Fidyah

Gulalives.com, JAKARTA – Ada sejumlah orang – karena memiliki kondisi tertentu – boleh tidak berpuasa Ramadhan. Orang dengan kondisi tertentu ini misalnya sedang hamil atau menyusui, sakit atau usia tua sehingga tak mampu berpuasa.

Sebagian besar ulama berpandangan bahwa wanita yang hamil boleh tidak berpuasa pada siang hari bulan ramadhan dan menggantinya di hari yang lain.

Apabila ia tidak berpuasa karena kondisi fisiknya yang lemah dan tidak kuat berpuasa, sebagian besar ulama berpandangan bahwa ia berkewajiban mengqadha puasa tersebut di hari lain atau ketika mampu. Ia tidak berkewajiban membayar fidyah, demikian menurut laman zakat.or.id.

Ada sejumlah orang - karena memiliki kondisi tertentu - boleh tidak berpuasa Ramadhan. Orang dengan kondisi tertentu ini misalnya sedang hamil atau menyusui.
Ada sejumlah orang – karena memiliki kondisi tertentu – boleh tidak berpuasa Ramadhan. Orang dengan kondisi tertentu ini misalnya sedang hamil atau menyusui.

Adapun wanita yang hamil atau menyusui dan mampu berpuasa, lalu ia tidak berpuasa karena khawatir terhadap kesehatan anaknya saja, ia berkewajiban mengqadha dan membayar fidyah. Sedangkan ulama hanafiah berpendapat cukup dengan mengqadha saja.

Jadi, kesimpulannya, wanita yang hamil lalu tidak berpuasa pada bulan ramadhan berkewajiban untuk mengqadha, ini merupakan pendapat ulama Syafi’iah, Malikiah dan Hanabilah.

Sementara para ulama kontemporer, seperti DR Yusuf Al-Qardhawi, DR Wahabah Zuhaili, Syaikh Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz  bahwa wanita yang hamil atau menyusui berkewajiban untuk mengqadha puasa yang ditinggalkan.  Sedangkan fidyah sendiri, pada dasarnya hanya berlaku untuk orang yang tidak ada harapan untuk berpuasa, misalnya orangtua yang tidak mampu berpuasa atau orang yang sakit menahun.

Ada sejumlah orang - karena memiliki kondisi tertentu - boleh tidak berpuasa Ramadhan. Orang dengan kondisi tertentu ini misalnya sedang hamil atau menyusui. Foto: Arrahmah
Ada sejumlah orang – karena memiliki kondisi tertentu – boleh tidak berpuasa Ramadhan. Orang dengan kondisi tertentu ini misalnya sedang hamil atau menyusui. Foto: Arrahmah

Oleh karena itu, DR Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bagi wanita yang tidak memungkinkan lagi untuk mengqadha karena melahirkan dan menyusui secara berturut-urut sampai beberapa tahun, ia bisa mengganti qadhanya dengan fidyah.

Hal ini karena ada illat (alasan hukum) tidak ada kemampuan lagi untuk mengqadha semuanya. selama masih bisa mengqadha dan memungkinkan, maka kewajiban mengqadha itu tetap ada.

Untuk fidyah sendiri, sebagian besar ulama berpandangan kadarnya adalah  1 mud atau 1 kg kurang, untuk satu hari tidak berpuasa. Sedangkan ulama hanafiah berpendapat setengah sha’  atau 2 mud (setengah dari ukuran zakat fitrah).

Ada sejumlah orang - karena memiliki kondisi tertentu - boleh tidak berpuasa Ramadhan. Orang dengan kondisi tertentu ini misalnya sedang hamil atau menyusui. Foto: mamaqaireen.blogspot
Ada sejumlah orang – karena memiliki kondisi tertentu – boleh tidak berpuasa Ramadhan. Orang dengan kondisi tertentu ini misalnya sedang hamil atau menyusui. Foto: mamaqaireen.blogspot

Apabila dikonversi ke rupiah bisa mengikuti dua cara, yakni disesuaikan dengan bahan makanan pokok atau harga makanan jadi. Cara simpelnya adalah disesuaikan dengan  harga satu porsi makanan yang standar yang berlaku pada lingkungan terdekat.

Untuk Jakarta saat ini , misalnya, sekitar Rp 15 ribu rupiah untuk satu menu standar. Berarti satu hari tidak berpuasa dapat menggantinya dengan membayar fidyah Rp15 ribu.

Membayar fidyah dilakukan dengan cara memberi makan orang fakir miskin.  Dan pembayarannya bisa diwakilkan. Tidak ada keharusan seseorang membayar fidyahnya kepada orang-orang yang berhak secara langsung.

Ia bisa mewakilkan seseorang atau lembaga untuk menyampaikan fidyahnya.  Hal ini dikarenakan pembayaran fidyah adalah ibadah maaliyah (harta) bukan ibadah fardiyah (personal  yang bersifat fisik).

Nah, semoga bermanfaat ya. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY