Pemerintah luncurkan kampanye terbaru melawan dampak buruk rokok.

Gulalives.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia baru-baru ini merilis kampanye baru yang menyorot dampak ekonomi dari konsumsi tembakau bagi perokok dan keluarganya, terutama anak.

Kampanye bertajuk, ‘Suara Hati Anak’ diluncurkan oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek di Jakarta, Jumat (27/5), didampingi Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Anung Sugihantono. Peluncuran kampanye ini merupakan bagian dari kegiatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2016.

Vital Strategies bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dalam mendesain dan mengimplementasikan kampanye, yang ditayangkan di media-media nasional sampai dengan tanggal 10 Juni. Kampanye ini juga dipromosikan dan dibagikan lewat YouTube, media sosial bertagar #SuaraTanpaRokok, dan situs www.suaratanparokok.co.id.

Kemenkes merilis kampanye 'Suara Hati Anak' mengingatkan tentang bahaya rokok. Foto: Twitter.
Kemenkes merilis kampanye ‘Suara Hati Anak’ mengingatkan tentang bahaya rokok. Foto: Twitter.

“Penggunaan tembakau dalam segala bentuknya akan menghasilkan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan penanganan secara prioritas. Melihat dari data yang ada, merokok merupakan salah satu penyebab utama kematian penyakit tidak menular. Hal ini bisa kita cegah dengan melindungi generasi muda dari paparan asap rokok secara dini,” kata Nila.

‘Suara Hati Anak’ menampilkan seorang ayah yang harus terbaring di tempat tidur karena penyakit yang disebabkan oleh konsumsi tembakau, di mana putrinya terpaksa meninggalkan sekolah untuk membantu keluarganya.

Penderitaan yang dialami keluarga ini merupakan bukti, mulai dari kondisi fisik ayah yang melemah dan rasa bersalah karena menjadi penyebab putrinya kehilangan kebahagiaan dan masa sekolah yang menyenangkan.

Kemenkes merilis kampanye 'Suara Hati Anak' mengingatkan tentang bahaya rokok. Foto: Twitter.
Kemenkes merilis kampanye ‘Suara Hati Anak’ mengingatkan tentang bahaya rokok. Foto: Twitter.

Sang putri berpikir mengapa ayahnya mengonsumsi tembakau, dan bertanya “Bagaimana ayah mencintaiku, jika Ia tidak mencintai dirinya sendiri?”.

Iklan Layanan Masyarakat ini diakhiri dengan seruan “Sayangi dirimu, sayangi keluargamu, berhentilah merokok!”

José Luis Castro, President and Chief Executive Officer dari Vital Strategies, mengatakan keluarga termiskin di Indonesia menghabiskan hampir 12 persen dari pendapatan mereka untuk rokok.

“Seperti yang ditayangkan dalam kampanye ini, dampak pada kesejahteraan ekonomi keluarga dan peluang kehidupan anak yang lebih baik akan lebih terpengaruh jika pencari nafkah jatuh sakit karena konsumsi tembakau,” kata Jose Luis Castro.

Pada tingkat nasional, ekonomi Indonesia akan kehilangan sebanyak US$4.5 triliun di tahun 2030 jika tanggungan untuk penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit jantung, kanker, penyakit pernapasan kronis dan diabetes tidak berkurang – dan penggunaan tembakau merupakan faktor risiko utama untuk PTM.

Kemenkes merilis kampanye 'Suara Hati Anak' mengingatkan tentang bahaya rokok. Foto: Twitter.
Kemenkes merilis kampanye ‘Suara Hati Anak’ mengingatkan tentang bahaya rokok. Foto: Twitter.

Jose memuji Indonesia membuat kemajuan dalam hal menggunakan kampanye media massa dan media sosial untuk memperingatkan warga tentang bahaya tembakau, tetapi harus ada dorongan nyata untuk berhenti juga.

Dalam hal ini, informasi penting tentang dampak ekonomi akibat konsumsi tembakau bisa digunakan untuk membangun dukungan untuk menerapkan pajak tembakau yang lebih tinggi dan disederhanakan, yang terbukti memiliki dampak besar dalam mendorong perokok kategori masyarakat miskin untuk mengurangi dan berhenti merokok.

“Kami mengapresiasi kebijakan Pemerintah Indonesia ini, dan turut juga berkomitmen kembali untuk mendukung Pemerintah dalam mengingatkan masyarakat Indonesia akan bahaya mematikan tembakau, dan membantu Indonesia membuat kemajuan menuju Agenda 2030 untuk Pengembangan yang Berkelanjutan,” kata Jose Luis Castro.

Kampanye pengendalian tembakau di Indonesia

Ini adalah kali keempat kampanye nasional pengendalian tembakau ditayangkan dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebelumnya, kampanye tiga testimoni dari korban – yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan yang  bekerja sama dengan Vital Strategies (sebelumnya dikenal sebagai World Lung Foundation) – menampilkan:

– Panjaitan, pria relijius dan pemuka masyarakat menjadi tidak mampu berbicara setelah operasi kanker tenggorokan yang membahayakan nyawanya.

– Ike, ibu dua anak dari Surabaya dan korban dari asap rokok, yang didiagnosa menderita kanker tenggorokan.

– Robby, meninggal di usia 27 akibat kanker yang disebabkan konsumsi rokok.
Iklan layanan masyarakat dan cuplikan gambar dan naskah dari iklan disediakan sesuai permintaan.

Akibat mematikan dari tembakau bagi Indonesia

Berdasarkan The Tobacco Atlas, lebih dari 2.677.000 anak dan 53.767.000 orang dewasa menggunakan tembakau sehari-hari di Indonesia (57,1 persen pria, 3,6 persen wanita, 41 persen anak laki-laki dan 3,5 persen anak perempuan).

Proporsi dari pria dewasa, anak muda laki-laki dan perempuan yang menggunakan tembakau di Indonesia lebih tinggi dari pada negara berpendapatan menengah lainnya.

Tembakau menyebabkan kematian 217.400 orang Indonesia setiap tahunnya dan pada 2010, menjadi penyebab dari 19,8 persen kematian pada pria dewasa dan 8,1 persen kematian pada wanita dewasa. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara berpendapatan menengah lainnya.

Beberapa studi menunjukkan bahwa pria dewasa Indonesia mulai mengonsumsi rokok sejak usia dini – banyak yang memulai sejak umur 12 tahun. Konsumsi tembakau menjadi faktor risiko utama untuk penyakit tidak menular, yang dapat menghabiskan ekonomi Indonesia sebanyak US$4,5 triliun dari 2012 hingga 2030, menurut estimasi World Economic Forum. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY