Bripka Seladi

Gulalives.co, MALANG – Bripka Seladi, anggota di Satlantas Polres Malang Kota, layak dijadikan teladan. Tidak seperti polisi lainnya, Bripka Seladi (57) memiliki profesi lain yang cukup berbeda dan tidak terpikirkan oleh orang lain. Terutama jika dia sudah berganti pakaian dinas dengan kaos lusuh dan topi terbalik yang digunakannya ketika menjalankan profesinya yang lain itu.

Bripka Seladi saat bertugas mengatur lalu-lintas di Kota Malang. (Foto: Suara Rakyat)
Bripka Seladi saat bertugas mengatur lalu-lintas di Kota Malang. (Foto: Suara Rakyat)

Demi mendapatkan uang sampingan, ia menyambi pekerjaan menjadi pengumpul sampah. Selain bisa mendapatkan uang halal dari pekerjaan keduanya, Bripka Seladi juga membantu dalam menciptakan kebersihan lingkungan.

Selain sebagai polisi, Bripka Seladi memanfaatkan sampah sebagai sumber rejekinya. Sehari-harinya, selain berdinas di Polresta Malang, sejak 2006 Seladi juga menjadi pemulung untuk mata pencaharian tambahan.

Bripka Seladi saat bertugas mengatur lalu-lintas di Kota Malang. (Foto: Suara Rakyat)
Bripka Seladi saat bertugas mengatur lalu-lintas di Kota Malang. (Foto: Suara Rakyat)

Sebagaimana dikutp Gulalives.co dari berbagai sumber, Bripka Seladi memiliki sebuah gudang sampah di Jalan Dr Wahidin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Uniknya, gudang tersebut tidak terlalu jauh, masih berada di jalan yang sama dengan kantor tempat ia berdinas. Ketika berdinas menjadi polisi, ia bertugas pada bagian urusan SIM Kantor Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) Polres Malang Kota yang berada di Jalan Dr Wahidin.

Gudang Sampah

Bripka Seladi tidak lagi mencari-cari di bak sampah, tetapi bekerja sama dengan pihak lain yang bersedia mengantarkan sampah ke gudangnya. (Foto: Suara Rakyat)
Bripka Seladi tidak lagi mencari-cari di bak sampah, tetapi bekerja sama dengan pihak lain yang bersedia mengantarkan sampah ke gudangnya. (Foto: Suara Rakyat)

Sebelum kantor itu, berjarak sekitar 100 meter, ada sebuah bangunan. Jika dilihat dari luar, tidak terlihat tumpukan sampah. Halaman depan bangunan itu juga terlihat bersih.  Namun, di dalamnya, bau khas sampah menyeruak. Bangunan itu minim penerangan. Tumpukan sampah yang terbungkus ratusan kantong sampah plastik berwarna hitam menggunung.

Sebuah lorong sempit disediakan untuk menuju salah satu ruangan di bagian belakang bangunan itu. Ruangan itu terlihat terang karena atapnya berlubang. Di ruang itulah, Seladi “berdinas” ketika tidak bertugas di kesatuannya.

Bripka Seladi saat mengangkut sampah yang telah dikumpulkan di tempat pengepulan. (Foto: Suara Rakyat)
Bripka Seladi saat mengangkut sampah yang telah dikumpulkan di tempat pengepulan. (Foto: Suara Rakyat)

Tempat yang dijadikan Seladi sebagai tempat pengumpulan sampahnya itu sendiri merupakan rumah yang dipunjamkan oleh seorang karib. Rumah itu mulai ditempati oleh Seladi sejak 2008 sebagai tempat pengumpulan sampahnya.

Pekerjaan sampingan sebagai pemulung ini mulai dilakukan oleh Seladi sejak tahun 2006. Ketika itu dia melihat sampah yang menumpuk di Polresta. Suatu saat, dia datang ke pengepul rongsokan dengan mebawa sampah itu yang ternyata laku dijual.

Bripka Seladi didampingi anaknya saat memilah sampah di tempat pengumpulan di Jalan Dr Wahidin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. (Foto: Suara Rakyat)
Bripka Seladi didampingi anaknya saat memilah sampah di tempat pengumpulan di Jalan Dr Wahidin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. (Foto: Suara Rakyat)

Sejak saat itu, Seladi kemudian mengumpulkan sampah walaupun hanya di lingkungan Polresta Malang. Baru setelah itu dia akhirnya berkeliling kota untuk menengok setiap bak sampah, barangkali menemukan barang yang masih dapat digunakan. Kegiatan itu biasanya dilakukannya di luar jam tugas yaitu pada malam hari.

Seiring waktu, Seladi tidak perlu lagi berkeliling untuk mencari di bak sampah tetapi bekerja sama dengan pihak lain yang mau mengantarkan sampah ke gudangnya. Seladi memanfaatkan waktu luangnya yang sebelumnya untuk mencari sampah menjadi memilah-milah sampah yang ada di gudangnya.

Sehari-harinya, Seladi bertugas di Satuan Lalu Lintas Polresta Malang. Setiap hari setelah membantu mengatur lalu lintas di pagi hari, Seladi biasa berkantor di Unit Pelayanan SIM. Selain profesinya yang cukup unik, Seladi juga biasa dikenali sebagai polisi yang berangkat dan pulang kerja mengendarai sepeda onthel.

Tolak Suap

Dalam bertugas, Bripka Seladi pun terlihat sederhana dengan menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi. (Foto: Suara Rrakyat)
Dalam bertugas, Bripka Seladi pun terlihat sederhana dengan menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi. (Foto: Suara Rrakyat)

Di Polres Malang, Bripka Seladi bertugas sebagai penguji SIM A di Polres Malang  Kota. Bripka Seladi selalu menolak suap dan bahkan uang ucapan terima kasih dari mereka yang merasa dibantu dalam ujian SIM A. Jika ada peserta ujian SIM A yang tidak lulus maka ia membantu agar di ujian yang akan datang bisa lulus.

Tentu hal ini berbeda dengan oknum polisi yang lain yang seringkali memanfaatkan posisinya untuk menerima suap. Di samping posisi yang memungkinkan Bripka Seladi menerima suap, sebenarnya iapun terlilit kesulitan keuangan.

Di tambah beban keluarga ada dua anak dan seorang isteri yang harus dihidupinya.  Untuk mecari tambahan uang yang halal, ia pernah berjualan bensin eceran yang modalnya pinjam dari bank. Tapi usaha itu kandas karena ussaha penjualan bensin eceran itu terbakar.

Kejujuran Seladi pun tampak dari usaha anak pertamanya untuk menjadi polisi dengan jalur ujian yang normal yang sudah gagal sampai tiga kali. Padahal mungkin kalau Seladi mau menulis surat keterangan mungkin anaknya dengan lancar bisa diterima sebagai polisi dengan mudah.

Semoga sehat selalu Bripka. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY