Orangtua hendaknya mengajarkan tauhid dan akhlak mulia pada anak (Foto: Pinterest)

Gulalives.co, JAKARTA – Tauhid menjadi napas ajaran Islam, dengan akhlak mulia Rasulullah SAW menjadi panutan. Orangtua hendaknya mengajarkan tauhid dan akhlak mulia pada anak.

Dalam rumah tangga, jika kita menjadi anak, tentu kita mempunyai orangtua. Sayangnya, sebagian anak di zaman serba cepat ini merasakan seperti tidak mempunyai orangtua. Begitupun sebaliknya. Seorang suami yang punya istri, seperti tidak merasa punya istri, juga sebaliknya. Nah, jangan-jangan ada masalah dalam komunikasi rumah tangga kita.

Sebaiknya, anggota rumah tangga merasakan kehadiran anggota rumah tangga yang lain. Selanjutnya kalau sudah benar di dalam satu rumah, tetangga kita harus merasakan kehadiran kita untuk tetangga yang lain. Begitu juga kita merasakan kehadiran tetangga yang lain di dalam rumah tangga kita.

Kemudian kita bawa ke lingkungan pekerjaan. Seorang majikan tidak menjadi sosok yang ditakuti, tapi dihormati dan dimuliakan oleh anak buahnya. Seorang bawahan ketika bertemu pimpinannya, dia merasa rindu, merasa aman, dan merasa nyaman. Lalu kita bawa ke lingkup yang lebih besar. Sebagai masyarakat, kita mempunyai pemerintah, tapi merasa seperti tidak ada. Benarkah pemerintah mengurusi kita? Pemerintah pun demiikian, punya masyarakat tapi tidak pernah diajak ngobrol, enggak diasuh, enggak dilayani. Ada masalah komunikasi.

Dikutip dari buku Keluargaku Surgaku: Mendidik Anak sebagai Investasi Terbaik Dunia Akhirat oleh Ust. Yusuf Mansur, kita akan belajar bagaimana Rasulullah SAW, yang bukan hanya seorang pemimpin negara, nabi, rasul, tapi juga memainkan peranan bagaimana beliau bisa akrab dengan seorang anak kecil, melindungi, dan mengasuh anak-anak kecil. Tua, muda, bahkan sampai anak-anak Rasulullah SAW dekat dengan semuanya.

1. Anak adalah Amanah

(Foto: Vox)
(Foto: Vox)

Setiap orangtua pasti menyadari bahwa anak adalah amanah. Jika kita tidak mampu memperkenalkan anak kita kepada Allah, maka amanah itu dianggap gagal. Lebih hebat lagi, jika kita bisa mengenalkan anak orang lain kepada Allah. Bukankah kata Nabi, bantulah orang lain, maka Allah akan membantu kita. Maka, jika kita kesulitan dalam mengurus anak kita, ada resep yang gampang, yakni cobalah membantu anak yang lain. Nanti anak kita akan diurus oleh Allah SWT.

Saat ini, persoalan hidup, dunia kapitalis, tuntutan zaman, mungkin sudah membuat banyak orangtua tidak sempat lagi berkomunikasi kepada anaknya. Anak tidak sempat komunikasi dengan orangtuanya. Jangankan antara atas ke bawah, antara suami dengan istri, kakak dengan adiknya, paman dengan keponakannya, sudah jauh dan jarang berkomunikasi.

2. Pelajaran dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

(Foto: Soundvision)
(Foto: Soundvision)

Dalam surat ash-Shaaffaat, ada pelajaran yang bisa kita ambil, yakni dialog. Komunikasi antara Nabi Ibrahim AS dengan anaknya, Nabi Ismail AS.

Falammaa balagha ma-‘ahussa’-ya, qaala Bunayya…Nabi Ibrahim menyebut anaknya, “Ya Bunayya!”. Ini adalah panggilan mesra antara ayah dengan anak yang diajak dialog dengan ayahnya, padahal Nabi Ismail masih kecil ketika itu. “Yaa Bunayya, innii araa fil manaami, annii adz-bahuka fanzhur maadzaa tara?”. Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelih kamu. Bagaimana Ismail, menurut pendapat kamu?”.

Ismail AS kemudian menjawab, “Qaala, ‘Yaa Abatif-‘al maa tu’mar, satajidunii insyaa Allaahu minash-shaabiriin.” Setelah diajak dialog, Ismail berkata pada ayahnya, “If’al maa tu’mar.” Jika itu memang perintah Allah, laksanakanlah wahai ayahku. Niscaya engkau, wahai ayahku, akan melihat aku dalam keadaan orang-orang yang sabar. Sungguh luar biasa jawaban dari seorang Ismail.

3. Penuh Kelembutan

(Foto: Muslimsistah-sq.blogspot)
(Foto: Muslimsistah-sq.blogspot)

Ada lagi hikmah dari Umar bin Abi Salamah ketika masih kanak-kanak. Rasulullah SAW pernah menasehatinya, “Ya Ghulaam!”. Lihat, bagaimana Allah SWT menganugerahkan kepada Rasulullah SAW kelembutan. Kepada musuh-musuhnya, beliau berkata “Asyiddaa’u ‘alal kuffar” (keras kepada orang-orang kafir), tapi kepada mukmin, “ruhamaa’u bainahum” (sangat sayang kepada orang-orang mukmin). Kepada anak-anak, Rasulullah berkata “Ya ghulaam!” Wahai anakku! “Sammillaaha” Sebutlah nama Allah “Wakul biyamiinik!” Dan makanlah dengan tangan kanan “Wakul mimmaa yaliik!” Dan makanlah apa yang ada di dekatmu”.

Jangan sampai kita menjadi orangtua yang tidak peduli pada anak, dan bisa menyiapkan serta menyediakan waktu yang lebih untuk anak-anak kita. Sebisa mungkin orangtua tidak memberikan sisa waktu, tapi berikanlah waktu terbaik untuk anak-anak. Seperti halnya Rasulullah SAW yang menunjukkan bagaimana seharusnya seorang paman, ayah, maupun seorang tua kepada anak kecil. Beliau memberikan contoh, kehangatan, kasih sayang, dan perhatian.

4. Libatkan dalam Proses

(Foto: Upworthy)
(Foto: Upworthy)

Ust. Yusuf Mansur menuturkan pengalaman masa kecilnya. Saat itu, dia dan saudara kandungnya dilibatkan dalam semua proses makan oleh orangtuanya. Bagaimana orangtua mengajaknya belanja hingga bisa tahu berapa harga tempe, misalnya, atau dimana tempat membeli ikan. Inilah yang membawa pengaruh ketika dia sudah dewasa.

Sayang, menurutnya, hal ini menjadi kelemahan pola asuh zaman sekarang yang tidak dilibatkan dalam proses, salah satunya menyiapkan hidangan keluarga. Anak-anak di kamar masing-masing, begitu tiba waktu makan, mereka dipanggil, “Nak, makan! Makan! Ayo turun! Turun!”. Dunia kini menjadi individualistik dimana hati tidak saling terpaut. Namun, paling tidak kita harus menciptakan kehangatan di rumah.

Secara konten, Rasulullah SAW menyuruh kita, “Sammillaaha!” Sebutlah nama Allah. Urusan ringan, yakni makan, kita menyuruh anak menyebut Allah, apalagi kemudian urusan yang besar. Apalagi nanti anak kita akan bisa belajar terus untuk menyebut nama Allah. Makan dengan tangan kanan, dan ambillah dari yang dekat. Nasehat Rasulullah ini mengajarkan anak kita tidak rakus dan mempunyai pandangan berbeda dengan orang-orang yang serakah.

loading...

LEAVE A REPLY