via: praptoprasojo.wordpress.com

Gulalives.co, Jakarta – Hai sobat Gulalives! Apakah kalian tahu bahwa kota Bengawan sedang gencar-gencarnya mempromosikan kebudayaan mereka? Kalian yang belum tahu bisa simak ulasannya dibawah ini ya!

Tema yang diangkat dari kota solo (via: cahkalitan.wordpress.com)
Tema yang diangkat dari kota solo (via: cahkalitan.wordpress.com)

“The Spirit of Java” adalah tema yang diangkat dalam mengusung kebudayaan di kota Bengawan dan semakin menguatkan kota Bengawan sekaligus kota budaya ini dengan nuansa budayanya di Solo, Jawa Tengah. Dengan berbekal kebudayaan yang sudah melekat, serta keunikan kota yang juga dituangkan dalam berbagai tradisinya seperti Kirab Pusoko 1 suro, Grebek pasar, Grebek syawal, Grebek maulud, Grebek sudiro, Sekaten dan lain lainnya. Jadi,tidak heran kalau nuansa “kejawen” sangat kental saat anda mengunjungi kota yang menjadi nyawanya jawa ini.

Abdi dalem keraton Solo (via: id.wikipedia.org)
Abdi dalem keraton Solo (via: id.wikipedia.org)

Salah satu budaya yang sangat melekat di otak saya adalah  “Sekaten” warisan abadi kota Solo ini masih dipertahankan sampai sekarang. Sekaten bisa diartikan dengan upacara perayaan hari kelahiran Rasullulah SAW, oleh karena itu Sekaten selalu diadakan menjelang peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurut sejarah, Sekaten sangat berpengaruh dengan penyebaran agama islam di Solo. maka dari itu kota ini tidak pernah setengah-setengah untuk merayakan Sekaten. Bagaimana tidak, acara ini bisa berlangsung selama satu minggu full dan selama upacara sekaten ini berlangsung biasanya diadakan pasar malam yang sudah dimulai beberapa minggu sebelumnya. Pasar ini berlokasi di daerah alun alun utara kota Solo. masyarakat lokal maupun mancanegara sangat antusias dan berbondong-bondong untuk menyaksikan acara sekatenan ini.

Grebek Maulud

Hasil bumi yang dibentuk seperti gunungan pada saat Grebek Maulud (via: www.wego.co.id)
Hasil bumi yang dibentuk seperti gunungan pada saat Grebek Maulud (via: www.wego.co.id)

Puncak acara sekaten ini dinamai dengan Grebek Maulud. Acara ini yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga Solo maupun pendatang. Pada acara Grebek Maulud biasanya mereka (orang asli Solo) menyiapkan hasil bumi seperti kacang-kacangan,sayuran,singkong dan lain-lain yang dibentuk menyerupai gunungan,dan tak lupa dengan gunungan nasi kuning yang bisa dipanggul oleh 4 sampai 5 orang.

Gunungan yang sudah disiapkan akan dibawa keluar area kompleks keraton dan diarak menuju ke Masjid Agung Keraton. Sesampainya di Masjid Agung Keraton,warga Solo maupun pendatang berebut untuk mendapatkan hasil bumi ini. Mereka percaya bahwa gunungan ini akan membawa berkah dan rezeki bagi siapa saja yang mendapatkannya.

Wisatawan asing saat berkunjung ke kota Solo (via: travelinghematnusantara.files.wordpress.com)
Wisatawan asing saat berkunjung ke kota Solo (via: travelinghematnusantara.files.wordpress.com)

Banyak wisatawan bertanya-tanya mengapa sampai sebegitu mewahnya mengadakan acara sekatenan ini? Mereka yang menganut sistem kebudayaan ini mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang maha Esa dengan cara upacara sekaten yang tidak bisa dianggap sebelah mata ini.

Bagi mereka “Tuhan saja memberikan kenikmatan yang berlimpah,mosok kita sebagai hambanya tidak mau bersyukur dengan nikmat ini. Inilah cara kita bersyukur”. Kebanyakan dari mereka mengganggap budaya ini hanya figuran dan menjadikan gaya hidup modern intisari dari kehidupan mereka. Dan banyak juga dari mereka menjadikan kebudayaan ini sebagai alat perekonomian untuk menarik para wisatawan asing maupun lokal.

Dan intinya Budaya tetaplah budaya,dan kebudayaan pada hakikatnya dibudayakan bukan untuk diasingkan.

 

loading...

LEAVE A REPLY