Masjid Quba Madina

Jakarta (Gulalives.co) – Wajah masjid berubah di setiap masa. Ada masa, berwajah kotak persegi, ada pula yang berhias kuba dan menara.

Masjid pertama di dunia adalah Masjid Quba, yang dibangun pasa masa Nabi Muhammad SAW. Masjid yang berdiri di bumi Madina ini menjadi rujukan penting dalam sejarah arsitektur masjid di dunia. Pilihan Madina sebagai lokasi pembangunan masjid pertama sekaligus menandai peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad, dari Makkah ke Madina.

Masjid Quba Madina menyimpan nilai sejarah tinggi, khususnya di bidang arsitektur tempat ibadah. Masjid ini awalnya hanya berbentuk segi empat, memiliki atap, serta berada di lapangan terbuka. Dinding masjid terbuat dari batang pohon kurma, sedangkan atapnya dari daun pohon yang sama. Di masjid ini lah Nabi Muhammad dan para sahabat menegakkan sholat, baik fardhu maupun sunah. Di masjid ini pula, nabi akhir zaman itu berdakwah menyebarkan perintah dan larangan Allah.

Selanjutnya, masjid mengalami beragam metamorfosa, mengikuti mahzab atau gaya arsitektur pada zamannya. Ada dua gaya arsitektur yang memengaruhi metamorfosa wajah masjid. Yakni gaya arsitektur byzantium dan sasanid.

Pengaruh gaya arsitektur Byzantium mulai terlihat dari penggunaan batu-batu pada dinding, karya seni mosaic, cat, dan ukiran relief. Sedangkan, arsitektur Sasanid mulai terlihat ketika masjid banyak yang memiliki courtyard (halaman terbuka).

Pengaruh lain yang memengaruhi perkembangan masjid adalah arsitektur Moor dan arsitektur Persia. Percampuran budaya yang paling terlihat pada arsitektur masjid adalah penggunaan kubah pada bagian atapnya.
Metamorfosa dan gaya arsitektur masjid juga dipengaruhi oleh periode masa kekhalifahan. Setiap periode memiliki minat dan cita rasa berbeda. Periode Abbasiyah dan Umaiyah, misalnya, menyenangi arsitektur masjid bergaya Arab-plan atay hypostyle. Sedangkan, periode Utsmaniyah lebih berminta ke arsitektur masjid berkubah.

Arab-plan atau hypostyle mengawali bentuk-bentuk masjid pada masa Bani Umayyah dan Abbasiyah. Masjid ini berbentuk persegi ataupun persegi panjang yang dibangun pada sebuah dataran dengan halaman yang tertutup dan tempat ibadah di dalam. Halaman di masjid sering digunakan untuk menampung jamaah pada hari Jumat.

Beberapa masjid berbentuk hypostyle atau masjid berukuran besar, biasanya mempunyai atap datar di atasnya, dan digunakan untuk penopang tiang-tiang. Contoh masjid yang menggunakan bentuk hypostyle adalah Masjid Kordoba, di Kordoba, yang dibangun dengan 850 tiang. Beberapa masjid bergaya hypostyle memiliki atap melengkung yang memberikan keteduhan bagi jemaah.

Masjid Cordoba, Spanyol
Masjid Cordoba, Spanyol

Dalam sejarah arsitektur bangunan Islam, konsep Arab-plan atau hypostyle mengalami masa keemasan pada era Abasiyah dan Umayyah. Namun, konsep ini mulai ditinggalkan pada masa Utsmaniyah. Pada masa ini, Kesultanan Utsmaniyah memperkenalkan bentuk masjid dengan kubah di tengah. Masji-masjid berkubah ini bertumbuh secara masif pada abad ke-15. Gaya ini sangat dipengaruhi oleh bangunan-bangunan Bizantium yang mengutamaka pemasangan kubah besar.

Pada masa Utsmaniyah, setiap masjid memiliki dua kuba utama, yakni kuba besar dan kecil. Kuba besar melingkupi sebagian besar area shalat. Sedangkan beberapa kubah kecil dipasang sebagai ornamen tambahan di area luar tempat ibadah.

Masjid Agung Kudus, Kudus Jawa Tengah
Masjid Agung Kudus, Kudus Jawa Tengah

Metamorfosa berikutnya bersinggungan dengan gaya arsitektur lokal. Persinggungan ini terjadi di semua negara, serta menyimpan keunikan pada setiap zamannya. Wajah masjid di Indonesia sangat dipengaruhi oleh persinggungan itu.

Salah satu masjid yang dipengaruhi oleh arsitektur lokal adalah Masjid Agung Kudus. Masjid ini terbilang unik karena memiliki menara berbentuk seperti candi. Yang menarik, selain bermenara, masjid ini juga memiliki kubah layaknya masjid-masjid sebelumnya.

Masjid Cheng Ho, Surabaya
Masjid Cheng Ho, Surabaya

Pengaruh arsitektur lokal juga terlihat di Masjid Ceng Ho, Surabaya. Wajah masjid ini unik, karena sekilas bentuk luarnya menyerupai klenteng. Masjid ini didirikan oleh umat Islam keturunan Tionghoa untuk mengingat jasa-jasa Ceng Ho ketika menyebarkan agama Islam. (AA/Senandung Bening)

loading...

LEAVE A REPLY