Gulalives.co, Depok – Ada saja kemeriahan di bulan ramadan. Hari ini (9/06/2016) merupakan tanggal 5 bulan 5 kalender lunar yang memiliki arti sebagai hari Duan Wu, mungkin kalau di Indonesia lebih dikenal sebagai hari Peh Cun atau hari Bacang.

Menurut tradisi orang Tionghoa, Peh Cun termasuk salah satu dari tiga hari besar orang Tionghoa selain hari raya Imlek dan hari raya Tiong Jiu (kue bulan). Ada empat hal yang sering dilakukan masyarakat Tiongkok bila merayakan hari ini, yaitu membuat dan makan Bacang, mendirikan telur, dan mengadakan lomba perahu naga (Dragon Boat Festival) juga Mandi tengah hari. Berikut ini adalah penjelasan lengkap tentang empat hal yang sering dilakukan untuk merayakan hari Bacang:

1. Mendirikan Telur

mendirikan telur

Kamu pernah mencoba membuat telor berdiri? Dari cerita orang-orang tua dulu hanya satu hari dalam setahun dimana telor dapat berdiri yaitu pada hari bacang (peh cun). Fenomena alam ini terjadi setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan kalender imlek tepat jam 12 siang. Fenomena ini jelas ada di kalender imlek sebagai hari raya Duanwu (China), di Taiwan juga disebut sebagai “Twan Yang” (saat matahari memancarkan cahaya paling kuat, Gaya gravitasi di tanggal ini adalah yang terlemah, sehingga menyebabkan telor ayam mentah bisa berdiri), saat ini matahari berada di “posisi istimewa” yaitu tepat di atas khatulistiwa, sehingga mendirikan telur juga merupakan bagian dari festival budaya ini, selain tentunya menyantap Bacang.  Syarat dan Kondisi Telur : Telur Tidak boleh dicuci, Telur tidak boleh di masukan ke dalam kulkas dan Telur jangan direbus.

2. Mandi Tengah Hari 

mandi tengah hari

Berdasarkan informasi, Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka), Guangdong ( Thiochiu, HokChiu, Hakka) dan Taiwan. Mereka mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Peh Cun ini, karena dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bila dengan mandi ataupun diminum setelah dimasak. Kalau di Indonesia, ada yang mandi di sungai ketika tengah hari karena dipercayai saat itu air naga datang ( kota tanjungbalai, Sumatera Utara )

3. Menggantungkan Rumput Ai dan Changpu

rumput

Peh Cun yang jatuh pada musim panas biasanya dianggap sebagai bulan-bulan yang banyak penyakitnya, sehingga rumah-rumah biasanya melakukan pembersihan, lalu menggantungkan rumput Ai (Hanzi: 艾草) dan changpu (Hanzi: 菖埔) di depan rumah untuk mengusir dan mencegah datangnya penyakit. Jadi, festival ini juga erat kaitannya dengan tradisi menjaga kesehatan di dalam masyarakat Tionghoa.

4. Hari Raya Naga dan lomba Perahu Naga

naga

Cendekiawan patriot terkenal, Tuan Wen Yiduo di dalam tesisnya “Kajian Duan Wu” berpendapat: Suku bangsa kuno Yue menjadikan naga sebagai totem mereka, kala itu karena orang-orang merasa terancam kekuatan alam, beranggapan suatu makhluk memiliki kekuatan alami supranatural, oleh karena itu menganggap makhluk-makhluk tersebut adalah leluhur dan dewa pelindung seluruh suku mereka, yang di zaman kini disebut sebagai “Totem Naga”. Maka mereka menato makhluk berupa naga pada tubuhnya dan di atas peralatan sehari-harinya, agar memperoleh perlindungan dari Totem Naga, demi menunjukkan bahwasanya mereka berstatus “anak naga”, mengokohkan hak dilindungi bagi dirinya sendiri. Mereka tidak saja bertradisi memotong rambut dan menato tubuh, bahkan pada setiap tanggal 5 bulan 5 kalender Imlek, mengadakan sebuah persembahan besar Totem Naga. Di antaranya terdapat permainan yang mirip dengan perlombaan pada dewasa ini, itulah asal usul tradisi lomba naga ketika dimulai.

Namun lomba perahu naga bukan hanya adat istiadat orang Yue, tapi suku bangsa lainnya juga memiliki kebiasaan itu, di dalam penemuan benda-benda kuno zaman Zhan Guo dapat terlihat sedikit kecenderungan tersebut, waktu terselenggaranya lomba perahu naga juga sama. Saat ini, Dragon Boat Festival dirayakan di China, Taiwan, Singapura, Malaysia, Indonesia dan beberapa negara lain.
Untuk informasi kebenarannya kamu bisa baca disini

 

loading...

LEAVE A REPLY