Gulalives.co, DEPOK – Sejak kapan muncul istilah “hoax”? Siapa yang pertama kali menyebut kata “hoax”? Kata Hoax atau kabar bohong muncul pertama pada abad ke-19. Wikipedia menyebut kata “hoax” berasal dari tulisan Richard A. Locke yang diterbitkan di koran The Sun pada 1835. Di harian tersebut, Locke menulis serial artikel berjudul Great Moon Hoax, dengan meminjam nama astronom Sir John Herschel. Artikel berkisah tentang ditemukannya kehidupan dan peradaban di bulan. Belakangan orang tahu bahwa tak ada kehidupan, hewan, maupun peradaban di bulan. Locke dianggap menceritakan sesuatu yang tak nyata. Sejak itulah kata “hoax” pun disematkan pada semua informasi bohong, tak nyata, palsu, atau mengada-ada.

Apakah kalian pernah menjadi salah satu dari korban berita palsu? Berarti kamu orang yang langsung mudah percaya tanpa mencari tahu kebenarannya. Kalau memang kamu pernah, mulai sekarang jangan mudah percaya dengan berita yang belum dapat dipastikan kebenarannya ya.

“Ketik Amin untuk Menyebarkan Do’a ini” “Ketik Angka 1, lihat apa yang terjadi”

Berita palsu atau hoax digunakan sebagai alat promosi pernah diterapkan dalam konsep pemasaran yang disebut viral marketing. Teknik pemasaran ini berusaha menyebarkan konten yang membuat orang penasaran untuk mengikutinya ibarat virus. Salah satu viral marketing hoax adalah memanggang pop-corn dengan sinyal beberapa HP yang beredar bermula dari viral marketing device bluetooth.

Untuk itu, kita punya ciri ciri biar kamu bisa mencermati sebuah berita dan kebenarannya. Berikut ciri-ciri kabar hoax

1.. Menebar Berita dengan Iming-Iming atau Ancaman

ketik amin

Menurut hoax-slayer, salah satu indikator yang paling gampang dikenali adalah frase “sebarkan berita ini ke teman-teman Anda”. Penulis hoax ingin berita-nya segera menyebar sebanyak dan secepat mungkin, bila perlu mereka akan menambahinya dengan iming-iming atau Ancaman menakut-nakuti untuk memastikan pesannya dapat berantai dilanjutkan ke orang lain. Berikut ini beberapa iming-iming tipikal hoax: “Bagikan SMS ini ke minimal 10 orang teman Anda, maka Anda akan mendapat rezeki melimpah dari Tuhan.“, “Jika Anda mengirimkan pesan ini pada teman Anda, Anda akan mendapat rahmat, …”.

2.. Menggunakan Bahasa dan Isi yang Emosional

contoh like dan amin

Indikator selanjutnya adalah penulis hoax cenderung memakai bahasa emosional yang dilebih-lebihkan dan tidak sewajarnya. Hoax seringkali dibumbui dengan kata-kata atau frase seperti: “Katakan Amin“, “Bahaya“, “Awas“, “Jangan sampai terlambat“, dan lain sebagainya. Isi pun mengaduk emosi kita, jika tidak tentang “bayi yang sekarat butuh pertolongan” maka biasanya “Selamat, Anda beruntung mendapatkan hadiah satu milyar.

bohong

3.. Menggunakan Huruf Kapital 

hoax

Sering juga ditemui berita semacam ini seluruhnya menggunakan huruf kapital untuk penekanan pemberitaan. “HATI-HATI!” Frase “INI KISAH NYATA“, “TELAH TERJADI”, “BUKAN HOAX” biasanya justru dipakai untuk mempengaruhi dan meyakinkan korbannya.

4.. Berlindung di balik Anonimitas atau Kekaburan Data

palsu

Indikator lain dari berita palsu adalah kecenderungan tidak memberikan referensi yang dapat diperiksa pembacanya. Promosi, undian, hadiah yang asli biasanya selalu akan mengacu pada situs atau link perusahaan yang kredibel. Begitu juga peringatan akan virus berbahaya akan merujuk pada informasi laman yang punya reputasi bagus. Hal semacam ini tidak kita temukan pada hoax.

Kamu bisa mencurigai berita hoax di situs-situs luar negeri, karena sudah banyak berita hoax yang dibuktikan kepalsuannya oleh situs luar negeri.

Tapi banyak juga lho penyebar hoax lokal, yang berita palsunya diterjemahkan, kemudian diangkat lagi, dimodifikasi isinya seperti perubahan nama pelaku dan tempat untuk konsumsi masyarakat Indonesia.

 

loading...

LEAVE A REPLY