Tata cara mandi junub. Foto: bersamadakwah.net

Gulalives.co, JAKARTA – Saat malam hari suhu terasa dingin, banyak orang berat untuk melakukan mandi besaralias mandi junub  di malam hari. Biasanya akan menunda mandi besarnya hingga saat akan melaksanakan salat subuh.

Ketika mereka ingin salat subuh, barulah mereka mandi junub. Padahal kita tahu bersama bahwa waktu puasa ialah menahan diri dari berbagai pembatalan mulai dari terbit fajar subuh hingga terbenamnya matahari. Masalahnya apakah puasa tetap sah jika baru mandi setelah masuk subuh?

Pertanyaan seperti ini sering kali terdengar. Jawabnya dapat dilihat dari Al-Quran Surat Albaqarah ayat 187  yang artinya… “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu , dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”

Tata cara mandi junub.
Tata cara mandi junub.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah masih membolehkan berhubungan badan antara suami istri sampai terbit fajar subuh. Walaupun ketika masuk subuh, masih dalam keadaan junub, ia tetap boleh berpuasa ketika itu. Yang penting, ia berhenti berhubungan badan sebelum masuk waktu subuh.

Jika sudah diketahui bahwa apabila seseorang masuk waktu subuh dalam keadaan junub, puasanya tetap sah, ada suatu catatan yang perlu diperhatikan. Orang tersebut tentulah harus menyegerakan mandi. Terutama untuk laki-laki, ia harus menyegerakan mandi junub agar bisa ikut salat subuh berjama’ah di masjid karena memang laki-laki wajib untuk berjama’ah.

Lantas, kapan seseorang harus melakukan mandi junub, apakah setiap cairan yang keluar dari kemaluan membuat seseorang harus mandi wajib?

Ternyata terkait dengan cairan yang dikeluarkan dari organ kelamin pria/wanita, tak semuanya diwajibkan mandi junub. Ada perbedaan antara mani, madzi dan wadi. Mari kita ulas dalam paparan berikut ini:

Tata cara mandi junub. Foto: harianjogja
Tata cara mandi junub. Foto: harianjogja

1. Mani

Mani atau sperma itu tidak najis, tetapi seseorang yang mengeluarkannya wajib mandi besar.Ciri-ciri mani ialah mani lelaki berbentuk cairan pekat berwarna putih, adapun mani wanita encer berwarna kuning. Baunya ketika basah seperti bau adonan roti dan tepung, sedang ketika sudah mengering seperti bau telur. Keluarnya memuncrat (pada lai-laki). Berasa nikmat ketika keluar dan setelah itu melemahlah dzakar dan syahwat.

2. Madzi

Madzi adalah cairan putih-bening-lengket yang keluar ketika dalam kondisi syahwat, tidak muncrat, dan setelah keluar tidak menyebabkan lemas. Keluarnya madzi tidak hanya dialami oleh kaum laki-laki saja, tetapi perempuan juga mengalaminya. Kadang-kadang keluarnya madzi tidak terasa.

3.Wadi

Wadi adalah cairan putih-kental-keruh yang tidak berbau. Wadi dari sisi kekentalannya mirip mani, tapi dari sisi kekeruhannya berbeda dengan mani. Biasanya wadi keluar setelah kencing atau setelah mengangkat beban yang berat. Dan keluarnya bisa setetes atau dua tetes, bahkan bisa saja lebih.

Dari ketiga penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan, jika yang keluar dari kemaluannya adalah mani maka hukumnya adalah wajib mandi. Sedangkan jika yang keluar adalah madzi atau wadi maka menurut ijma` para ulama tidak mengharuskan mandi, tetapi harus dibersihkan karena keduanya adalah najis, baru kemudian melakukan wudlu jika ingin mengerjakan salat.

Semoga informasi ini berguna untuk kita semua, Sobat Gulalives. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY