Suntik botox

Gulalives.com, JAKARTA – Beragam cara dilakukan untuk tampil memikat, bukan saja oleh wanita, namun juga pria, termasuk yang melibatkan jarum suntik. Meskipun menjanjikan hasil yang memuaskan, namun tetap saja metode ini mengandung risiko.

Sebuah badan pengawas kesehatan mengkhawatirkan orang-orang yang melakukan perawatan kecantikan, seperti melakukan suntik botox, berisiko terinfeksi jarum yang kotor. Lembaga Nasional untuk Kesehatan dan Perawatan (NICE) mengatakan semakin banyak orang yang menyuntikkan pewarna kulit, suntik kolagen dan botox di rumah atau salon yang tidak begitu memperhatikan kesehatan.

Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.
Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.

Berbagi jarum dapat menyebarkan penyakit melalui darah seperti HIV dan hepatitis C. Karena itu, NICE bertujuan mendorong masyarakat menggunakan jarum steril untuk membendung penyebaran infeksi, demikian dilaporkan BBC.

Tapi NICE mengatakan orang melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko. “Kami melihat peningkatan masalah terkait penggunaan obat-obatan untuk tujuan yang bersifat kosmetik,” kata juru bicara NICE. Ini termasuk pengobatan anti-kerut yaitu Botox, pengisi dermal dan pewarna kulit.

Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.
Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.

Profesor Mike Kelly, Direktur Pusat NICE mengakui terakhir menerbitkan penyuluhan mengenai jarum suntik pada 2009. “Kami melihat peningkatan dalam penggunaan obat-obatan untuk menunjang penampilan seperti steroid anabolik, botox, pewarna dan penggunaan pengisi dermal seperti kolagen.”

“Kami juga mendengar bukti anekdotal bahwa remaja sekarang lebih banyak menyuntikkan obat-obatan penunjang penampilan,” imbuhnya.

Salah satu rekomendasi yang diusulkan dalam pedoman baru adalah bahwa dewan lokal mempertimbangkan untuk memberikan kotak benda tajam bagi orang untuk membuang jarum dan alat suntik bekas.

Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.
Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.

Rajiv Grover, konsultan bedah plastik dan presiden British Association of Aesthetic Plastic Surgeons (BAAPS), mengatakan, “Karena kurangnya regulasi di sektor kosmetik, tidak mungkin untuk mengetahui berapa banyak pasien yang berisiko terkena penyakit lewat berbagi jarum suntik karena suntik botox atau kolagen.”

Membatasi Perkembangan Emosional

Suntik botox belakangan banyak dipakai untuk mengatasi gangguan kesehatan atau semata untuk kebutuhan estetika, misalnya menghilangkan kerut. Masalahnya, suntik ini juga bisa berdampak pada hal lain.

Para ahli mengingatkan bahwa perawatan botox untuk anak muda akan membatasi perkembangan emosional mereka.

Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.
Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.

Peringatan para ahli yang ditulis dalam jurnal Aesthetic Nursing, menyebutkan tren menyamarkan kerutan menjadi tren di kelompok usia d ibawah 25 tahun. Tetapi peneliti mengatakan “pembekuan wajah” dengan suntik botox dapat menghentikan orang muda untuk belajar bagaimana mengekspresikan emosi secara penuh.

Sebuah badan operasi plastik terkemuka di Inggris mengatakan menginjeksi para remaja dengan alasan kosmetik merupakan tindakan yang “salah secara moral”. Botox dan racun lain dapat melumpuhkan otot di bagian wajah untuk mengurangi kerutan ketika orang mengerutkan dahi.

Perawat Helen Collier,yang melakukan riset tersebut, mengatakan siaran TV yang menayangkan acara selebriti mendorong anak-anak muda untuk melakukan tindakan “pembekuan wajah”.

Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.
Melakukan suntikan untuk tujuan kecantikan amatlah berisiko.

Tindakan tersebut kata Collier, dapat membahayakan kemampuan mereka untuk mengungkapkan perasaannya.

“Sebagai mahluk hidup kemampuan kita untuk menunjukkan berbagai emosi sangat tergantung kepada ekspresi wajah. Emosi seperti empati dan simpati membantu kita untuk bertahan dan tumbuh sebagai manusia dewasa yang percaya diri dan komunikatif. Ketika Anda menghapus semua ekspresi, ini akan membatasi perkembangan emosi dan sosial mereka,” kata Collier.

Peneliti meminta agar para praktisi bidang kecantikan untuk melakukan kajian dalam memutuskan apakah perawatan botox yang akan diberikan berdasarkan pertimbangan klinis. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY