Hubungan ibu dan anak perempuan. Foto: Dailymoslem

Gulalives.co, JAKARTA – Ingat nggak, waktu kecil anak cewek biasanya kurang akrab sama ibu. Apalagi anak sulung, yang punya adik kecil-kecil dalam jarak deketan.

Ibu biasanya akan ‘keras’ ke anak sulungnya dengan beragam alasan, yang hanya dimengerti saat kita beranjak dewasa. “Nyokap dulu hobinya marah-marah mulu ke gue. Tiap gue berantem dengan adik, pasti yang disalahin dulu gue, padahal adik gue yang cari gara-gara duluan. Inilah yang bikin gue gak deket sama nyokap,” kata Sinta (30), sebut saja begitu, yang kini menikah dan punya 1 anak perempuan usia 5 tahun.

Ibu Sinta adalah ibu bekerja yang juga mesti mengurus dia dan dua adiknya. Ayahnya juga bekerja, namun tak terlalu aktif dalam pengasuhan anak. Meski demikian, Sinta mengaku menemukan figur pembela dari sang ayah.

“Bokap gue pendiam. Kalau nyokap ngomel-ngomel, bokap akan cenderung diam. Tapi kalau nyokap kelewatan dalam ngomelin gue, biasanya bokap baru buka suara. Dan kalau bokap udah mulai ngomong, nyokap gua baru diam,” kisah Sinta.

Hubungan ibu dan anak. Foto: thinkstock
Hubungan ibu dan anak. Foto: thinkstock

Sinta mengisahkan, ibunya dibesarkan dari orangtua tunggal. Neneknya menjadi janda saat usia ibunya masih kecil. “Tampaknya sikap keras nyokap gue nurun dari nenek sih. Sebagai janda yang tak memiliki pekerjaan tetap, hidup nenek gue keras…membesarkan keenam anaknya dari hasil bumi dan ternak. Sekolah waktu itu hampir nggak terjangkau keluarga nyokap yang pas-pasan, namun nenek berkemauan keras agar anak-anaknya sekolah yang tinggi, biar bisa gampang cari kerja,” ujarnya.

Rupanya sikap keras sang ibu berawal di sini. “Sekali waktu nyokap cerita untuk membayar SPP yang gak seberapa waktu itu, dia harus ke pasar jualan kelapa dan singkong. Nggak kebayang, bagaimana fisik nyokap gue yang mungil harus gendong singkong dan kelapa,” kenang Sinta.

Pelajaran berharga dari pola asuh keras dalam keluarga

Saat dewasa, Sinta  menyadari, pola asuh keras yang menjadikan dirinya seperti sekarang. Sinta merangkum sejumlah poin yang menurutnya adalah tindakan benar ibunya memberlakukan pola asuh keras dengan disiplin tinggi ala militer, meski darah militer sama sekali nggak ada dalam keluarganya:

Hubungan ibu dan anak perempuan. Foto:pinkorset
Hubungan ibu dan anak perempuan. Foto:pinkorset

1. Tanpa pola asuh keras, Sinta mungkin tidak akan menjadi dirinya yang sekarang. Dengan pekerjaan baik, keluarga mapan, dan masih menapak bumi, peduli pada kesusahan orang lain.

2. Tanpa pola asuh keras, mungkin Sinta akan jadi cewek melempem yang cuma bisa meminta dan menadahkan tangan. “Nyokap dulu pesan, sekolah yang bener. Berprestasi biar gampang cari kerja, dan jangan bergantung sama suami. Nasib orang nggak ada yang tahu. Makanya harus mandiri,” kata Sinta yang menduduki jabatan lumayan di sebuah perusahaan multinasional. Dia juga memiliki usaha pribadi mendirikan butik yang berkembang baik.

3. Dengan pola asuh keras, Sinta memiliki ketahanan mental yang tahan banting. “Nggak kebayang kalau dulu nyokap mendidik dengan cara-cara lembek. Mungkin gue akan nangis bombay saat harus adu argumen dengan para rekan kerja yang mayoritas pria dan umumnya masih memandang sebelah mata terhadap kemampuan perempuan,” ujarnya.

Saat remaja, anak perempuan lazim bertengkar dengan ibu. Foto: thinkstock
Saat remaja, anak perempuan lazim bertengkar dengan ibu. Foto: thinkstock

4. Dengan pola asuh yang keras, Sinta belajar untuk menghargai setiap tetes keringat orangtuanya yang membiayai sekolahnya dengan segala upaya. “Nyokap gue bertekad anak-anaknya harus sekolah tinggi, bagaimana pun caranya. Pendidikan adalah hal utama. Inilah yang sedikit banyak membuat gue terlecut ingin meniru dan memastikan anak gue mendapat pendidikan yang layak. Gue bukan keturunan orang kaya, nggak punya warisan miliaran rupiah. Bekal pendidikan yang baiklah yang akan gue wariskan ke anak-anak, sebagaimana bokap dan nyokap gue berikan dulu ke anak-anaknya,” tandas Sinta.

Hubungan ibu dan anak perempuan. Foto: thinkstock
Hubungan ibu dan anak perempuan. Foto: thinkstock

“Jadi, terima kasih buat nyokap yang bikin gue jadi perempuan tahan banting. Tanpa pola asuh tiada ampun yang dulu gue benci banget, gua mungkin gak akan jadi seperti sekarang. Gue paham dan memaafkan nyokap atas segala kejutekan yang dulu dialamatkan ke gue. Sekarang hubungan kami jauh lebih baik,” pungkas Sinta.

Nah, apakah kamu juga mengalami pola asuh keras dari nyokap dan bokapmu di waktu kecil? Ada beragam pola asuh yang digunakan orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Namun tujuannya kurang lebih sama: Menjadikan si anak jauh lebih baik ketimbang orangtua, baik dari sisi pendidikan maupun kemapanan. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY