sumber: www.huffingtonpost.com

Gulalives.co, JAKARTA – Pernikahan harus dibentuk atas dasar saling melengkapi. Suami memenuhi nafkah kepada keluarga dan istri melakukan kewajiban-kewajiban rumah tangga. Peran dan tanggung jawab keduanya telah diatur dalam Islam.

Salah satunya adalah kewajiban suami memberi nafkah lahir batin kepada keluarga. Keutamaan suami menafkahi keluarga ini sangat besar. Rosulullah bersabda, “Sebak-baiknya kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya”.

Dalam hadis lain riwayat Muslim juga disebutkan satu dinar untuk nafkah pada keluarga jauh lebih baik dibanding satu dinar untuk jihad, sedekah dan memerdekakan budak. Lalu bagaimana jika suami memiliki sikap kikir terhadap istri dan anaknya? Apa yang harus dilakukan istri?

1. Beri nafkah sesuai kebutuhan namun tak boleh kikir

sumber: lifehacker.com
sumber: lifehacker.com

Syekh Yusuf Qaradhawi dalam Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah menyayangkan sikap kikir seorang suami dalam menafkahi keluarganya. Syekh Qaradhawi menulis seorang suami tak boleh bersikap kikir ataupun berlebihan dalam memberi nafkah. Hendaknya memberi nafakah sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut nafkah seorang suami haruslah sedang. Tidak kikir, tidak pula israf (berlebihan). Sesuai dengan firman Allah SWT.

Ibnu Qudamah menerangkan cara memberi nafkah yang ma’ruf adalah ukuran yang mencukupi. Besaran nafkah tidak dijabarkan, namun diperkirakan cukup untuk menutupi kebutuhan. Bahkan jika diperlukan besarannya, seorang hakim bisa menyebut ukuran nafkah yang disebut mencukupi.

Misalnya makanan pokok dan lauk-pauk sesuai adat kebiasaan di tempat tersebut. Bahkan secara khusus, Imam Syafii berkata jika kondisi miskin nafkah yang diberikan satu mud (sekitar 675 gram beras), ekonomi sedang satu setengah mud dan orang kaya dua mud. Abu Hanifah menambahkan orang kaya wajib memberi nafkah tujuh sampai delapan dirham per bulan. Jika ekonominya sulit empat hingga lima dirham per bulan.

2. Istri tak boleh mengambil harta suami tanpa izin

sumber:abcnews.go.com
sumber:abcnews.go.com

Jika suami pelit, bolehkan mengambil harta suami tanpa izin? Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi menegaskan seorang istri tidak boleh mengambil harta suami tanpa seizinnya. Namun jika suami tidak memberikan nafkah secara penuh, seorang istri boleh mengambil harta suami sesuai kadar kebutuhan istri dan anak-anak.

Syekh Abdullah bin Baz mensyaratkan tidak boleh mengambil harta suami secara berlebihan. Hal ini didasarkan pada hadis shahih Bukhari dan Muslim. Dari Aisyah RA yang menyatakan bahwa Hindun binti ‘Utbah datang kepada Nabi SAW dan berkata “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan tidak memberikan nafkah yang cukup untuk saya dan anak-anak. Nabi SAW menjawab ‘Ambillah dari kekayaannya dengan cara baik dan benar dengan jumlah yang akan mencukupimu dan anakmu.'”

3. Boleh mengambil harta suami, jika..

sumber: money.usnews.com
sumber: money.usnews.com

Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi menambahkan jika berada dalam kondisi terdesak, maka tidak ada kafarat yang harus dibayar. Namun jika kondisinya tidak demikian, maka istri wajib mengembalikan harta suaminya, dan boleh dengan diam-diam jika khawatir akan membuat kekacauan atau suaminya menjadi marah.

Syekh Qaradhawi menegaskan hadis soal Hindun diatas tak terbatas pada makanan dan minuman saja. Mengambil dengan cara ma’ruf mencakup perlengkapan yang harus dipenuhi. Yang apabilatidak terpenuhi akan menimbulkan keretakan dan kerusakan. Dan tasfir atas kadar ma’ruf berbeda-beda menurut kondisi orang, waktu dan daerah. [LP]

loading...

LEAVE A REPLY