Orangtua harus berhenti memanjakan anak karena hal ini membuatnya bermental lemah

Gulalives.co, JAKARTA – Beberapa hari ini kita dikejutkan dengan meninggalnya seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang bunuh diri karena masalah studi.

Sangatlah disayangkan, mahasiswa ini bukanlah orang yang bodoh. Malahan sejatinya dia orang terpilih karena bisa lolos sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi bergengsi.

Mahasiswa yang meninggal akibat gantung diri ini sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas merupakan siswa berprestasi. Kata gagal tampaknya tak ada dalam kamusnya. Hingga suatu ketika ia menemukan ‘penghalang’ yaitu nilai akademiknya anjlok, tampaknya hal ini membuatnya stres.

Anak-anak, kata psikolog dan pakar parenting Elly Risman, harusnya dididik yang mendorongnya mandiri, bukan malah memanjakannya.

“Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi Allah yang mana nanti. Orangtua jangan memainkan semua peran, ya jadi ibu, jadi koki, jadi tukang cuci, jadi ayah, jadi supir, jadi tukang ledeng. Anda bukan tim SAR,” kata Elly.

Jika anak sering ditolong dan dimanjakan, dituntun dalam segala hal, perilaku orangtua semacam ini justru menempatkan anak dalam bahaya. Dan ini tidak ada sinyal SOS, kata Elly.

Membantu dan memanjakan anak hanya menjadikannya tidak bermental tangguh. Foto: duniaamerahh.blogspot
Selalu membantu dan memanjakan anak hanya menjadikannya tidak bermental tangguh. Foto: duniaamerahh.blogspot

“Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya. Dan menolong anak terus menerus tanpa membiarkannya berusaha,” ujar psikolog senior ini.

Jika anak mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, kemudian ayah atau ibunya maju untuk menyelesaikan, kaan anak belajarnya?

Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana, lantas apa yang terjadi ketika bencana benar-benar datang?

“Berikan anak-anak kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri. Kemampuan menangani stres. Menyelesaikan masalah, dan mencari solusi. Itu semua merupakan keterampilan yang wajib dimiliki setiap anak,” kata Elly.

Selalu membantu dan memanjakan anak hanya menjadikannya tidak bermental tangguh. Foto: pendidikankarakter
Selalu membantu dan memanjakan anak hanya menjadikannya tidak bermental tangguh. Foto: pendidikankarakter

Dia menambahkan, agar kemampuan anak terasah, keterampilan ini harus terus dilatih. “Skill ini tidak akan muncul begitu saja hanya dengan simsalabim,” tegasnya.

Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan. “Bukan saja bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi,tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak,” beber Elly.
Tampaknya hal seperti ini terlihat sepele. “Apa salahnya sih kita membantu anak?” Mungkin begitu pembelaan orangtua yang ‘tidak tega’ anaknya berjuang atas kemampuan sendiri.

Ketahuilah Ayah, Bunda, jika orangtua segera bergegas menyelamatkan anak-anak dari segala kesulitan, dia akan menjadi ringkih dan mudah layu. “Sakit sedikit, mengeluh. Berantem sedikit, minta cerai (bagi yang sudah menikah). Ada masalah sedikit, jadi gila,” kata Elly memberi contoh.

Selalu membantu dan memanjakan anak hanya menjadikannya tidak bermental tangguh. Foto: tribunnews
Selalu membantu dan memanjakan anak hanya menjadikannya tidak bermental tangguh. Foto: tribunnews

Elly Risman menambahkan, apabila orangtua menghabiskan banyak waktu, perhatian, dan uang untuk IQnya (intelegensia), maka habiskan pula hal yang sama untuk AQ-nya.

Apakah AQ? Ini adalah Adversity Quotient. Menurut Paul G. Stoltz, AQ adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

“Bukankah kecerdasan ini lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?  Perasaan mampu melewati ujian itu luar biasa nikmatnya. Bisa menyelesaikan masalah, mulai dari hal yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar-benar tidak sanggup lagi,” jelas Elly.

So, izinkanlah anak anda melewati kesulitan hidupTidak masalah anak mengalami sedikit luka, sedikit menangis, sedikit kecewa, sedikit telat, dan sedikit kehujanan. Ajari mereka menangani frustrasi.

“Kalau Anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel, apa yang terjadi jika Anda tidak bernafas lagi esok hari? Bisa-bisa anak Anda ikut mati,” kata Elly.

Elly mengakui, sulit memang untuk tidak mengintervensi, ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih. Apalagi menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi. Jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua,” ujarnya.

Tapi sadarilah, hidup tidaklah mudah, masalah akan selalu ada. Dan anak-anak kelak harus bisa bertahan melewati hujan, badai, dan kesulitan, yang kadang tidak bisa dihindari. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY