Teman yang suka bohong (foto: kabarfemale.com)

Gulalives.co, JAKARTA- Ketika memasuki gerbang pernikahan, pasangan suami istri tentu harus menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu pula dengan masa lalu suami atau istri yang mungkin terjadi kekhilafan.

Jika aib masa lalu yang kita tutupi rapat-rapat tiba-tiba tersingkap oleh pasangan, bolehkah seorang istri berdusta? Begitu pula jika seorang istri berdusta tentang masalah rumah tangga, yang jika ia jujur masalah lebih besar akan datang. Bolehkah berdusta dalam hal seperti itu?

1. Pada dasarnya berbohong adalah perbuatan yang dilarang

Berbohong sumber foto: authenticintimacy.com
Berbohong sumber foto: authenticintimacy.com

Pada dasarnya berdusta adalah perbuatan yang dilarang. Berbohong juga satu dari tiga ciri orang munafik. Allah menegaskan jika setiap indra yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah.

Perbuatan dusta juga pasti tercatat oleh Allah SWT. Sehingga tak seorang pun dapat lari dari konsekuensinya. Ancaman nyata dari orang yang gemar berdusta adalah neraka. Karena seseorang yang gemar mengungkapkan perkataan dusta akan menyeretnya untuk melakukan perbuatan maksiat lainnya.

“Jauhilah oleh kalian perbuatan dusta. Sesungguhnya dusta itu mengantarkan ke jalan kemaksiatan dan sesungguhnya kemaksiatan itu menyeret ke dalam neraka.” (HR Bukhari-Muslim). Dusta juga bisa menyeret seseorang ke dalam dosa besar jika berbohong atas nama Allah dan Rasul-Nya atau sumpah palsu.

2. Boleh berbohong jika kondisi tertentu

plus.google.com
plus.google.com

Meski kaidah umum berdusta adalah terlarang, namun beberapa ulama memandang ada beberapa perbuatan dusta yang diperbolehkan. Imam Nawawi dalam Riyadush Shalihin bahkan memasukkan satu bab khusus tentang dusta yang diperbolehkan. Imam Nawawi menyebut ada beberapa kondisi yang membuat dusta boleh dilakukan.

Imam Nawawi menerangkan, ucapan adalah sarana untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan yang baik yang bisa dicapai tanpa harus berbohong, maka haram hukumnya berdusta. Namun jika untuk mencapai tujuan itu, satu-satunya jalan adalah dengan berbohong, maka berdusta boleh dilakukan.

Hukum berbohong dalam kondisi sebagai satu-satunya jalan keluar juga bertingkat. “Jika tujuannya mubah maka berbohong juga mubah, jika tujuannya wajib maka berbohong juga wajib,” tulis Imam Nawawi.

Kaidah yang dipakai dalam hal ini adalah hadis riwayat Muslim dari Ummu Kultsum. Ummu Kultsum berkata, “Aku tidak pernah mendengar Beliau SAW memberi keringanan tentang suatu pembicaraan orang-orang dusta, kecuali dalam tiga hal. Yakni peperangan, memperbaiki hubungan antarsesama, serta pembicaraan seorang suami kepada istrinya dan seorang istri kepada suaminya.”

Dalam hal ini, maka diperbolehkan dalam hubungan keluarga seorang istri memilih berbohong kepada suaminya jika dengan jujur, justru akan mendatangkan madharat yang lebih besar.

3. Berbohong tentang aib masa lalu

plus.google.com
plus.google.com

Syekh Yusuf Qaradhawi juga menegaskan alangkah tidak bijaksananya seorang istri menceritakan terus terang kepada suami misalnya kisah cintanya pada masa lalu yang telah dihapuskan dan ditutup aibnya. Bahkan jika seorang suami memaksa istri untuk bersumpah guna menceritakan masa lalunya, Syekh Qaradhawi memandang paksaan suami tersebut tidak bijak. Pertama karena mengungkit masa lalu adlah tindakan yang sia-sia. Kedua sumpah tersebut tidak akan menyelesaikan masalah rumah tangga tersebut.

4. Berbohong akan hal yang tidak disukai dari suami

Kebohongan Pasangan (clear.co.id)
Kebohongan Pasangan (clear.co.id)

Diperbolehkannya berdusta dalam rumah tangga ini juga ditegaskan Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA. Saat ia ditanya istri Ibnu Abi ‘Udzrah tentang apakah boleh seorang wanita boleh berdusta lantaran diminta bersumpah oleh suami? Umar menjawab seseorang itu boleh berdusta termasuk jika seorang istri tidak menyukai hal-hal tertentu pada suami, ia boleh tidak jujur padanya.

Namun batasan berbohong dalam rumah tangga adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban masing-masing pihak. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari  mengatakan ulama sepakat jika yang dimaksud bohong antara suami-istri yang diperbolehkan adalah bohong yang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

loading...

LEAVE A REPLY