Gulalives.co, JAKARTA – Sebuah biduk rumah tangga tidak akan lepas dari terpaan badai. Setidaknya terdapat tujuh badai rumah tangga yang patut diwaspadai oleh pasangan Muslim.

Kehidupan rumah tangga tidak pernah lepas dari badai yang muncul sebagai ujian untuk kenaikan derajat suami dan istri. Ada kalanya badai tersebut menghilangkan kehangatan dan keharmonisan dalam rumah tangga, hingga sebagiannya pun hancur berantakan. Semuanya terjadi karena kesalahan masing-masing pasangan, Allah SWT berfirman:
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura’:30)

Kuncinya, setiap pasangan harus yakin bahwa penyakit akan ada obatnya, dan setiap masalah akan ada solusinya. Menjadi kewajiban bagi suami dan istri untuk menjadikan badai tangga berlalu, di antaranya yang patut diwaspadai seperti dikutip buku One Heart: Rumah Tangga Satu Hati Satu Langkah oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc:

1. Cemburu Buta

Di antara badai yang bisa menghancurkan biduk rumah tangga adalah cumburu buta, bukan cemburu nyata, cemburu yang terkait dengan hak-hak Allah SWT atau cemburu kepada istrinya yang telah terbukti berselingkuh karena Nabi Muhammad SAW bersabda,
Tiga orang yang diharamkan bagi mereka surga; pecandu minuman keras, durhaka kepada orangtua, dan dayyuts yaitu orang yang membiarkan keburukan dalam keluarganya.” (HR.Thabrani)

Cemburu bila dalam perkara nyata dan diletakkan pada porsinya akan membuat ikatan rumah tangga semakin erat. Rasulullah SAW bersabda,
Cemburu ada yang dicintai Allah SWT dan ada yang dibenci-Nya. Adapun cemburu yang dicintai Allah adalah dalam hal-hal yang meragukan (cemburu kepada keluarganya yang berbuat keji agar tidak terulang), dan cemburu yang dibenci Allah sWT adalah cemburu dalam hal-hal yang tidak meragukan.” (HR. Imam Ahmad)

Suami maupun istri harus mampu mewaspadai hal-hal yang bisa memicu timbulnya cemburu buta, antara lain sikap saling curiga, tidak percaya, was-was, dan tersebarnya benih keraguan maupun buruk sangka; rasa takut secara berlebihan akan hilangnya cinta dan perhatian dari masing-masing sehingga timbul egoisme dan keinginan saling menguasai; tidak ada keterbukaan untuk mengungkapkan perasaan, keinginan, dan kecondongan; dan mengikuti halusinasi serta mengembangkan cerita fiktif yang berkembang di media massa, obrolan teman atau tetangga, maupun tukang fitnah yang ingin menghancurkan rumah tangganya. Solusinya, jangan menuruti dorongan hawa nafsu dan bisikan setan, menciptakan komunikasi yang hangat dan terbuka, menumbuhkan kepercayaan dan kejujuran, menyelesaikan masalah secara tuntas dengan kepala dingin, serta tidak gampang terpengaruh fitnah dan gosip. Tidak kalah penting untuk menghindari cemburu buta adalah menjauhi segala gerak gerik yang menimbulkan kecurigaan saat berinteraksi dengan lawan jenis.

2. Jangan Ada Dusta

Kejujuran merupakan sifat utama para utusan Allah SWT yang bisa menyelamatkan manusia dan mendekatkan diri pada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang yang munafik itu benar-benar seorang pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)

Dusta merupakan penghancur kepercayaan dan pelenyap kejujuran dalam kehidupan rumah tangga, yang mampu menjerumuskan pelakunya ke dalam kenistaan hidup di dunia maupun akhirat. Tabiat ini hanya pantas disandang oleh kaum munafik, seperti telah ditegaskan Rasulullah SAW:
Tanda seorang munafik ada tiga; apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Tabiat dusta muncul karena beberapa faktor, di antaranya jalan pintas untuk menghindari risiko permasalahan, teledor dalam menunaikan kewajiban maupun tanggung jawab, mengelak dari permasalahan rumah tangga dan menutupi aib ataupun kelemahan, serta berusaha untuk mengambil perhatian dan memikat hati pasangan agar tumbuh perasaan iba.

Suami maupun istri harus bersikap jujur walaupun terkadang terasa pahit karena kejujuran menyelamatkan dan mengantarkan pada kepercayaan. Tiada pedang di tangan ksatria yang lebih tajam dibanding kejujuran. Rasulullah SAW bersabda:
“Berpegang teguhlah dengan kejujuran karena kejujuran membawa kebaikan dan kebaikan menghantarkan ke surga, dan sesungguhnya seorang laki-laki yang selalu jujur hingga ditulis di sisi Allah termasuk orang yang jujur. Dan hati-hatilah dengan kedustaan karena kedustaan mengajak kepada kejahatan dan kejahatan menghantarkan ke neraka. Dan seorang hamba berdusta dan terbiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah termasuk orang yang berdusta.” (HR. Bukhari-Muslim)

3. Kekerasaan dalam Rumah Tangga

Di antara pemicu kekerasan dalam rumah tangga, di antaranya pembangkangan, penentangan, dan perlawanan seorang istri untuk mematahkan ajakan suami sehingga merasa diremehkan; kesenjangan sosial dan pendidikan antara suami dan istri sehingga muncul tindakan saling meremehkan; buruknya komunikasi dan interaksi suami serta istri dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga; pelampiasan kebencian dan dendam mendalam; pasangan tumbuh dari lingkungan penuh kekerasan atau tumbuh dalam tekanan, baik kejiwaan maupun pemikiran; tidak tahan dengan penghinaan dan pelecehan dari pasangan secara terus menerus; tekanan tuntutan kehidupan, desakan pola kerja dan pengaruh gaya hidup; terpengaruh dunia hiburan atau meniru gaya hidup barat; serta mengidap gangguan kejiwaan sejak masal kecilnya akibat buruknya pengasuhan.

Janganlah seorang suami berusaha memukul istrinya tanpa alasan yang benar. Allah SWT tidak memberikan hak kepada suami untuk mendzhalimi dan menakut-nakuti istri, bahkan Allah SWT memerintahkan agar suami memperlakukan istri sebagaimana dalam firman-Nya:
Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)
Allah juga melarang suami memukul wajah istri dan melarang mencederainya. Rasulullah SAW bersabda,
Janganlah kamu memukul wajah dan jangan kamu menghina wajah, yaitu janganlah kamu memukuli wajah hingga cacat dan istrimu akan berucap, ‘Semoga Allah SWT memperburuk wajahmu.” (HR. Imam Ibnu Majah)

Solusinya, suami dan istri harus menunaikan hak dan kewajiban masing-masing sesuai syariat, dan waspada dari berbagai macam maksiat serta dosa yang akan melahirkan kesengsaraan serta membuat emosi tidak terkendali. Pasangan juga harus senantiasa mengasah kepekaan jiwa sehingga bisa mengerti, menghargai, menghormati, dan memahami kebutuhan pasangannya. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT lewat ibadah wajib dan sunnah sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

4. Campur Tangan Pihak Luar

Seorang istri semestinya tidak gampang mengungkap rahasia dalam rumah tangganya. Begitu juga suami jangan mudah menceritakan kekurangan dan kesalahan istri kepada orang lain. Rasulullah menjamin surga bagi orang yang bisa menjaga lisannya untuk membongkar rahasia rumah tangga, sebagaimana sabdanya:
Siapa yang mampu menjaga dua bibirnya dan di antara kakinya, maka aku akan jamin surga.” (HR. Bukhari)

Terkadang, suami maupun istri membiarkan orang lain mencampuri urusan rumah tangganya, yang muncul biasanya karena keduanya kurang mengerti pentingnya menjaga rahasia rumah tangga, pihak luar terlalu sering berkunjung ke rumah dan memberi masukan, serta keduanya kurang menyadari bahaya menyiarkan urusan rumah tangga dan membongkar rahasia hubungan intim kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat, yaitu laki-laki yang mencumbui istrinya dan istri yang mencumbui suaminya, kemudian salah seorang di antara keduanya menyebarluaskan rahasianya.” (HR. Imam Muslim)

Solusinya, suami dan istri harus menyadari, memahami, dan menjaga amanah dalam rumah tangga. Keduanya juga harus berhati-hati bercerita kepada pihak luar terkait rumah tangganya. Sering-seringlah suami dan istri berkomunikasi terbuka sehingga timbul rasa saling melindungi dan menjaga. Islam sangat menekankan untuk menjaga rahasia rumah tangga, khususnya yang terkait masalah hubungan suami-istri.

5. Sifat Bakhil

Ada sebagian suami yang diberi kelebihan harta, tapi sangat pelit dalam menutupi kebutuhan keluarganya sehingga mereka terlantar dan menjadi beban orang lain. Termasuk kebakhilan adalah bakhil tenaga, ilmu, dan nasihat. Seorang suami tidak boleh bakhil terhadap istrinya karena rezeki itu milik Allah SWT, dan dikaruniakan kepadanya sebagaimana firman Allah SWT:
Hendaklah orang yang mampu, memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan baban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan dan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Seorang suami harus mengetahui bahwa nafkah yang dia berikan kepada istrinya, selain merupakan kewajiban atasnya, juga bernilai sedekah. Dia akan mendapatkan pahala besar dan balasan yang banyak. Rasulullah SAW bersabda,
Satu keping dinar yang kamu nafkahi di jalan Allah, satu keping dinar yang kamu sedekahkan kepada budak, satu keping dinar yang kamu sedekahkan kepada seorang miskin, dan satu keping dinar yang kamu nafkahkan atas keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah dinar yang kamu nafkahkan atas keluargamu (istri).” (HR. Imam Muslim)

6. Bosan dengan Rutinitas

Suami dan istri harus bekerjasama dalam mengatasi kebosanan yang mulai muncul dengan mengubah rutinitas, cara berinteraksi, maupun dalam menata rumah. Pasalnya, kebosanan yang dibiarkan terus menerus akan menimbulkan badai dalam rumah tangga. Rasulullah SAW bersabda:
Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya, dan orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istri mereka.” (HR. Imam Al-Hakim)

Rasulullah SAW di sela kesibukan dalam berdakwah, tetap menyisihkan waktu bersenda gurau dengan keluarga. Beliau bersabda:
Sesungguhnya istrimu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari-Muslim)

7. Komunikasi Macet

Tidak jarang suami dan istri seperti dua orang yang tidak saling mengenal, dan tidak saling mengetahui kondisi. Semua pihak harus berani saling mengungkap cinta kasih dan rintihan hati, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Apabila salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, hendaklah memberitahukannya, karena hal itu lebih melanggengkan kasih sayang dan lebih memperdalam cinta.” (HR. Imam Ahmad)

Komunikasi merupakan metode awal dan sangat efektif dalam membentuk keluarga bahagia. Komunikasi juga merupakan cara paling ampuh untuk menyatukan hati dan membentuk pondasi kuat di antara suami dan istri. Dan, jauhilah komunikasi yang penuh umpatan, hinaan, dan cercaan karena Rasulullah SAW bersabda:
Orang yang suka mengutuk tidak memberi syafaat pada hari kiamat.” (HR. Imam Muslim)

loading...

LEAVE A REPLY