Ibu menyusui tidak lepas dari mitos yang melingkupinya (Foto: Newbabywallpapers)

Gulalives.co, JAKARTA – Ibu menyusui tidak lepas dari mitos yang melingkupinya. Berikut kebenaran di balik beberapa mitos umum tentang menyusui bayi.

Semua ibu mengetahui bahwa dirinya perlu memberikan Air Susu Ibu (ASI) untuk buah hatinya. Namun, semua orang juga memiliki pendapat dan pandangannya tentang ibu menyusui, yang sayangnya, sebagian merupakan mitos atau informasi yang salah kaprah. Mitos ini bahkan terkadang diyakini oleh beberapa generasi.

Simak mitos dan fakta tentang ibu menyusui, berikut ini:

Mitos #1. Jika bayi sering menyusu, berarti mereka tidak mendapatkan cukup ASI

bayi

Fakta: Karena ASI sangat mudah dicerna, bayi umumnya lapar lebih cepat daripada jika mereka diberi susu formula. Adalah normal bagi bayi baru lahir untuk menyusu setiap 2-3 jam.

Mitos #2. Payudara beristirahat, akan lebih banyak ASI diproduksi

(Foto: Sheknows)
(Foto: Sheknows)

Fakta: Semakin ibu sering menyusui, lebih banyak susu yang akan diproduksi. Melewatkan jadwal menyusui yang biasa dengan alasan payudara beristirahat justru dapat menurunkan produksi ASI.

Melewatkan waktu untuk menyusui atau memompa sepanjang hari akan memperbesar produksi dan pasokan ASI di malam hari. Namun, pada hari berikutnya ibu akan memiliki lebih sedikit ASI jika melewatkan waktu menyusui. Satu-satunya cara untuk memastikan pasokan ASI adalah memompanya secara teratur. Ibu juga harus menyusui setidaknya 9-10 kali sehari untuk memastikan produksi ASI.

Mitos #3. Susu formula bikin bayi tidur lebih pulas

susu ibu

Fakta: Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberi susu formula tidak tidur lebih baik, meskipun mungkin tidur lebih lama. Pasalnya, susu formula tidak bisa dicerna dengan cepat. Ada sisi negatifnya, yakni susu formula menetap lebih lama dalam sistem pencernaan bayi dibandingkan ASI sehingga terjadi fermentasi.

Bayi yang minum ASI biasanya mulai tidur lebih lama pada usia 4 minggu dan segera setelahnya tidur dalam jumlah waktu yang sama seperti bayi yang diberi susu formula.

Mitos #4. Bayi ASI tidak harus memakai botol agar tidak bingung puting dan berhenti menyusu

menyusuii

Fakta: Bayi mengisap puting, tetapi menyusu pada payudara. Perbedaan antara keduanya jarang yang akhirnya membingungkan si kecil. Jika ibu pikir perlu memberikan makanan tambahan bayi, terutama jika ibu berencana kembali bekerja sebelum selesai memberikan ASI eksklusif, maka ibu harus memperkenalkan botol susu di usia bayi antara 2-6 minggu.

Gunakan botol susu untuk satu atau dua kali menyusui setiap harinya. Bayi akan mulai mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menyusu dari botol tanpa kehilangan kemampuan untuk menyusu langsung di payudara ibu. Gunakan ASI ketika menjajal botol, dan pegang si kecil dekat dengan tubuh ibu seraya memeluknya. Ini adalah waktu ikatan yang penting hampir sebesar saat ibu memberikan ASI langsung.

Mitos # 5: Menyusui mengubah bentuk dan ukuran payudara, atau mengurangi sensitivitasnya

(Foto: Babble)
(Foto: Babble)

Fakta: Memang, kehamilan agak mengubah tampilan dan sensitivitas payudara. Namun, para ahli mengatakan bahwa menyusui tidak menyebabkan perubahan pada payudara. Bahkan, menyusui benar-benar dapat membantu melindungi payudara karena studi menunjukkan bahwa wanita yang menyusui memiliki penurunan risiko kanker payudara di kemudian hari.

Mitos # 6: Jangan membangunkan bayi tidur untuk menyusui

bayii

Fakta: Pada sebagian besar waktu, bayi akan membangunkan ibu untuk menyusu setidaknya tiap 2,5-3 jam. Namun, bayi mungkin menyusu penuh semangat selama 2-3 jam, yang dikenal sebagai “kluster menyusui”, kemudian tidur lebih lama dari biasanya.

Tidak mengapa membiarkan mereka tidur sedikit lebih lama dari biasanya. Jika bayi tidur secara teratur cukup lama, bangunkan ketika tiba saatnya untuk menyusu. Sangat penting bagi bayi untuk menyusu sesuai jadwal karena turut menjaga pasokan dan produksi ASI.

Mitos #7: Menyusui mencegah kehamilan

menggendong bayi

Fakta: Menyusui tidak menjamin mampu mencegah kehamilan. Namun, para ahli percaya bahwa ASI 98% efektif, mirip dengan bentuk lain dari kontrol kelahiran atau KB. Hormon yang terlibat dalam menyusui mampu mencegah ovulasi, sehingga menghalangi kemampuan ibu untuk hamil sampai 14 atau 15 bulan setelah melahirkan.

Bagaimana ibu tahu jika memerlukan KB tambahan? Segera setelah ibu mulai mengalami siklus menstruasi, maka ibu bisa hamil lagi. Untuk sebagian wanita, kehamilan bisa terjadi enam bulan setelah melahirkan.

Jika ibu tidak ingin hamil lagi segera, bicarakan dengan dokter tentang penggunaan pil KB dosis rendah beberapa bulan setelah ibu mulai menyusui. Pil ini aman untuk ibu dan bayi. Atau, suami dapat menggunakan kondom dan spermisida. Bahan kimia yang masuk ke tubuh ibu akan membuat jalan ke ASI, jadi pilih hanya spermisida yang aman untuk ibu menyusui.

loading...

LEAVE A REPLY