gambar via: Bintang.com

Gulalives.co, Bogor – Secara bahasa, Imsak berasal dari bahasa Arab yaitu amsaka-yumsiku-imsak yang berarti menahan. Menahan ini maksudnya menahan diri dari sahur hingga masuk waktu sahur.

Meskipun belum ada istilah imsak di zaman Rasulullah, namun Rasulullah telah melakukan tradisi ini. Hal tersebut dijabarkan Anas ra,

“Kami telah makan sahur bersama junjungan Nabi SAW. Kemudian baginda bangun mengerjakan salat. Anas bertanya kepada Zaid berapa lama antara azan subuh dan makan zahur, Zaid menjawab sepadan dengan membaca 50 ayat,”

Jadi bagaimana ketika kita mau berpuasa tapi waktunya sudah mepet dan mendekati waktu imsak? Sesuai pengertian Imsak diatas tadi, jika kita bangun untuk makan sahur tapi waktu sudah sangat dekat dengan waktu adzan subuh baik radio, masjid, serta televisi sudah menyatakan imsak, jangan khawatir. Karena sebetulnya kita masih memiliki waktu 10-15 menit lagi untuk makan sahur yaa guys. Manfaatin waktu itu untuk makan dan minum secuukupnya. Pergunakanlah 10 menit itu untuk makan sahur agar puasa kita di siang hari nanti enggak akan terasa berat untuk dilaksanakan ya.

gambar via: Bintang.com
gambar via: Bintang.com

Ada sebuah hadis yang menunjukkan bahwa jarak atau interval waktu antara bersahurnya Rasul saw. dan azan Subuh adalah kira-kira 50 ayat. Itu artinya Rasul saw. tidak lagi makan sahur sampai berkumandangnya azan subuh. Inilah yang dipahami oleh para ulama kita, sehingga menetapkan sunnah berimsak sekitar waktu yang dibutuhkan untuk pembaca 50 ayat Alquran tersebut yang diperkirakan setara dengan 10–15 menit.

Jadi, apa makna jadwal Imsak yaa?

Istilah imsak di zaman Rasulullah memang tak pernah ada, Bahkan dalam kitab hadits manapun, Namun dalam kitab dalam “at-Taqriiraat as-Sadiidah fil Masaa-ilil Mufiidah” pada halaman 444 dijelaskan bahwa:

Dan memulai imsak (menahan diri) dari makan dan minum (yakni bersahur) itu adalah mandub (disunnatkan) sebelum fajar, kira-kira sepadan dengan waktu yang dibutuhkan untuk  membaca 50 ayat (sekitar seperempat jam)

Dan diberlakukannya waktu imsak ini adalah sebagai tanbiih (bentuk peringatan) terhadap waktu start puasa yang akan terjadi sebentar lagi.

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya, bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Ummatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur,” (H.R. Imam Ahmad dari Abu Zarr r.a.).

Ketentuan waktu imsak sebagai ihtiyath (kehati-hatian) ini didasarkan hadis Rasul yang diriwayatkan dari Sayyidina Anas: Sayyidina Zaid bin Tsabit r.a. berkata, “Kami telah makan sahur bersama-sama Junjungan Nabi Saw., kemudian baginda bangun mengerjakan salat. Sayyidina Anas bertanya kepada Sayyidina Zaid, ‘Berapa lamanya antara azan (Subuh) dengan waktu makan sahur itu?’ Dia menjawab, ‘Sepadan dengan waktu yang dibutuhkan untuk  membaca 50 ayat.’”

Atsar diatas menunjukkan bahwa jarak waktu antara sahur Rasulullah SAW. dan adzan Subuh adalah kira-kira 50 ayat. Itu artinya Rasulullah SAW. tidak lagi makan sahur sampai mendengar azan Subuh. Inilah yang menjadi dasar ijtihad ulama syafi’iyah yang sering dipakai di negara kita, sehingga mereka menetapkan sunnah berimsak sekitar waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat Al Qur`an atau setara dengan 10 – 15 menit.

loading...

LEAVE A REPLY