Utang kartu kredit

Gulalives.com, JAKARTA – Pernah dengar istilah kekinian BPJS? Bukan…ini bukan merujuk kepada jaminan sosial kesehatan yang diterapkan pemerintah, meskipun sekilas maknanya mirip. BPJS yang dimaksud di sini adalah ‘budget pas-pasan jiwa sosialita’. Nah.

Istilah BPJS ini kerap dipakai untuk menyindir gaya hidup hedon masyarakat urban belakangan ini. Maunya tampil wah dan wow namun apa daya isi kantong cekak. Dan yang beginian ini banyak. Banyak banget malah…rela ngutang demi gaya. Tinggal di kos-kosan dengan fasilitas seadanya tak masalah asalkan penampilan kinclong, meski itu semu.

“Orang kan nggak penting tahu gue tinggal di mana, ngontrak apa enggak. Yang penting penampilan gue keren,” begitu pembelaan kaum BPJS ini.

Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.
Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.

Nah, mudah ditebak, akibatnya mereka yang berjiwa BPJS akan melakukan akrobat gali lubang tutup lubang untuk mencukupi kebutuhan. Solusi praktisnya tentu saja ngutang. Perkara bayarnya bagaimana, dipikir nanti. Malah kalau bisa ngemplang. Emang ada? Banyak lho yang punya pikiran begitu. Ngeriii.

Faktanya memang tidak sedikit individu yang menjalani gaya hidup jauh di atas kemampuan dengan berbagai alasan, dari kurangnya paparan terhadap pendidikan finansial hingga tekanan sosial.

Tanpa disadari, mereka mengeruk lubang permasalahan besar di masa depan dengan menjalani hidup tanpa persiapan dan perencanaan keuangan yang baik.

Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.
Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.

Nah, sebelum terbelit masalah, ada beberapa tanda bahaya yang bisa kamu amati dan renungkan, sekaligus untuk mengecek apakah gaya hidup kamu selama ini jauh melebihi kemampuan finansialmu yang sebenarnya:

1. Tidak punya tabungan darurat

Jika misalnya hari ini kamu mendadak tertimpa kemalangan atau kejadian yang membutuhkan biaya signifikan, kamu mungkin akan kelabakan karena tidak menyisihkan tabungan darurat.

Selama ini kondisi keuanganmu hanya sebatas uang masuk, uang keluar, baik untuk kebutuhan sehari-hari atau membayar hutang, tanpa ada simpanan untuk masa depan.

Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.
Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.

2. Sering pinjam uang

Untuk membayar utang atau membiayai gaya hidupmu, kamu sering harus meminta bantuan teman atau anggota keluarga. Hanya karena kamu tetap mengembalikan tepat waktu, jangan kira mereka tidak risih karena kamu selalu ‘nodong’ untuk meminta pinjaman. Terlebih, pinjaman itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan tersier, misalnya kongkow bareng teman sekadar buat eksis.

Bahkan demi dapat pinjaman, kamu rela berbohong akan dipakai untuk kebutuhan mendadak. Eh, dasar narsis, ternyata kamu ketahuan pakai duit pinjaman untuk makan di restoran keren dan kamu ungguh di media sosial. Dunia sempit, Sob.

Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.
Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.

3. Pengeluaranmu berhubungan dengan gengsi

Jika benar-benar ditelusuri, mayoritas sumber pengeluaranmu ternyata dikaitkan dengan kebutuhan menjaga gengsi dan penampilan. Entah untuk alasan pribadi atau profesional, kamu merasa harus ikut lingkaran sosial yang makan di tempat mewah, atau menggunakan gadget dan pakaian merek tertentu.

Nggak masalah sih mengikuti gaya hidup begitu, dengan catatan kamu memang memiliki kemampuan membayarnya. Ada saldo di tabungan, bukan saldo kartu kredit.

4. Sering iri pada hal-hal yang bersifat material

Rumput tetangga memang lebih hijau. Ini juga berlaku buatmu. Kamu sering berharap punya lebih dan lebih lagi.  Pola pikir ini berisiko membuatmu melakukan pilihan impulsif dan mengacaukan rencana jangka panjangmu. Insaf deh.

Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.
Kaum urban rela membelanjakan uang meski itu utang untuk memenuhi kebutuhan gaya atau gengsi.

5. Sering melebihi limit kartu kredit

Kartu kredit seharusnya tidak dianggap sebagai uang ekstra yang digunakan untuk membeli benda yang jauh di luar jangkauan keuanganmu. Saat kartu kredit melebihi limit, maka kamu akan dikenakan bunga dan biaya overlimit, selain jumlah utang awal.  Jika kamu sering kesulitan tepat waktu membayar utang kartu kredit karena tidak ada dana, atau hanya membyara sejumlah cicilan minimal, itu lampu kuning.

6. Anggaran keuangan kacau

Rencana membuat anggaran dengan membagi-bagi penghasilan ternyata sebatas rencana. Jika pengeluaranmu terlalu sering melewati batasan yang telah ditetapkan sendiri, atau bahkan membobol dari dana tabungan (jika ada), mungkin ini saatnya mempertimbangkan kembali priorotas hidupmu sebelum kamu terjatuh terlalu dalam. (VW)

 

loading...

LEAVE A REPLY