Cari tahu alasan anak berbohong, lalu bertindaklah secara tepat untuk mengatasinya (Foto: Cnn)

Gulalives.com, JAKARTA – Sebagai orangtua, kita pernah mendapati si kecil berbohong. Cari tahu alasan anak berbohong, lalu bertindaklah secara tepat untuk mengatasinya.

Ketika anak-anak berbohong, kadang-kadang tidak ada alasan yang jelas mengapa mereka melakukannya. Mereka tentu tahu bahwa kebohongannya akan diketahui orangtuanya. Jadi, mengapa mereka harus berbohong?

Selanjutnya, sebagai orangtua, menjadi lebih sulit untuk mempercayai apa yang mereka katakan. Dan ketika anak terus berbohong, meskipun upaya terbaik telah dilakukan, orangtua bahkan mungkin mulai meragukan kemampuannya dalam mengajarkan hal baik pada anak.

Orangtua akan bertanya-tanya: Apakah saya mempersulit mereka untuk mengatakan yang sebenarnya? Apakah saya membiarkan mereka bermain dengan anak-anak yang salah? Jangan khawatir, sobat Gulalives tidak harus disalahkan untuk setiap kesalahan yang dibuat anak-anak.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa anak-anak yang baik dan jujur ​​tidak selalu mengatakan kebenaran, dikutip Yourtango:

1. Pilihan Mudah

(Ftoo: Globalpost)
(Ftoo: Globalpost)

Mereka melihat berbohong sebagai pilihan yang mudah dan aman untuk memecahkan masalah. Sebelum otak sepenuhnya berkembang, anak-anak kita tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang penyebab dan dampaknya, seperti halnya bisa dipahami orang dewasa. Pada saat berbohong, keuntungan sikap tersebut ​​melebihi risiko yang mungkin mereka tanggung, terutama karena anak-anak tidak berpikir risiko secara utuh.

Percakapan dalam batin anak, misalnya, “Kalau aku beritahu ibu bahwa aku sudah mengerjakan PR, aku bisa melanjutkan menonton film. Lagipula, mengerjakan PR membosankan.”

2. Takut Dihukum

(Foto: Mirror)
(Foto: Mirror)

Sebuah studi menunjukkan bahwa hukuman justru membuat anak mengulangi kebohongan. Mereka khawatir bahwa ketika mengatakan hal jujur, hukuman akan mereka terima.

Yang menyedihkan, ada anak yang semula jujur kemudian berlatih berbohong karena perlakuan orangtua yang menghukumnya saat ia jujur. Karena itulah, seringkali anak berbohong karena takut mendapat hukuman jika berkata jujur.

3. Daya Imajinasi Sangat Tinggi

(Foto: Funifi)
(Foto: Funifi)

Daya imajinasi yang sangat tinggi membuat anak tidak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan. Dia pun mengatakan hal-hal yang sebenarnya hanya khayalan, misal mengaku melihat hantu atau dapat melakukan pekerjaan tertentu.

4. Melindungi Teman

(Foto: Dnaindia)
(Foto: Dnaindia)

Keberadaan teman begitu penting bagi anak. Umumnya anak-anak berusaha ingin menyenangkan, membantu, atau melindungi temannya. Salah satu cara yang bisa dia lakukan adalah berbohong.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, kelompok bermain anak menjadi ukurannya dalam berperilaku. Jika anak bergaul dengan teman-teman yang suka berbohong, ia pun akan bertingkah laku sama sebab hanya dengan menunjukkan perilaku yang sama, anak merasa dapat diterima oleh kelompoknya.

5. Ingin Diperhatikan dan Dipuji

(Foto: Tlc)
(Foto: Tlc)

Ingin perhatian dan pujian kadang mendorong anak untuk mengarang cerita tentang dirinya, padahal hal tersebut tidak pernah terjadi. Misalnya, anak mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia berhasil menjuarai suatu lomba, baru dibelikan mainan baru yang mahal, atau akan diajak jalan-jalan ke luar negeri.

6. Tuntutan Orangtua Terlalu Tinggi

(Foto: Essentialkids)
(Foto: Essentialkids)

Terkadang orangtua memberikan tuntutan yang terlalu tinggi pada anak. Sementara, anak merasa tidak mampu untuk memenuhi tuntutan tersebut. Akibatnya, anak berbohong untuk mendapatkan penerimaan orangtua.

7. Mendapatkan keinginannya

(Foto: Newrepublic)
(Foto: Newrepublic)

Anak mengetahui bahwa dia tidak akan dapat memperoleh apa yang diinginkan jika bersikap jujur. Oleh karena itu, anak berbohong demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

8. Menutupi Rasa Bersalah

(Foto: Alysonschafer)
(Foto: Alysonschafer)

Tidak ada yang suka mengakui bahwa mereka salah, termasuk anak-anak. Bahkan, sebagian orang dewasa sulit bersikap jujur ​​ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang direncanakan. Mengapa berbohong akan menjadi lebih mudah untuk anak-anak kita? Hal ini terutama berlaku untuk anak-anak yang memiliki kecenderungan untuk membuat kesalahan lebih dari rata-rata.

Contoh dalam kehidupan nyata, “Kalau aku menyalahkan teman saya karena membiarkan jendela mobil terbuka lagi, pasti aku bisa menghindari omelan ibu karena kecewa pada aku.”

9. Ingat “Kebenaran” Versi Berbeda

(Foto: Vimeo)
(Foto: Vimeo)

Segala sesuatu dalam hidup adalah tentang persepsi. Kadang-kadang kita melakukan sesuatu karena berencana untuk melakukannya atau kita melakukannya begitu sering sehingga menjadi rutinitas. Hal ini terutama berlaku untuk anak-anak dan remaja dengan memori bekerja yang tengah berkembang.

Anak akan mudah meniru orangtua atau tayangan televisi. Jika orangtua melakukannya di hadapan anak, berarti secara tidak sadar orangtua telah memberikan contoh buruk kepadanya. Ketika anak melihat orangtuanya berbohong atau mengetahui orang-orang yang berbohong dari televisi, maka itulah “kebenaran” yang lain.

Dengan mengetahui alasan-alasan anak berbohong, hendaknya orangtua dapat menciptakan komunikasi yang lebih terbuka anak mendorong anak berkata dan bertindak jujur. Pasalnya, sikap jujur anak akan mampu menyelesaikan permasalahan secara lebih mudah dan tepat sasaran. Konsep moral anak akan terbangun lebih baik hingga menjadi pribadi yang positif di kemudian hari.

(Foto: Telegraph)
(Foto: Telegraph)

Jadi, bagaimana orangtua sebaiknya mengatasi aksi kebohongan anak-anak?

1. Menjadi Panutan yang Baik

Anak-anak kita mendengar dan melihat lebih banyak dari apa yang kita lakukan dan kita sadari. Dan, kebenaran harus dikatakan, kita semua memiliki batasan terhadap definisi kejujuran.

Di beberapa kesempatan, orangtua mungkin pernah berbohong dengan mengucapkan, “Maaf, saya terlambat ke kantor karena macet hari ini sangat parah” atau “Tidak sayang, kamu tidak terlihat gemuk dengan jins itu” pada rekan kerja maupun sahabat. Anak-anak ketika mendengar itu, mereka bisa menafsirkan bahwa tidak masalah untuk menghindari kejujuran.

2. Hadiah Atas Kejujuran

Ketika anak-anak mengatakan yang sebenarnya, apresiasi mereka dengan mengatakan terima kasih bahkan jika tentang sesuatu yang di luar dugaan kita. Dorong juga mereka untuk bebas mengeluarkan maksud yang sebenarnya.

Katakan pada mereka, “Sayang, ibu tidak yakin jika apa yang kamu katakan adalah hal jujur. Kalau kamu bilang yang sebenarnya sekarang, ibu tidak akan marah.” Kita tentu tidak ingin berbohong menjadi kebiasaan anak-anak. Ini semua tergantung pada orangtua dan situasi yang hendak dibangun.

3. Menunjukkan Simpati

Berbuat jujur tidak selalu mudah, dan ada beberapa alasan yang hampir bisa diterima mengapa anak-anak kita tidak jujur. Tentu, kita tidak memaafkan perilaku tersebut. Jika benar bahwa anak-anak berbohong adalah hal normal, maka orangtua yang baik harus membantu mereka belajar tentang kejujuran. Hal ini lebih penting daripada menghukum mereka karena tidak melakukan sesuatu yang bagi untuk orang dewasa pun cukup sulit berkomitmen dengan kejujuran.

LEAVE A REPLY