Beruntung buat kamu yang mendapatkan ASI ketika bayi karena banyak cerita susahnya ibu menyusui, jadi jangan durhaka padanya (Foto: Youtube)

Gulalives.co, JAKARTA – Tidak ada yang menyangkal kedahsyatan Air Susu Ibu (ASI) bagi seorang bayi. Beruntung buat kamu yang mendapatkannya ketika kecil dulu karena banyak cerita susahnya ibu menyusui, jadi jangan durhaka padanya.

Anatomi tubuh wanita sama, tapi bagaimana sistem di dalamnya bekerja, tidak seorang pun diciptakan sama. Termasuk dalam hal menyusui, wanita dianugerahi payudara yang mampu memproduksi ASI. Namun, seberapa banyak ASI diproduksi dan dipasok oleh tubuh seorang wanita, hasilnya akan berbeda. Inilah keunikan ASI dan cerita ibu di balik upaya pemberiannya bagi buah hati.

1. ASI merembes, akhirnya harus memompa kapanpun dan dimanapun untuk didonorkan kepada 18 bayi

Maya Djatirman (32 tahun), ibu dari Percy Barra Pradana (4 tahun) (Foto: Mommiesdaily)
Maya Djatirman (32 tahun), ibu dari Percy Barra Pradana (4 tahun) (Foto: Mommiesdaily)

Cerita ini dituturkan oleh Maya Djatirman (32 tahun), ibu dari Percy Barra Pradana (4 tahun). Selain untuk anaknya, dia mampu menjadi donor ASI untuk 18 anak lainnya. Seperti dilansir Mommiesdaily, Maya menyadari bahwa produksi ASI-nya jauh di atas rata-rata sejak masuk bulan kelima kehamilan atau saat ASI mulai rembes. Namun, dia mengaku paling ngeh saat putranya lahir.

Setelah melahirkan, payudaranya langsung bengkak dan penuh benjolan, diiringi sakit kepala luar biasa. ASI mengucur terus sampai baju basah, padahal itu baru hari pertama setelah melahirkan! Belum lagi saat latihan jalan setelah operasi (Maya melahirkan melalui C-section atau cesar). Sambil jalan, air susu rembes sampai bertumpahan ke lantai.

Awalnya, dia disuruh menyusui bayinya secara langsung, dalam keadaan habis operasi. Tentu, sakitnya luar biasa! Namun, meski sudah mencoba berbagai teknik menyusui berdasarkan ajaran para perawat, putranya belum bisa melekat dengan sempurna saat menyusu karena ternyata puting Maya datar.

Lama-kelamaan payudara bengkak akibat produksi ASI yang berlimpah, tapi tidak dikeluarkan. Perawat kemudian membawakannya alat pompa ASI yang segede-gede gaban. Pas payudara dipompa, dia mengaku sakitnya minta ampun. Alhamdullilah, setelah dipompa, ASI mulai keluar setetes demi setetes. Meski demikian, masih banyak benjolan yang enggak bisa pecah, sampai akhirnya datang seorang bidan, khusus untuk memijat payudara Maya.

Saat dipijat, ternyata sakit sekali dan dia baru tahu bahwa kalau benjolan-benjolan ASI enggak dikeluarkan, dia bisa dioperasi karena mastitis. Sambil terisak-isak, Maya dipijat paksa seperti diperkosa oleh perawat dan bidan selama 2 jam lebih. Lama-lama, ASI keluar, benjolan pun berkurang. Dan, selama tiga bulan pertama, ASI hasil perahnya sekitar 200-400 ml, dengan frekuensi memerah tiap 2 jam, maksimal 3 jam.

Maya pun mendonorkan ASI perahnya. Dia mendapatkan informasi terkait belasan anak yang membutuhkannya lewat @aimi_asi dan @ID_ayahasi, hasil referensi teman-teman, serta dr. Asti Praborini. Muncul perasaan sangat bahagia, dan rasanya kesulitan-kesulitan yang sudah dia alami terbayarkan dengan penghargaan orang lain terhadap ASI perahnya. Apalagi, enggak gampang, lho, harus bawa alat pompa ASI kemana pun dan memompa di mana pun. Maya sendiri lebih mementingkan bayi di bawah umur 6 bulan karena mereka masih harus ASI eksklusif.

2. Diturunkan paksa di jalan akibat menyusui di dalam taksi

Rafidah Osman Alhatib memperagakan saat menyusui anaknya di dalam taksi yang membuatnya diturunkan paksa oleh sang sopir (Foto: Theasianparent)
Rafidah Osman Alhatib memperagakan saat menyusui anaknya di dalam taksi yang membuatnya diturunkan paksa oleh sang sopir (Foto: Theasianparent)

Pada Februari 2016 lalu, sebuah kejadian sempat bikin gempar masyarakat Singapura. Pasalnya, ada seorang ibu diturunkan paksa di jalan oleh sopir taksi yang dia tumpangi saat sedang menyusui anaknya. Dikutip laman Stomp.com.sg, ibu bernama Rafidah Osman Alhatib itu menceritakan kejadian ini dan mem-posting-nya di media sosial sehingga banyak netizen mengetahuinya.

Dia mengaku sudah memakai penutup saat akan menyusui anaknya di dalam taksi sehingga tidak mengganggu. Namun, mengetahui bahwa sebagian area payudara ibu tersebut terlihat, si sopir taksi bertanya apakah ia sedang menyusui. Sopir tersebut kemudian memutuskan untuk menurunkannya dan mencari taksi lain.

Rafidah mengaku marah dan tersinggung karena merasa mendapatkan perlakuan diskriminatif. Dia meyakinkan sudah menutup bagian payudaranya dan yakin bahwa tidak mungkin bagian pribadinya tersebut terlihat.

Ketika akan menurunkan wanita tersebut, si sopir taksi mengungkit ketentuan agama mengenai aksinya tersebut. Si sopir mengaku bahwa menyusui di dalam taksi tidak bisa diterima atau tidak sopan karena ada patung Tuhan di dalam taksinya. Bagaimana pun, Rafidah merasa bahwa menyusui tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama.

Itu adalah aksi alami yang akan dilakukan seorang ibu karena ia memiliki bayi yang masih kecil dan butuh ASI. Dilansir laman Wanbao.com.sg, perlakuan semacam ini juga pernah dialami seorang ibu yang diturunkan dari MRT (kereta api cepat) karena menyusui.

3. Mengalah sementara pada sufor

Rizka Alyna dan putranya (Foto: Rizkaalyna)
Rizka Alyna dan putranya (Foto: Rizkaalyna)

Bagi seorang ibu bernama Rizka Alyna, menyusui adalah proses yang terberat dan paling lama untuk bertahan, artinya butuh komitmen yang tinggi untuk tetap keras kepala memberikan ASI buat putranya, Fatih. Ada banyak suka dan duka dalam proses ini.

Sejak masa kehamilan, dikutip dari situs pribadinya, dia sudah mencari informasi tentang menyusui, meskipun masih minim. Cerita adik seorang teman yang tetap menyusui meskipun bekerja dan cerita adiknya tentang menyusui, membulatkan tekad saya untuk memberikan ASI bagi Fatih. Botol kaca untuk menyimpan ASI perah telah siap, begitu juga bekal hasil konsultasi dengan dokter kandungan.

Fatih usia dua hari, efek obat bius masih terasa. Maklum, dia melahirkan dengan proses caesar sehingga butuh waktu untuk pemulihan. Ternyata, upaya saya untuk menyusui kala itu sangat susah. ASI masih sedikit dan dia belum terampil menyusui terlebih dengan kondisi gerak yang terbatas.

Hari pertama kelahiran putranya, Rizka berhasil menahan upaya pemberian sufor (susu formula), namun di hari kedua akhirnya dia merelakan bayinya diberi sufor. Sebelumnya dia sudah pernah membaca bahwa bayi akan bertahan tanpa susu sampai hari ketiga karena masih memiliki cadangan makanan dalam tubuhnya. Namun, dia juga tidak mau ambil risiko karena tenaga kesehatan juga menyarankan untuk pemberian sufor dan keluarga mengkhawatirkan kondisi bayinya.

Saat itu, dia menangis diam-diam, hanya suami yang tahu bahwa suara dan air matanya sudah berubah. Dia sedih harus merelakan Fatih diberi sufor dan berpisah karena rawat gabung gagal. Ada cerita di hari pertama perawat mencoba memberikan sufor, dia berdoa dan berteriak dalam hati, “Jangan mau sufor ya Fatih, mama enggak rela, ayo ditolak”. Ajaib, Fatih enggak mau minum sufor, namun suami mengingatkan, “Jangan begitu, Ma, kondisi Mama kan belum memungkinkan. Kasihan Fatih.”

Hari ketiga, tiba-tiba saat mau disusui, Fatih menolak dan menangis dengan keras. Jantung Rizka langsung berdegub kencang, dan air mata meleleh. Dia merasa ditolak sebagai ibu dan khawatir kalau Fatih bingung puting karena sudah menggunakan dot sebagai media pemberian susu. Selama di rumah sakit, dia memerah ASI dan hasil perahan diberikan untuk Fatih melalui perawat. Sayangnya, media pemberian ASI perah melalui dot, padahal rpsikonya besar, salah satunya menyebabkan bingung putting sehingga bayi tidak mau menyusui langsung.

Di hari itu, kemudian perawat bayi datang, mendengar bahwa Fatih menolak disusui. Perawat bayi kemudian melihat payudara Rizka mengeras. Memang semalam, payudaranya mengeras dan terasa sakit hingga di ketiak. Dia pikir wajar, artinya air susu mulai banyak.

Dia pun mengompres, memijat, dan memerah payudara dua kali sehari, hasilnya cuma sedikit dan tenaga yang dikeluarkan cukup besar. Aturannya, payudara jangan dibiarkan mengeras, kalau sudah terasa kencang harus diperah. Memerah dijadwalkan 2-3 jam sekali dengan durasi maksimal 15 menit.

4. Menyusui lebih sakit daripada operasi cesar

Pasangan artis Sarwendah dan Ruben Onsu dikarunia bayi mungil yang diberi nama Thalia Putri Onsu (Foto: Hello-pet)
Pasangan artis Sarwendah dan Ruben Onsu dikarunia bayi mungil yang diberi nama Thalia Putri Onsu (Foto: Hello-pet)

Pasangan artis Sarwendah dan Ruben Onsu dikarunia bayi mungil yang diberi nama Thalia Putri Onsu. Sarwendah tidak ingin melewatkan masa tumbuh kembang anak. Dia juga ingin memberikan ASI eksklusif hingga tidak keluar lagi.

Menurut Sarwendah, seperti dilansir dari situs tabloidbintang.com, putrinya menyusu kuat banget, minimal satu jam sekali. Syukurnya, ASI dia lancar. Kali pertama menyusui, Sarwendah merasakan sakit luar biasa. Menurut dokter wajar, karena pada masa awal menyusui, tidak hanya Sarwendah yang belajar, Thalia pun belajar menemukan posisi yang pas untuk menyusu. Puting payudaranya berdarah, dan setiap mau menyusui, rasanya sakit banget. Berbeda dengan anggapan sebagian orang bahwa operasi cesar lebih sakit, baginya menyusui jauh lebih sakit. Pasalnya, pada hari pertama setelah cesar, keesokannya Sarwendah sudah bisa jalan.

Menyusui pun semakin terasa lebih mudah, meski memang membutuhkan kesabaran dan banyak latihan. Dia berkonsultasi tentang ASI dengan dokter selama enam hari menginap di RS Bunda, Menteng, Jakarta Pusat lantaran enggak mau bolak-balik ke rumah sakit. Misalnya, tiba-tiba payudara keras dan ada benjolan, kenapa? Salah satu solusinya harus kompres dengan air hangat.

Konsultasi dengan dokter membuat dia tenang. Awal masa penyesuaian menyusui, kepalanya terasa pusing dan sempat darah tinggi karena kurang tidur. Untungnya, produksi ASI-nya enggak terganggu. Capek, kaget, karena Thalia bangun setiap 2-3 jam sekali.

ASI berlimpah, tak jarang Sarwendah memompa untuk kemudian dia simpan di dalam freezer. Dalam sehari minimal 300 cc masuk freezer, tiga botol masing-masing isi 100 cc dan kadang bisa lebih. Dalam sehari Thalia menyusu, Sarwendah memiliki catatan di buku, durasi berapa lama menyusu, dan apakah minumnya banyak atau sedikit. Harus telaten, makanya setiap kali menyusui dia lihat jam dulu juga mengingat apakah giliran posisi payudara sebelah kanan atau kiri yang diberikan agar seimbang.

Nyatanya, ASI tidak bisa diproduksi secara maksimal jika tidak diupayakan. Bayi pun tidak serta merta bisa menyusu secara alami tanpa perlekatan yang baik saat ibu memberikan ASI. Terbayang kan bagaimana susahnya ibu kamu dulu demi bisa memberikan asupan nutrisi terbaik lewat ASI? So, jangan durhaka pada ibumu karena ASI yang dia berikan saja tidak bisa kamu bayarkan.

loading...

LEAVE A REPLY