Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.

Gulalives.com, JAKARTA – Apakah kamu selama ini rajin melakukan aktivitas sit up untuk mengecilkan perut atau bahkan membuat otot di bagian itu? Benarkah hasil sit up memang sepadan dengan usahanya?

Penelitian terkini tak hanya berdebat soal apakah sit-up bermanfaat, tapi juga mengenai apakah olahraga ini punya dampak buruk bagi kita.

Tinjauan dari berbagai penelitian yang dilakukan mengenai sit-up menunjukkan bahwa aktivitas ini meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot dan, pada anjing, meregangkan tulang belakang terbukti mengantarkan nutrisi pada cakram-cakram yang bisa mengurangi kekakuan.

Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.
Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.

Sejauh ini, baik-baik saja. Tapi untuk mendapatkan perut enam bidang alias six pack yang diinginkan membutuhkan banyak usaha.

Dalam uji coba kecil yang acak dan terukur di Illinois pada 2011, sebuah kelompok melakukan latihan perut harian sementara grup lain yang beruntung tak harus melakukan apa-apa.

Setelah enam minggu pengukuran rinci, ditemukan bahwa ternyata sit-up tak berpengaruh pada ukuran lingkar pinggang atau jumlah lemak di sekitar perut.

Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.
Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.

Banyak penyuka olahraga yang melakukan sit-up sebagai bagian dari serangkaian latihan yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas otot inti, namun penelitian dari Thomas Nesser di Indiana State University menemukan bahwa meningkatkan stabilitas otot inti tak selalu menghasilkan performa atletik yang lebih baik.

Terlepas dari bisa atau tidak sit-up menghasilkan bentuk fisik atau tingkat kebugaran yang Anda inginkan, tapi bisakah sit-up menghasilkan akibat yang tak diinginkan seperti sakit punggung?

Stuart McGill, profesor biomekanik tulang belakang di University of Waterloo di Kanada sudah mempelajari sit-up selama bertahun-tahun dan yakin bahwa olahraga ini memang membahayakan kita.

Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.
Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.

McGill melakukan serangkaian penelitian di lab biomekanika tulang belakangnya menggunakan bangkai babi, dan berulangkali meregangkan tulang belakang babi tersebut dengan cara yang sama seperti saat seseorang melakukan sit-up, tapi dalam waktu berjam-jam.

Saat dia memeriksa cakram di tulang belakang, McGill menemukan bahwa bagian tersebut diremas sampai menggembung. Jika hal yang sama terjadi pada manusia, maka ini akan memberi tekanan pada saraf, menyebabkan sakit punggung, dan bahkan hernia.

Bangkai babi digunakan untuk eksperimen ini karena tulang belakangnya mirip dengan manusia dibanding hewan-hewan lain, tapi tentu saja, pengamat penelitian ini mengingatkan bahwa ada banyak perbedaan antara manusia dan babi. Selain itu, penelitian ini melibatkan siklus membungkuk yang tanpa henti.

Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.
Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.

Bahkan jika seseorang berolahraga keras pun, mereka akan tetap mengambil jeda di antara rangkaian latihan.

Bisa jadi hasil-hasil ini menunjukkan hasil ekstrem yang mungkin terjadi jika kamu melakukan sit-up terus-menerus selama berjam-jam, tapi di kehidupan nyata, tentu sebagian besar orang tak akan terluka saat melakukan satu rangkaian yang terdiri dari 15 kali sit-up.

Tetapi, kecelakaan bisa terjadi. Penelitian yang diterbitkan pada 2005 terhadap tentara yang ditempatkan di markas militer AS, Fort Bragg, menyebut bahwa 56 persen cedera yang muncul saat Tes Kebugaran Fisik Militer berasal dari sit-up, demikian dilaporkan laman BBC.

Beberapa orang cenderung lebih sensitif terhadap masalah punggung akibat sit-up dibanding penyebab lain.

Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.
Sit up ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif juga negatif.

Bisa saja kita melakukan 30 sit-up sehari selama berpuluh-puluh tahun dan tidak mengalami cedera sedikitpun, atau kita bisa mengalami cedera, dan sulit untuk mengetahui kita masuk ke kategori mana. Masalahnya bisa berakar pada gen kita.

Menurut satu penelitian, bukan soal frekuensi melakukan sit-up yang menimbulkan kesulitan, tapi faktor genetik yang menjadi penyebab tiga perempat perbedaan antara orang-orang yang mengalami masalah punggung dan mereka yang baik-baik saja. Ada orang yang mengalami sakit punggung akibat melakukan sit up, menurut hasil penelitian itu.

Tapi bagaimana jika kamu ingin perut berotot dengan cara sit up, adakah cara untuk mengurangi risikonya? Profesor Stuart McGill merekomendasikan agar kamu menyelipkan tangan di pinggang bawah untuk mencegah agar punggung rata dengan lantai.

Langkah ini bisa mengurangi tekanan di punggung. Tekuk satu lutut dan panjangkan lutut satunya. Lalu angkat sedikit kepala dan bahu dari lantai. Latihan ini dia gambarkan secara mendetail di bukunya, Back Mechanic. (VW)

loading...

LEAVE A REPLY