Gulalives.com, JAKARTA – Pasangan suami istri yang teratur melakukan hubungan intim cenderung lebih sehat, baik fisik maupun mental ketimbang yang jarang melakukannya.

Aktivitas seksual tersebut membawa banyak perubahan di tubuh yang berhubungan dengan membaiknya kesehatan. Manfaat langsung yang dirasakan adalah menurunnya tingkat stres.  Hal ini bisa terjadi akibat menurunnya hormon kortisol disertai dengan peningkatan oksitosin yang membuat pikiran lebih tenang saat melakukan hubungan seks.

Manfaat lain yang bisa dipetik dengan melakukan hubungan intim adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Studi menemukan, orang yang melakukan seks memiliki tubuh yang lebih mampu melawan virus, bakteri, dan penyusup lainnya. Melakukan seks dua kali seminggu memungkinkan terbentuknya antibodi dalam kadar tertentu yang menguatkan imunitas.

Hubungan seks teratur juga dapat menormalkan tekanan darah. Banyak studi yang mendapati kaitan antara seks dengan tekanan darah. Salah satunya, seks secara khusus menurunkan tekanan darah sistolik.

Selain itu, aktivitas seks dapat mengurangi risiko serangan jantung. Seks penting untuk menjaga kesehatan jantung. Dalam sebuah studi ditemukan, pria yang melakukan seks dua kali per minggu memiliki risiko kematian karena serangan jantung lebih rendah 50 persen dibanding yang jarang. Seks juga menyeimbangkan hormon seks baik di antara pria maupun wanita.

Kabar baik lainnya adalah, melakukan seks dapat meningkatkan kemampuan mengontrol kandung kemih pada perempuan. Seks membuat dasar pinggul makin kuat sehingga mencegah inkontinensia urine, alias keinginan tak tertahan untuk buang air kecil atau pipis.

Hubungan intim memberikan latihan pada otot dasar panggul wanita menjadi lebih kuat. Latihan ini makin menguatkan otot tatkala wanita mengalami orgasme.

Bicara tentang inkontinensia urin, alias kebocoran urine, ini merupakan masalah yang terlihat sepele namun memiliki implikasi besar dalam hubungan suami istri. Bayangkan, saat pasutri tengah melakukan aktivitas intim, tanpa disadari istri ‘mengompol’. Malu sudah jelas, mengganggu mood tak diragukan lagi.

Jika air seni ini bocor saat melakukan aktivitas seks, terbayang bagaimana perasaan suami istri kan? Apalagi jika terulang lagi dan lagi. Suami bisa jijik, istri malu dan tak percaya diri. Jika tak ditangani, kualitas hubungan pasutri bisa memburuk.

Inkontinensia urin bisa menjadi masalah dalam hubungan suami istri, karena perempuan yang mengalami ini bisa rendah diri saat harus menjalankan aktivitas seksual.

Dibandingkan laki-laki, perempuan lebih rentan untuk mengalami inkontinensia urine. Menurut dokter spesialis urologi, Nugroho Budi Utomo, kondisi ini terjadi karena anatomi dan fisiologisnya yang berbeda.

“Dari saluran kencingnya saja perempuan sudah beda dengan laki-laki. Jarak kandung kemih wanita ke lubang kencingnya lebih pendek ketimbang pria,” kata Nugroho dalam konferensi pers relaunch Confidence Adult Diapers Premium yang diadakan di FX Senayan, Jakarta, Kamis (2/6).

Selain itu, secara fisiologi pria juga memiliki lebih banyak aktivitas sehingga otot dasar panggulnya lebih kuat dan lebih tebal seratnya dibandingkan perempuan. “Secara fisik pria lebih banyak beraktivitas dan bergerak, jadi otot-ototnya lebih terlatih dan kuat,” ujar Nugroho.

Faktor lain yang membuat perempuan rentan mengalami inkontinensia urine adalah akibat kehamilan dan melahirkan normal lebih dari empat kali. Dalam proses hamil dan melahirkan, sebut Nugroho, terjadi perubahan pada sistem pembuangan urine.

Sering melahirkan juga membuat otot dasar panggul yang terkait dengan aktivitas mengejan menjadi lebih lemah. Hal ini turut berkontribusi pada kejadian inkontinensia.

Disinyalir, keluarnya air seni selama hubungan seksual akibat ketdakmampuan mengendalikan rembesnya air seni ini banyak dialami perempuan. Ini pengalaman yang memalukan sekaligus bikin frustrasi. Bayangkan sedang intens melakukan hubungan intim dengan pasangan, tiba-tiba keluar cairan seni yang sangat tak diharapkan.

Menurut publikasi di British Journal Obstetric and Gynaecology, berdasarkan survei dokter urologi terhadap pasien, sebanyak 24 persen memiliki masalah inkontinensia selama hubungan seksual. Duapertiga perempuan merasakan mengompol saat penetrasi hubungan seks, sedangkan sisanya  mengompol saat mencapai orgasme.

Penyebab inkontinensia antara lain karena kandung kemih yang mudah iritasi atau juga kelemahan pada leher kandung kemih. Kebocoran urine pada saat orgasme (tetapi tidak pada penetrasi), terutama terkait dengan iritasi kandung kemih, sedangkan kebocoran saat penetrasi bisa jadi pertanda lemahnya leher kandung kemih, menurut data European Urology.

Satu dari 5 perempuan yang mengalami kesulitan menahan buang air kecil sepanjang harinya juga mengalami kebocoran urine (inkontinensia) selama hubungan seksual. Namun ada pula yang mengalami kebocoran urine selama hubungan seksual, tapi tidak pada waktu lainnya.

Lantas bagaimana solusi dari masalah yang memalukan ini? Lakukan langkah-langkah ini untuk mengatasinya:

1. Kosongkan kandung kemih (buang air kecil) sebelum berhubungan seks.

2. Kurangi mengonsumsi minuman yang mengandung kafein dan alkohol. Jangan minum cairan berlebihan—tidak lebih dari 1,5 liter selama 24 jam.

3. Diskusikan masalah dengan dokter urolog, terutama jika mengalami kebocoran urine juga di luar waktu berhubungan seks.

4. Lakukan senam Kegel untuk menguatkan otot dasar panggul yang mengontrol aktivitas buang air kecil.

5. Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk mengatasi inkontinensia yang harus dikonsumsi sesaat sebelum hubungan intim. Jika solusi tersebut tak juga menyelesaikan masalah, dokter mungkin akan menyarankan operasi untuk memperkuat leher kandung kemih agar tak terjadi kebocoran urine.

Nah, kalau kamu mengalami masalah ini, nggak usah malu bilang ke dokter, ketimbang hubungan suami istri jadi acakadut lebih gawat kan? (VW)

 

 

loading...

LEAVE A REPLY