya memiliki tinggi 33 meter. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Gaston Doumergue pada tanggal 15 Juli 1926. Ahmad al-Alawi (1869-1934), seorang Sufi Aljazair, pendiri salah satu ajaran Sufi modern Darqawiyya Alawiyya, cabang dari Shadhiliyya, menjadi imam salat pertama dalam peresmian masjid di hadapan presiden Perancis pada masa itu. Masjid Raya Paris saat ini dipimpin oleh mufti Dalil Boubakeur, yang juga menjabat sebagai presiden Dewan Muslim Perancis yang dibentuk tahun 2002.

Grande Mosque de Paris
Grande Mosque de Paris

Dibangun di atas lahan seluas satu hektare di daerah komunitas Latin (distrik kelima di Paris), Masjid Raya Paris memperlihatkan keagungan sebuah bangunan Islam yang ditunjukkan lewat desain arsitektur dan mozaik-mozaiknya. Masjid ini memperlihatkan aspek klasik dan perkembangan peradaban seni Islam. Pendirian tempat ibadah ini juga mencerminkan bentuk ajaran yang sangat toleran dan jelas dari agama dan budaya Islam.

Seluruh pendanaan masjid yang dibangun di lokasi bekas Rumah Sakit Mercy ini disediakan oleh Pemerintah Prancis. Peletakan batu pertama dilakukan pada 1922. Disinggung sebelumnya, pada 15 Juli 1926, bangunan Grande Mosqu‚e de Paris diresmikan secara simbolis oleh presiden Prancis saat itu Gaston Doumergue.

Grande Mosque de Paris
Grande Mosque de Paris

Jika dibangun pertama kali pada 1922, maka tahun ini usianya telah mencapai 94 tahun, hampir satu abad. Namun, dengan usia yang terbilang tua itu, bangunan fisik dan lingkungan luar dan dalam masjid tetap terawat dan tertata.
Lorong-lorong nan berliku yang menghuungkan berbagai ruangan, terlihat rapi dan bersih. Pemandangan serupa juga terlihat di masing-masing ruangan, seperti perpustakaan, madrasah dan kantor pengurus masjid. Dan pengunjung akan terkesima saat memasuki bagian utama masjid. Di sini lah, di atas hamparan karpet pemberian Raja Iran, Shah Reza Pahlevi, tempat salat bagi jamaah pria dan wanita.

Kebersihan, kesejukan, dan ketenangan bagian utama masjid ini mendorong pengunjung untuk segera mendirikan sholat. (Senandung Bening/AA)

loading...

LEAVE A REPLY