Nenek Rauf

Gulalives.co, JAKARTA – Sahabat Gulalives masih ingat tokoh “Budi” dalam pelajaran membaca dan menulis kelas 1 Sekolah Dasar (SD)? Bagi anak-anak yang lahir di tahun 1970-an hingga 1990-an barangkali masih mengenalnya.

Cerita “Ini Budi” begitu terpatri bagi sebagian besar orang Indonesia. Hampir dalam setiap hal yang bersinggungan dengan nama “Budi,” pelajaran membaca itu selalu terngiang kembali.

Adalah Siti Rahmani Rauf sang pencetus karya “Budi” itu. Lewat karakter ‘Budi’ tersebut, ternyata menjadi alat peraga yang baik dan mudah membantu anak bisa membaca. Banyak guru yang mangakui tertolong dan mudah dalam memberikan pelajaran pada anak didiknya. Simak perjalanan hidup sang pencetus karakter ini Budi, yang dilansir Gulalives.co dari berbagai sumber, Rabu (11/5/2016)

1. Sejarah perjalanan hidup Siti Rahmani Rauf

nenekPerempuan ini lahir di Padang, Sumatera Barat pada 5 Juni 1919. Perempuan ini biasa disapa Ibu Ani oleh teman-temannya. Mantan Kepala Sekolah SD Tanah Abang 5, Jakarta Pusat, ini terkenal dengan karyanya yang berupa buku pelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar (SD).

Khususnya untuk murid-murid SD kelas 1 hingga kelas 3. Berkat buku yang diciptakan itulah nama Ani dikenal luas oleh mereka yang pernah mengenyam pendidikan SD di era tahun 1980-an dari seluruh Indonesia. Seperti dilansir situs wijayalabs.com, Ani memulai karir mengajarnya dari zaman penjajahan Belanda. Ani sangat fasih sekali dalam berbahasa Belanda. Oleh karenanya sampai saat ini ia agak cadel kalau berbicara.

Waktu kecil, ia akrab dipanggil Ani. Sejak kecil ia memang ingin bercita-cita jadi guru. Ani mulai mengajar jadi guru di usia 17 tahun. Ini selepas lulus dari Normal School di Padang Panjang, sekitar 60 kilometer dari Kota Padang pada 1936. Sekolah ini bentukan Pemerintah Hindia Belanda. Padang Panjang waktu itu memang dikenal sebagai pusat pendidikan. Selain pendidikan formal seperti guru, di kota ini juga berkembang pesat pendidikan Agama Islam.

Empat tahun ia belajar di sekolah khusus guru wanita itu. Waktu itu, ia sebetulnya takut masuk sekolah Belanda. Takut melihat para serdadu Belanda yang matanya biru. Siti remaja memang gadis penakut dan sering gamang.

Pendidikan di Normal School disampaikan dalam bahasa Belanda. Makanya, hingga sebelum terbaring sakit, Ani fasih bercakap-cakap bahasa Belanda. Saat saya ke rumahnya, di tempat tidurnya terdapat novel De laatste brief karya Sarah Blake dan buku serial diskusi tasawuf modern, “Mengubah Takdir” karya Agus Mustofa.

nenek raufKebiasaan membaca Ani sudah dilakukan sejak masih muda. Saat menginjak usia 90 tahun ke atas, Siti Rahmani melakukan kebiasaanya pada malam hari karena kerap sulit tidur. Di ruang tamu rumahnya menumpuk beberapa judul novel berbahasa Belanda. Novel-novel tersebut antara lain karya Barbara dan Stephanie Kiting dengan judul Mijn Dochter is Frankrijk. Kemudian ada karya Sarah Blake yang berjudul “De laatste brief”, karya Helga Ruebsamen berjudul “Het Lied en de Waarheid”, dan beberapa novel lainnya.

Ia juga jago melukis. Lukisannya dipigura dan dipasang di ruang tamu. Lukisannya banyak menghiasi rumahnya dan rumah anak-cucunya. Lukisan-lukisannya dikumpulkan dalam sebuah buku tersendiri. Di ruang tamu itu juga ada lukisan bergambar Siti, yang merupakan hadiah dari sebuah komunitas, sebagai bentuk apresiasi terhadap kariernya.

Pada 16 Agustus 1954. Kapal Tobali melemparkan jangkarnya di Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Itulah kali pertama Ani dan suaminya, Abdur Rauf Raja Medan, beserta anak-anak menginjakkan kaki pertama di Jakarta. Di Jakarta, mereka mengontrak di Kampung Jati Pinggir Petamburan, sebelum akhir membeli rumah setahun kemudian.

Bersama Rauf, suaminya, Ani memiliki 9 anak, 3 di antaranya sudah meninggal dunia. Karmeni Rauf adalah putri kandung Siti Rahmani Rauf yang ke-empat. Selain Karmeni, anak-anak dari Siti yaitu, Rafles, Tatiana (sudah meninggal), Rufman, Hasrani, Rufdi, Ruflina, Ruflianto (meninggal), Juniardi, Novawati (meninggal).

2. Asal usul tokoh ‘Ini Budi’

ini-ibu-budiPada tahun 1974, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI membuat kurikulum bagi anak-anak yang baru memasuki SD. Kurikulum ini bertujuan mempermudah siswa belajar membaca dan menulis. Metode yang diperkenalkan adalah metode Struktur Analitik Sintesis (SAS). Metode ini waktu itu diujicobakan sejak 1972 hingga 1975 pada 160 SD di Jakarta, Padang, dan Ujung Pandang.

Metode itu mengenalkan anak-anak akan sebuah kalimat utuh. Lalu, kalimat akan dibelah ke dalam unit-unit pengucapan. Dari kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi rangkaian huruf-huruf. Bagian-bagian yang tercerai berai tadi lalu dikembalikan menjadi kalimat utuh semula.

“Metode SAS didasarkan pada pendekatan cerita. Anak-anak nantinya akan diminta mencari huruf, suku kata, dan kata, lalu menempelkan kata-kata menjadi kalimat yang berarti,” tulis Dr. R.I. Suhartin dalam Smart Parenting (2010).

Saat itu buku peraga membaca belum ada. Yang ada buku paket Bahasa Indonesia. Saat itu Siti, yang telah pensiun dari Kepala SD Tanah Abang V, ditawari oleh temannya untuk membuat buku peraga membaca dengan metode SAS. Siti pun menyanggupi. Di dalam buku itu selain kalimat-kalimat juga dilengkapi gambar tokoh.  Nama “Budi” bukanlah Ani  yang membuat. Tokoh-tokoh tersebut sudah tercantum dalam buku paket yang dibuat pemerintah. Buku peraga itu lalu dicetak dan diperbanyak oleh percetakan.

Diciptakan karakter ‘Budi’ dalam pelajaran Bahasa Indonesia era 1980-an ini, menurut Nenek Rauf, bukanlah kebetulan semata. Dengan keahlian Nenek Rauf, dia menambah gambar tokoh Budi beserta keluarganya sesuai dengan tema yang diangkat disetiap halamannya. Adapun, metode peraga atau buku yang disusunnya bersama dengan sang Ibu merupakan alat peraga yang baik dan mudah membantu anak bisa membaca.

Pada bulan Juni 2014 lalu, Menteri Pendidikan, M Nuh menghapus tokoh ‘Budi’ dari buku pelajaran SD. Kini tokoh buku baca diganti menjadi beberapa orang yang berasal dari berbagai suku bangsa. Kini buku peraga membaca tersebut sudah tak dipakai lagi dalam pelajaran membaca di SD. Nama “Budi” pun tak dipakai lagi dan disesuaikan dengan nama-nama lokal, di mana siswa belajar. Namun, kisah “Budi” tak pernah lekang oleh waktu.

3. Prihatin

Siti-Rahmani-RaufKala itu, Nenek Rauf yang disapa Ani mengatakan bahwa penulis saat ini tidaklah seperti dulu yang pandai merangkai kata-kata menjadi kalimat yang berbunga-bunga, cantik, dan menarik. Contoh buku hasil karya mereka adalah salah asuhan, siti nurbaya, di bawah lindungan ka’bah dan lain-lain.

Mantan guru di zaman Belanda yang bergaji 25 gulden Belanda ini baru diangkat menjadi guru pemerintah (PNS saat ini) pada tahun 1937. Ani pun pensiun dengan jabatan terakhir Kepala Sekolah SDN Tanah Abang 5 pada tahun 1976.

Ani juga bercerita kalau mantan murid-muridnya banyak yang menjadi orang. Ada yang menjadi dokter, dan ada juga yang hanya menjadi supir angkot. Menurut Ani, waktu itu jarang sekali buku-buku untuk anak kelas 1 SD. “Parah guru mengajar, enggak ada buku. Mengajar anak kelas 1 itu kan susah. Nah, enggak ada bukunya, bayangkan,” kata pensiunan guru sejak 1976 ini.

4. Terbaring sakit hingga meninggal dunia

siti rahmaniSejak 2009, Ani terbaring di ranjang besi di ruang tamu. Ranjang ini dibawanya dari RS Pelni, tempat ia dirawat karena terjatuh dari tempat tidur. Sejak itu, ia tak lagi bisa berjalan; kakinya lumpuh. Aktivitas sehari-hari dilakukan di ranjang.  Sejak sakit ia sudah jarang menulis dan melukis. Ia lebih banyak terbaring dan membaca apa saja yang dia inginkan mulai koran, buku, Al Quran, dan dua otobiografinya anaknya.

Sekitar 7 tahun sakit, akhirnya nenek Rauf pada malam tadi, Selasa (10/5/2016) menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 21.20 WIB. Meninggal di usia 97 tahun sosok Siti memang tak akan pernah bisa dilupakan. Nenek Rauf meninggal dunia dalam usia 97 tahun.

Selamat jalan nenek Rauf, semoga khusnul Khatimah. (DP)

loading...

LEAVE A REPLY